TASIKMALAYA, MNP — UPTD Puskesmas Bungursari menggelar kegiatan peningkatan kapasitas kader kesehatan yang berlangsung di Aula Puskesmas Bungursari, Kamis (23/07/2026). Acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala UPTD Puskesmas Bungursari.
Pengelola Kesehatan Jiwa sekaligus Penanggung Jawab (PJ) Klaster 4 Puskesmas Bungursari, Gina Nurahida, S.Kep., M.KM., menjelaskan, kegiatan gabungan ini untuk meningkatkan pemahaman para kader dalam mengenali serta menangani penyakit menular, sekaligus memberikan penyuluhan mengenai penentuan Triase (skala prioritas penanganan medis).
Kegiatan ini diikuti oleh 29 kader perwakilan dari setiap Posyandu yang tersebar di dua wilayah, yakni Kelurahan Bungursari dan Kelurahan Cibunigeulis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain pembekalan medis, acara ini juga diisi dengan kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa Universitas Perjuangan (Unper) berupa pelatihan pembuatan yogurt bagi warga.
Dalam pemaparannya, Gina menekankan pentingnya pemahaman terkait Triase agar masyarakat tidak lagi salah dalam menentukan kapan harus berobat ke Unit Gawat Darurat (UGD/IGD) atau ke Poliklinik rawat jalan.
“Selama ini sering terjadi kekeliruan dalam memanfaatkan fasilitas. Contohnya, pasien sakit gigi datang ke IGD jam 15.30 WIB. Hal itu kurang tepat karena kasus sakit gigi non-darurat seharusnya ditangani oleh dokter gigi di Poliklinik Gigi pada jam operasional,” jelas Gina.
Sebaliknya, untuk kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera—seperti pasien stroke atau kejang berulang—keluarga pasien imbau untuk langsung membawa pasien ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat, bukan sekadar memanggil petugas kesehatan ke rumah.
“Harapannya, kegiatan ini dapat menambah wawasan kader sehingga mereka bisa menjadi penyambung lidah tenaga kesehatan dalam mengedukasi masyarakat secara lebih luas,” tambahnya.
Hadir pula sebagai narasumber, dr. Antoni Anugrah M. Sagala dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Antoni menyampaikan dua materi utama, yakni pemahaman Penyakit Menular Seksual (PMS) serta Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare.
dr. Antoni menegaskan bahwa kader memegang peranan kunci sebagai jembatan informasi antara fasilitas kesehatan dan warga.
“Kami tenaga medis tidak dapat mengawasi seluruh lapisan masyarakat secara langsung di Kelurahan Bungursari maupun Cibunigeulis. Oleh karena itu, kader dibekali pengetahuan awal agar dapat melakukan deteksi dini dan mengarahkan warga untuk dirujuk ke puskesmas,” ujarnya.
Mengenai Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Gonore (kencing nanah) hingga risiko komplikasi HIV, dr. Antoni mengingatkan pentingnya langkah pencegahan melalui perilaku hidup sehat serta penggunaan alat kontrasepsi (kondom) untuk mencegah penularan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu berkonsultasi kepada petugas medis jika mengalami gejala klinis tertentu.
“Penyakit menular seksual sering kali tidak bisa dilihat secara fisik. Apabila sudah timbul gejala, jangan ragu atau menutup diri. Segera ceritakan keluhan secara detail kepada petugas kesehatan. Kami menjamin kerahasiaan dan privasi pasien serta siap membantu penanganan hingga pulih,” tegas dr. Antoni.
![]()
Penulis : Mon/Hendrik
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan