Penulis: apt. Gina Septiani Agustien, M.Farm
Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bungursari, Kota Tasikmalaya, terdapat potensi agraris yang melimpah berupa budidaya pisang lokal. Komoditas ini tumbuh sepanjang tahun di pekarangan dan lahan pertanian skala kecil. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi segar tanpa proses pengolahan bernilai tambah.
Di sisi lain, para kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di wilayah yang sama menghadapi tantangan serius: prevalensi stunting tercatat 11,2% serta sistem manajemen pelayanan kesehatan yang belum optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari kontras antara potensi sumber daya alam dan permasalahan kesehatan masyarakat tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana kelimpahan pisang lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan intervensi gizi berbasis pangan fungsional?

Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Perjuangan Tasikmalaya menawarkan suatu pendekatan integratif, yaitu penerapan teknologi fermentasi yoghurt ekstrak pisang yang dikombinasikan dengan penguatan sistem manajemen Posyandu berbasis data kesehatan.
Pemilihan teknologi yoghurt didasarkan pada bukti ilmiah bahwa proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat mampu meningkatkan nilai gizi, memperpanjang masa simpan, serta menghasilkan produk pangan fungsional yang berperan dalam kesehatan saluran cerna.
Ekstrak pisang lokal, yang mengandung karbohidrat, serat pangan, vitamin, dan mineral, berfungsi sebagai substrat yang kompatibel dalam proses fermentasi tersebut.
Lebih dari sekadar produk, yoghurt ekstrak pisang menjadi media edukasi gizi yang aplikatif, karena kader dapat mendemonstrasikan secara langsung produksi pangan sehat berbasis bahan lokal dengan biaya terjangkau.
Namun demikian, program ini tidak hanya berfokus pada aspek produksi. Berdasarkan identifikasi masalah bersama mitra, terdapat dua kelemahan utama yang perlu diatasi secara simultan.
Pertama, keterbatasan kompetensi teknis kader dalam teknologi pengolahan pangan fungsional. Kedua, lemahnya sistem pencatatan, pelaporan, dan perencanaan kegiatan Posyandu yang belum berbasis data. Padahal, manajemen yang terstruktur merupakan prasyarat bagi efektivitas layanan kesehatan primer berbasis komunitas.
Oleh karena itu, intervensi yang dirancang bersifat holistik. Kader tidak hanya dilatih untuk memproduksi yoghurt sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang mencakup tahapan ekstraksi, pasteurisasi, fermentasi, dan pengemasan.
Mereka juga didampingi untuk menerapkan format pencatatan dan pelaporan yang disederhanakan namun berbasis indikator kesehatan.
Integrasi kedua aspek ini diharapkan mampu mendorong terciptanya pemberian makanan tambahan (PMT) yang berasal dari hasil olahan mandiri, sekaligus meningkatkan akurasi data sasaran intervensi.
Dari perspektif ekonomi, teknologi fermentasi memberikan nilai tambah pada komoditas pisang yang selama ini hanya dijual dalam bentuk segar dengan harga rendah dan daya simpan pendek.
Kader yang menguasai teknologi ini berpotensi mengembangkan unit usaha mikro berbasis kesehatan, sehingga tidak hanya berperan sebagai relawan, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi produktif. Inilah esensi pemberdayaan berkelanjutan: kapasitas lokal untuk menciptakan solusi gizi secara mandiri, tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal.
Program ini menargetkan capaian terukur, yaitu 80% dari total 29 Posyandu di wilayah Bungursari mampu memproduksi yoghurt ekstrak pisang secara mandiri sesuai SOP, tersusunnya dokumen standar operasional prosedur, serta meningkatnya ketepatan dan kelengkapan laporan Posyandu hingga 90%.
Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan teknis dan manajerial.
Secara makro, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 2 (Tanpa Kelaparan), SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Lebih jauh, program ini merupakan wujud implementasi hasil riset perguruan tinggi ke dalam solusi nyata di tingkat masyarakat, sesuai dengan amanat Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Asta Cita keempat tentang penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan kesehatan.
Pada akhirnya, transformasi yang diharapkan dari kegiatan ini bersifat paradigmatik: menggeser posisi kader dari sekadar penerima manfaat (beneficiary) menjadi pemilik manfaat (owner) sekaligus agen perubahan.
Fermentasi pisang menjadi yoghurt bukan sekadar proses biokimia, melainkan metafora dari proses pemberdayaan itu sendiri. Diperlukan waktu, kondisi terkontrol, dan agen hayati yang tepat—sama halnya dengan membangun kemandirian gizi masyarakat.
Tasikmalaya, 23 juli 2026.
Bersama kader, kita fermentasi masa depan
![]()
Penulis : Gina Septiani Agustien, M.Farm









Tinggalkan Balasan