Mata Air Kuta dan Karangsari, Oase Penyelamat Krisis Air Warga Pemalang

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PEMALANG, MNP – Musim kemarau panjang yang bikin tanah retak dan sumur warga berubah jadi debu tidak menyurutkan harapan hidup di beberapa sudut selatan Kabupaten Pemalang.

Di tengah status darurat kekeringan yang melanda 30 desa, ada kisah penyemangat yang datang dari gemercik air jernih di Desa Kuta, kecamatan Belik dan mata air Lungsir di Desa Karangsari, kecamatan Pulosari.

Dua wilayah ini mendadak jadi pusat perhatian sekaligus oase paling dicari. Saat daerah lain harus menunggu mobil tangki bantuan datang mengantre berjam-jam, aliran air dari celah bebatuan dan akar pohon di Kuta dan Karangsari seolah tak kenal kata surut.

Di Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, sumber mata air Lungsir berdiri kokoh di tepi jalan raya. Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana puluhan jerigen dan mobil pengangkut bolak-balik mengisi kehidupan setiap hari.

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kabupaten Pemalang Agus Ikmalludin mengatakan, dari dua mata air tersebut, pihaknya sudah mendistribusikan air bersih ke beberapa titik krisis air bersih sebanyak 2.058.000 liter.

“Selama ini pengambilan dari dua mata air di Kuta dan Karangsari berjalan lancar tidak mengalami kendala, angka sebesar itu untuk droping dari tanggal 24 juni sampai dengan 27 juli 2026, Satu hari rata-rata bisa mencapai 25 rit,” jelas Agus, Selasa (28/7).

BPBD Pemalang memprediksi kemarau panjang yang menyebabkan Kekeringan di berbagai wilayah di kabupaten Pemalang, akan berlangsung hingga Oktober nanti.

Kepala BPBD Pemalang menegaskan bahwa penanaman dan pemeliharaan pohon secara rutin adalah kunci utama untuk menyelamatkan wilayah dari bencana kekeringan jangka panjang. Langkah hijau ini berfungsi menjaga cadangan air tanah dan memperbaiki ekosistem alam.

Agus menyebut, akar berfungsi menyerap dan menyimpan air hujan di dalam tanah, perawatan berkelanjutan Menanam saja tidak cukup, warga wajib merawat pohon hingga tumbuh besar.

“Langkah ini mencegah krisis air bersih saat musim kemarau tiba, kami mengajak masyarakat untuk aktif melakukan penghijauan di lahan kosong sekitar tempat tinggal,” tutupnya.

Loading

Penulis : Ragil

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Komite SMAN 3 Kota Tasikmalaya Ajak Orang Tua Diperkuat Pengawasan
DPRD Bartim Cek Lokasi Karhutla Hayaping: Klaim 11 Hektare Dipertanyakan, Hasil Pantauan Sekitar 1 Hektare
Dampak Koalisi Gemuk, Anggota DPRD Kabupaten Bogor Enggan Dukung Petisi 26
Polsek Malangbong Serahkan Tersangka Kasus Curas ke Polres Tangerang
Menolak Lupa G30S: Belajar Sejarah Secara Utuh untuk Menjaga Persatuan Bangsa
Tinggal di Gubuk Reyot Dekat Pusat Pemerintahan, Kasus Siti Nuraenun Jadi Cermin Evaluasi Data Bansos
TBBR Ultimatum Polres Bartim: Bebaskan Dua Peladang Hayaping, Buka Sumber Data 11 Hektare
Saat Air Datang, Harapan Kembali Mengalir: TNI Salurkan Air Bersih untuk 450 Warga Sukarame

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 18:02 WIB

Komite SMAN 3 Kota Tasikmalaya Ajak Orang Tua Diperkuat Pengawasan

Rabu, 30 September 2026 - 17:51 WIB

DPRD Bartim Cek Lokasi Karhutla Hayaping: Klaim 11 Hektare Dipertanyakan, Hasil Pantauan Sekitar 1 Hektare

Rabu, 30 September 2026 - 13:00 WIB

Dampak Koalisi Gemuk, Anggota DPRD Kabupaten Bogor Enggan Dukung Petisi 26

Rabu, 30 September 2026 - 10:40 WIB

Polsek Malangbong Serahkan Tersangka Kasus Curas ke Polres Tangerang

Rabu, 30 September 2026 - 10:33 WIB

Menolak Lupa G30S: Belajar Sejarah Secara Utuh untuk Menjaga Persatuan Bangsa

Berita Terbaru

Berita terbaru

Komite SMAN 3 Kota Tasikmalaya Ajak Orang Tua Diperkuat Pengawasan

Rabu, 30 Sep 2026 - 18:02 WIB

Berita terbaru

Polsek Malangbong Serahkan Tersangka Kasus Curas ke Polres Tangerang

Rabu, 30 Sep 2026 - 10:40 WIB