Tasikmalaya, MNP – Rasa kecewa terlihat dari para peserta audiens baik dari Lembaga Bantuan Hukum Barisan Pejuang Demokrasi (LBH BAPEKSI) Kota Tasikmalaya maupun masyarakat.
Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Tasikmalaya terkait jalan rusak di jalan Kp. Bengkok, Cibatu, Cipeteuy, Kel. Sukalaksana, Kec. Bungursari yang sempat diblokir warga.
Diketahui sebelumnya, sudah tiga kali diadakan rapat. Pemkot serta Kecamatan sepakat bahwa jalan tersebut memang tidak layak dilalui armada truk bermuatan tambang pasir melebihi kapasitas menyebabkan polusi dan kerusakan serta jam operasional sampai sore.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mardi Guntara selaku Ketua LBH BAPEKSI mengaku sangat kecewa dengan penerimaan di Bale Kota, padahal audiensi ini resmi dan telah mengirim surat jauh-jauh hari kepada Wali Kota Tasikmalaya untuk mengagendakan.
Namun, sekarang LBH BAPEKSI dan warga malah diarahkan untuk mengikuti rapat yang di laksanakan di Aula Kantor Kecamatan Bungursari.
“Kami ini kan ingin bertemu Pak Wali Kota bukan Pak Camat. Ini adalah bentuk pembungkaman demokrasi, dimana saat warganya ingin menyampaikan aspirasi malah di intervensi oleh pihak pemkot,” ucap Mardi, Senin (19/05/2025).
Dengan dead lock nya audiensi, kini warga sudah tidak percaya lagi dengan Camat Bungursari dan ASDA III yang juga merupakan Kepala Dishub Kota Tasikmalaya.
Kekecewaan juga disampaikan Kepler Sianturi, SMM.G.M.A selaku Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kota Tasikmalaya dengan kinerja Pemkot karena tidak merealisasikan apa yang sudah disepakati dengan warga.
Namun fakta dilapangan beberapa kesepakatan hasil rapat yang dipimpin ASDA III tersebut tidak ada yang direalisasikan.
“Saya meminta Wali Kota Viman Alfarizi Ramadan untuk survey langsung ke jalan yang rusak, untuk membuktikan kebenaran dari aspirasi warga dan merealisasikan apa yang masyarakat disana minta,” tegas Kepler.
Senada, Hasbi selaku salah satu Tokoh Pemuda Cibatu atas nama warga merasa kecewa, serasa dianaktirikan, padahal ini sudah beberapa tahun dirasakan oleh warga.
“Aspirasi kami tidak pernah didengar, warga terkesan dianaktirikan oleh Pemkot Tasikmalaya. Padahal penderitaan warga disana itu jelas dan nyata terkait Polusi yang parah, jalan yang rusak, lalu lintas armada truk yang mengganggu karena beroperasi 24 jam non stop,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan