ENREKANG, MNP —- Persoalan sampah di Kabupaten Enrekang kembali menjadi sorotan publik. Isu ini dianggap vital karena menyangkut kesehatan, kebersihan, dan wajah kota.
Berbagai keluhan warga, kritik lewat media sosial, hingga puisi sindiran “Sampah Serapah” menunjukkan bahwa masyarakat sudah tidak bisa lagi menunggu.
Pemerintah daerah merespons dengan menerima bantuan 1 unit Dump Truck Sampah dari CSR Bank Sulselbar Cabang Enrekang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, DLH telah mengoperasikan 15 unit armada sejak 2025. Bupati Enrekang H. Muh. Yusuf Ritangnga mengakui salah satu kendala adalah armada yang sudah tua dan keterbatasan bahan bakar.
“Untuk itu, bantuan satu unit Dump Truck sampah diharapkan bisa mengurai persoalan sampah yang selama ini menjadi sorotan,” kata Yusuf Ritangnga saat bertemu Direktur Bank Sulselbar Cabang Enrekang, Hasdiana, Kamis 6/8/2026.
Bupati juga menegaskan telah meminta DLH untuk memberi pelayanan maksimal. Namun di tengah upaya penambahan armada, kritik dari masyarakat terus mengalir.
Tokoh masyarakat Dr. Siswanto Rawali menilai persoalan utama bukan hanya uang dan truk.
“Faktor utama masalah sampah itu kepedulian dan kehadiran pemimpin. Masalah uang dan armada urutan ke sekian. Byk solusi penyelesaian masalah walau tanpa uang,” ujarnya di grup WhatsApp Generasi Baru Massenrenpulu.
Senada, Nurdin Nanda juga menyoroti mentalitas “menunggu anggaran”. “Kl slalu mngedepnkn uang sbg alsan ut tdk berbuat, maka bismi di ukur kompetensinya, Kapabilitasnya, kepeduliannya, terlebih komitmen dan keberpihaknnya..” tulisnya.
Bagi warga, komitmen dan aksi nyata lebih penting dari sekadar seremonial. Selain armada, Bank Sulselbar juga akan membantu penataan kota melalui lampu hias dari dana CSR.
Ini diapresiasi karena menyangkut keindahan kota. Tetapi warga menekankan, Enrekang butuh kota yang bersih dulu baru cantik. Tanpa sistem pengelolaan sampah yang benar, lampu hias saja tidak cukup.
Ke depan, publik berharap ada 3 langkah konkret: 1. Evaluasi total sistem pengangkutan sampah, 2. Keterbukaan data titik penumpukan dan jadwal angkut, 3. Libatkan masyarakat dan sekolah dalam gerakan bersih.
Karena sampah adalah masalah bersama. Jika tidak diselesaikan dari sekarang, “Sampah Serapah” hari ini bisa jadi krisis lingkungan esok hari.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan