Tasikmalaya, MNP – Curah hujan yang meningkat di bulan suci Ramadhan 1444 H menghujam kota Tasikmalaya.
Akibatnya, debit air sungai Citanduy naik meluap dan itu menimbulkan keresahan bagi warga yang berada di sekitar wilayah bantaran sungai.
Sebagai wujud rasa kepedulian terhadap lingkungan, Yayasan Padi (Peradaban Demokrasi Indonesia) menggelar aksi damai dengan memasang beberapa sepanduk di tempat strategis di kota Tasikmalaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Iwan Restiawan Ketua Umum Yayasan Padi mengatakan, daerah yang sering dilanda banjir jika curah hujan meninggi salah satunya jalur simpang lima yang masuk kategori sungai Citanduy.
Menurut Iwan, pihak procit BBWS sudah bertahun tahun tidak pernah datang untuk menanggulangi banjir tersebut.
Dia menyebut, yang paling fatal urusan maslah sempadan yang dipersempit di pakai bangunan oleh salah satu oknum masyarakat dan dipakai usaha pribadi.
“Itu nempel tidak ada jarak antara bangunan dengan Citanduy, padahal itu dikasih ruang untuk sempadan antar 3 sampai dengan 5 meter untuk sempadan,” ucapnya, Kamis (23/03).

Yayasan Padi sendiri sudah merasa bosan dengan sering melapor ke dinas atau intansi terkait, bahkan masyarakat juga ormas yang lain sudah melaporkan tetapi tidak ada tanggapan sama sekali.
“Artinya begini, apakah Tasikmalaya sangat mungkin atau tidak ketika Gubernur tidak tahu urusan ini, sehingga yang dibawah seperti dinas PUPR, Dinas Pengairan PSDA Provinsi seolah olah tidak ada teguran sama sekali,” kata Iwan.
Lantaran itu, para oknum merasa leluasa melakukan pelanggaran dengan memperkosa sungai yang ada di Citanduy, maksudnya bantaran kali.
“Yayasan Padi akan terus melakukan aksi protes kalau situasinya masih seperti itu dan pihak Padi akan pasang 20 spanduk maksimal sampai besok,” tandasnya. (Lex)
![]()









Tinggalkan Balasan