ENREKANG, MNP – Kondisi memprihatinkan kembali terjadi di Pasar Baraka, Kabupaten Enrekang. Tumpukan sampah di depan gardu pasar sudah menutupi akses jalan dan membuat para pedagang tidak nyaman berjualan.
Bau menyengat dan lalat beterbangan menjadi pemandangan sehari-hari. Ironisnya, ini bukan kejadian pertama, melainkan sudah berulang kali terjadi tanpa ada solusi permanen.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh H. Banteng.K, Mantan Ketua DPRD Kabupaten Enrekang. Ia menyayangkan pembiaran di pusat ekonomi rakyat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Depan gardu pasar Baraka kasian penjualnya sudah tertutupi sampah sudah beberapa kali pasar,” ujarnya.
Menurutnya, pasar adalah wajah daerah dan tempat mencari nafkah masyarakat kecil. “Pasar itu urat nadi ekonomi. Kalau pasarnya kotor, bagaimana mau maju,” tegas H. Banteng.
Keluhan serupa juga datang dari warga dan pedagang. Mereka mendesak Dinas Lingkungan Hidup dan pengelola pasar untuk segera bertindak.
Permintaan mereka sederhana, perketat jadwal pengangkutan, sediakan kontainer yang memadai, dan siagakan petugas kebersihan setiap hari pasar.
Jangan sampai pasar yang seharusnya jadi sumber pendapatan justru berubah menjadi sumber penyakit.
Menjawab keresahan itu, Wakil Bupati Enrekang Andi Tenri Liwang akhirnya buka suara. Ia mengakui persoalan sampah memang menjadi isu paling banyak dikeluhkan masyarakat beberapa waktu terakhir.
“Keluhan mengenai keterlambatan pengangkutan hingga penumpukan sampah di sejumlah titik menjadi tantangan yang kini tengah dihadapi Pemerintah Kabupaten Enrekang,” katanya, Rabu (5/8/2026).
Wabup membeberkan 3 akar masalah utama. Pertama, keterbatasan armada.
“Kondisi armada yang ada saat ini memang menjadi tantangan tersendiri. Karena itu pemerintah daerah merencanakan penambahan armada baru agar pelayanan pengangkutan sampah bisa lebih optimal,” ungkapnya.
Namun pengadaan masih menyesuaikan kemampuan keuangan daerah. Kedua, pasokan BBM. Pemkab berencana berkoordinasi dengan SPBU agar kendaraan pelayanan publik seperti mobil sampah, ambulans, dan pemadam dapat prioritas khusus.
Ketiga, sistem pengolahan. Saat ini Pemkab masih menunggu perizinan TPS3R. Keberadaannya dianggap krusial karena bisa mengurangi volume sampah sebelum diangkut ke TPA Karrang yang jaraknya cukup jauh.
“Ketika TPS3R sudah beroperasi, beban pengangkutan ke TPA akan jauh berkurang karena sebagian sampah dapat dipilah dan dikelola lebih dulu,” jelas Andi Tenri Liwang.
Tak hanya perbaikan teknis, Pemkab juga akan menghidupkan kembali program bank sampah di tingkat kecamatan.
Wabup menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan armada dan fasilitas.
Kesadaran masyarakat untuk memilah dari rumah juga kunci. Di tengah keterbatasan itu, Pemkab juga menyampaikan permohonan maaf.
“Saya turun langsung melakukan pemantauan dan melihat petugas masih bekerja sampai sekitar pukul dua dini hari. Ini menunjukkan bahwa mereka tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.
Bagi Enrekang, persoalan sampah hari ini adalah ujian. Di satu sisi ada desakan keras dari tokoh dan warga agar pasar bersih. Di sisi lain ada keterbatasan nyata yang diakui pemerintah.
Publik kini menunggu, apakah janji penambahan armada, BBM khusus, dan TPS3R benar-benar jadi solusi, atau Pasar Baraka dan titik lain akan kembali tenggelam dalam timbunan sampah.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan