Sempadan Hilang, Ketika PSDA Menjadi Bagian dari Bencana di Citanduy

Jumat, 11 April 2025 - 17:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Di sepanjang bantaran Sungai Citanduy, bayangan masa lalu masih tertinggal.

Sungai yang dulu jernih, mengalirkan kehidupan bagi petani, nelayan darat, hingga warga yang mandi dan mencuci di alirannya, kini menjadi saksi bisu atas pengabaian yang sistematis.

Kerusakan sungai ini bukan terjadi dalam semalam. Ini adalah akumulasi dari satu hal yang paling fatal: pembiaran yang disengaja oleh institusi yang justru seharusnya melindunginya — Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA).

Hal itu dikatakan Hari nurdin dari Aktivis Mahasiswa yang menyebut hari ini, pemukiman liar berdiri hanya beberapa langkah dari bibir sungai.

“Tidak ada lagi ruang hijau yang berfungsi menyerap air. Setiap musim hujan, Citanduy meluap. Rumah-rumah warga terendam, sawah gagal panen, dan air limbah memenuhi jalan,” kata Hari, Jumat (11/04/2025).

Namun ironisnya, di balik semua ini, tak satu pun penegakan aturan yang nyata terlihat dari PSDA. Yang ada justru pembiaran demi pembiaran.

Padahal, negara telah menegaskan dalam berbagai regulasi bahwa sempadan sungai adalah zona yang harus steril dari bangunan.

Melalui Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011, garis sempadan sungai ditetapkan sebagai batas mutlak demi menjaga keselamatan dan kelestarian sungai.

Selain itu, UU No. 17 Tahun 2019 juga menggariskan kewajiban pemerintah daerah untuk melindungi fungsi ekologis dan sosial sumber daya air.

“Tapi semua ini seolah hanya menjadi formalitas dalam tumpukan dokumen di kantor. Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. PSDA gagal menegakkan batas,” cetusnya.

Hari menyindir, semua pihak diam saat sempadan digerus menjadi tempat tinggal. Mereka tak hadir saat masyarakat mengadu soal pencemaran air. Mereka absen ketika ekosistem Citanduy mati satu per satu.

Dan di balik keheningan itu, muncul dugaan yang jauh lebih menyakitkan: apakah ini kelalaian, atau justru disengaja?

“Apakah pembiaran ini terjadi karena lemahnya kapasitas, atau karena ada kepentingan-kepentingan lain yang bermain di sempadan sungai? ungkapnya.

Menurutnya, jika Dinas PSDA terus gagal menjalankan tanggung jawabnya, maka mereka bukan sekadar lalai. Mereka adalah bagian dari bencana itu sendiri. Mereka bukan hanya menelantarkan sungai, tapi menelantarkan hidup ribuan warga yang bergantung padanya.

“Citanduy tidak sedang mati karena alam. Ia sedang dibunuh oleh sistem yang membiarkan pelanggaran terjadi, oleh pejabat yang lebih memilih diam daripada bertindak. Dan yang membayar harganya — selalu rakyat,” tandas Hari.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Diduga Tumpang Tindih, Proyek Klaim CV BK Mengarah pada Tanggung Jawab Perbaikan CV CN
Ketua IWO Inhu Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Dugaan Penganiayaan Warga di Lahan Eks PT SAL
Tekan Angka Stunting, Puskesmas Bungursari Gelar Pembekalan PMT Berbahan Pangan Lokal
Turun ke Sawah dan Tinjau Jalan Desa, Bupati Inhu Perkuat Swasembada Pangan dari Kuala Cenaku
Perkuat Zero HALINAR, Lapas Cipinang Hadirkan SILA sebagai Solusi Komunikasi Resmi Warga Binaan
Kenali dan Gauli Alam Kita, Ketahui Manfaat Tanaman Herbal di Sekeliling Rumah
Puluhan Wartawan Datangi SMPN 1 Petarukan, Ini Penjelasannya
Pria Asal Cigantang Tasikmalaya Ditemukan Tak Bernyawa, Polisi Dalami Motif Korban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:36 WIB

Diduga Tumpang Tindih, Proyek Klaim CV BK Mengarah pada Tanggung Jawab Perbaikan CV CN

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:55 WIB

Ketua IWO Inhu Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Dugaan Penganiayaan Warga di Lahan Eks PT SAL

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:34 WIB

Tekan Angka Stunting, Puskesmas Bungursari Gelar Pembekalan PMT Berbahan Pangan Lokal

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:01 WIB

Turun ke Sawah dan Tinjau Jalan Desa, Bupati Inhu Perkuat Swasembada Pangan dari Kuala Cenaku

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:48 WIB

Perkuat Zero HALINAR, Lapas Cipinang Hadirkan SILA sebagai Solusi Komunikasi Resmi Warga Binaan

Berita Terbaru