Tasikmalaya MNP – Warga Kp Cipari Tengah Kelurahan Mangkubumi Kota Tasikmalaya mengaku kecewa terhadap sikap apatis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR).
Pasalnya, warga menyoroti proyek Tembok Penahan Tebing (TPT) yang dikerjakan oleh CV Rezza Alamsyah Mandiri dengan anggaran Rp.91.934.000 sedangkan pekerjaan hanya sekitar 12 meter.
Padahal persoalan ini sempat diberitakan di media ini dengan judul Proyek TPT di Wilayah Cipari Diduga Over Budget, JPKP Mangkubumi: Anggaran Besar Volume Kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Util salah seorang warga masyarakat RT 02/07 Kp Cipari selaku pemerhati lingkungan menegaskan, dirinya selaku bagian dari kontrol sosial sangat menyayangkan kinerja Dinas yang tidak mau merespon pengaduan masyarakat terkait pekerjaan yang di duga over Bagdet.
“Menurut saya, anggaran hampir Rp 92 juta kalau diterapkan dengan baik mungkin mencapai 100 sampai 200 meter lebih, lantas kemana sisa anggaran dari proyek TPT tersebut dimakan siluman atau bagi bagi JAPREM,” cetus Util, Selasa (22/08/2023).
Tak hanya itu, Util juga menyinggung Proyek yang meninggalkan banyak kecurangan dari pemilik CV. Seperti pembangunan TPT serupa dengan dengan anggaran Rp 45.900.000 dikerjakan oleh pelaksana yang sama.
“Volume kurang lebih panjang 30 meter tinggi sekitar 1,2 cm dan diduga sengaja mengurangi volume pekerjaan, jadi sebenarnya apa fungsi pengawasan Dinas terkait,” tegas Util.
Dia membeberkan temuan kecurangan dari pihak pemborong, melalui keterangan saat dihubungi wartawan melalui WhatsApp tolong dicek kegiatan TPT Cipari tengah RT 02 RW 07 kelurahan Cipari kecamatan Mangkubumi.
Util menduga ada kejanggalan pelaksanaan kerja sesuai papan proyek yang awal itu kontrak terhitung Juni, namun setelah terjadi dinamika dan muncullah papan proyek baru pertanggal Juli.
“Yang saya tanyakan kepada pelaksana di lapangan saudara Takik mengatakan, ini adendum lain, kalau melalui adendum tidak ada indikasi mangkrak,” terang Util menirukan ucapan Takik.
Dijelaskannya pula, sesuatu hal wajar kalau terjadi dinamika karena penerima manfaat awal adalah warga Cipari Tengah, terus terjadi pergeseran titik lokasi ke Cipari Tongoh tanpa koordinasi konfirmasi ke pengurus setempat apalagi dengan warga.
Selain itu, Pihak pelaksana tidak pernah sosialisasi kepada masyarakat sehingga timbul riak, terus dibalik kembali kegiatan tersebut ke lokasi yang seharusnya dikerjakan
“Tetapi yang jadi permasalahan kenapa volume pekerjaan hanya segitu sedangkan anggaran besar,” tandas Util.
![]()
Penulis : Soni
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan