TASIKMALAYA, MNP – Kondisi aliran Sungai Cikunten 2 di wilayah Kelurahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, kini memprihatinkan.
Sungai kecil yang dahulu dikenal tak pernah kering meski tanpa hujan, kini justru sering kehilangan aliran air secara tiba-tiba saat musim kemarau atau ketika hujan tidak turun beberapa hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan di lokasi menunjukkan, dasar sungai tampak dangkal dengan genangan air keruh di beberapa titik. Rumput liar tumbuh lebat di bantaran sungai, sementara aliran air yang seharusnya mengalir tampak tersendat bahkan terputus.
Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu, ketika Cikunten 2 masih menjadi sumber air andalan warga, terutama bagi petani ikan.
“Dulu walaupun tidak hujan, air di Cikunten 2 tetap mengalir. Sekarang, kalau tidak hujan beberapa hari saja, airnya bisa langsung habis,” ujar salah seorang petani ikan setempat, Ubad Minggu (11/01/2026).
Ia mengaku kesulitan mempertahankan kolam ikan miliknya karena pasokan air yang tidak menentu.
Cikunten 2 selama ini berfungsi sebagai saluran air penting bagi warga Cigantang, khususnya pembudidaya ikan air tawar.
Puluhan kolam ikan yang berada di sekitar aliran sungai sangat bergantung pada debit air alami. Namun dengan kondisi sungai yang kerap mengering, para petani terpaksa mengurangi jumlah tebar benih, bahkan sebagian menghentikan sementara aktivitas budidaya.
Menurut warga, perubahan kondisi aliran sungai diduga akibat beberapa faktor, mulai dari pendangkalan, berkurangnya daerah resapan air, hingga alih fungsi lahan di sekitar hulu.
Pembangunan permukiman dan berkurangnya vegetasi hijau disinyalir membuat air hujan tidak lagi tersimpan dengan baik, sehingga debit sungai cepat turun saat hujan berhenti.
“Kami khawatir kalau ini terus dibiarkan. Sungai ini bukan hanya untuk ikan, tapi juga untuk lingkungan sekitar. Kalau kering, dampaknya ke mana-mana,” kata warga lainnya.
Selain berdampak pada ekonomi petani ikan, mengeringnya Cikunten 2 juga memunculkan kekhawatiran lingkungan.
Sungai yang tidak mengalir berpotensi menjadi sarang sampah dan menimbulkan bau tidak sedap. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan memperparah kerusakan ekosistem sungai.
Warga dan petani ikan berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah. Mereka meminta dilakukan normalisasi sungai, penataan bantaran, serta upaya pelestarian daerah hulu agar fungsi Cikunten 2 dapat kembali seperti semula.
“Harapannya ada solusi jangka panjang, bukan hanya sementara. Sungai ini sangat vital bagi kami,” pungkas seorang petani ikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah penanganan kondisi Cikunten 2.
Namun warga berharap keluhan ini segera ditindaklanjuti demi keberlangsungan usaha perikanan dan kelestarian lingkungan di wilayah Cigantang.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan