Skandal Tanah di Garut: Pemdes Samarang ‘Tantang’ Putusan Pengadilan, Ahli Waris Merugi Puluhan Miliar

Minggu, 28 September 2025 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garut, MNP – Kisruh hukum di Kabupaten Garut kembali memanas, Pemerintah Desa Samarang, Kecamatan Samarang, diduga secara terang-terangan mengabaikan putusan inkrah Pengadilan Negeri Garut Nomor 42/PDT/G/2014/PN.GRT Jo. Nomor 350/PDT/2015/PT.BDG yang telah berkekuatan hukum tetap sejak 26 Mei 2016.

Skandal ini menyeret dugaan penyalahgunaan wewenang dan pembangkangan hukum, dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp20 miliar.

Pengaduan resmi dilayangkan oleh Yopi Malik Muntaha, kuasa ahli waris almarhum Cep Yoyo Bin H. Sobandar, kepada Kapolres Garut pada 21 Agustus 2025.

Dalam surat tersebut, ahli waris menegaskan bahwa mereka adalah pihak yang dimenangkan oleh putusan pengadilan, namun hak-haknya dirampas secara sepihak oleh Pemdes Samarang melalui surat resmi Nomor 594/08/Ds/2025 yang dikeluarkan pada 24 Februari 2025.

Langkah Pemdes Samarang ini dinilai tidak hanya melawan hukum, tapi juga merendahkan wibawa pengadilan serta aparat penegak hukum yang sebelumnya telah mengeluarkan SP3 Nomor S.Tap/04/I/2021/Reskrim terkait perkara serupa.

Dasar Hukum yang Dilanggar

1. Pasal 1917 KUHPerdata: Menegaskan bahwa putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap wajib dihormati dan dijalankan.

2. Pasal 421 KUHP: Penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat yang berakibat pada perampasan hak orang lain, dengan ancaman pidana penjara 2–8 tahun.

3. Pasal 1365 KUHPerdata: Perbuatan melawan hukum yang merugikan pihak lain, mewajibkan pelaku mengganti kerugian.

Kerugian Fantastis: Rp20 Miliar!

Akibat tindakan yang diduga melawan hukum tersebut, ahli waris almarhum Cep Yoyo mengklaim mengalami kerugian material dan immaterial yang mencapai Rp20 miliar.

Nilai ini mencakup hilangnya hak kepemilikan tanah, potensi ekonomi yang lenyap, serta kerugian psikologis akibat tarik-menarik hukum yang berlarut-larut lebih dari 9 tahun.

“Ini bukan hanya masalah hak waris, tapi pelecehan terhadap hukum yang sudah inkrah. Kerugian kami mencapai Rp20 miliar, dan kami menuntut keadilan!” tegas Yopi Malik Muntaha dalam surat pengaduannya.

Tuntutan kepada Kepolisian

Dalam laporannya, ahli waris mendesak Kapolres Garut untuk:

1. Menerima dan menindaklanjuti laporan sesuai hukum.

2. Melakukan penyelidikan atas dugaan tindak pidana penyalahgunaan wewenang oleh aparatur Pemdes Samarang.

3. Menjamin pemulihan hak-hak hukum ahli waris sebagaimana telah diputuskan pengadilan.

Pertaruhan Wibawa Hukum di Garut

Kasus ini menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum. Jika dibiarkan, tindakan Pemdes Samarang berpotensi menjadi preseden buruk: pejabat publik seenaknya mengabaikan putusan inkrah dan SP3 yang sudah jelas sah secara hukum.

Ahli waris mengingatkan, apabila aparat tidak bergerak, bukan hanya Rp20 miliar yang hilang, tetapi juga kepercayaan publik terhadap supremasi hukum di Garut.

Loading

Penulis : M. Karno

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Kades Nagrak Diduga Diamankan Polisi, Terkait Kasus Lahan Summarecon
11 Hektare atau 1,1 Hektare? Penasehat Hukum Desak Kapolda Kalteng Klarifikasi Data Karhutla Hayaping
Fordayak Minta Penanganan Warga yang Diproses Kasus Ladang Dilakukan Bijak
Modus Hapus Berita Daring, Dua Oknum Wartawan Gadungan Diamankan di Tanjung Bintang 
Bupati Jeneponto Hadiri Penandatanganan Kerja Sama Desa Binaan Imigrasi
AMAN Barito Timur Desak Keadilan bagi Peladang Tradisional di Tengah Gelombang Penegakan Hukum Karhutla
Fantastis! Polsek Bayongbong Berhasil Sita 76.321 Butir Obat Keras
Bias Layar Soroti Penahanan Dua Petani Hayaping, Dorong Penyelesaian Humanis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 18:33 WIB

Kades Nagrak Diduga Diamankan Polisi, Terkait Kasus Lahan Summarecon

Selasa, 29 September 2026 - 16:16 WIB

11 Hektare atau 1,1 Hektare? Penasehat Hukum Desak Kapolda Kalteng Klarifikasi Data Karhutla Hayaping

Selasa, 29 September 2026 - 16:06 WIB

Fordayak Minta Penanganan Warga yang Diproses Kasus Ladang Dilakukan Bijak

Selasa, 29 September 2026 - 13:21 WIB

Modus Hapus Berita Daring, Dua Oknum Wartawan Gadungan Diamankan di Tanjung Bintang 

Selasa, 29 September 2026 - 13:09 WIB

Bupati Jeneponto Hadiri Penandatanganan Kerja Sama Desa Binaan Imigrasi

Berita Terbaru

Berita terbaru

Kades Nagrak Diduga Diamankan Polisi, Terkait Kasus Lahan Summarecon

Selasa, 29 Sep 2026 - 18:33 WIB

Berita terbaru

Bupati Jeneponto Hadiri Penandatanganan Kerja Sama Desa Binaan Imigrasi

Selasa, 29 Sep 2026 - 13:09 WIB