Lampung Selatan, MNP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan peserta didik, kini menuai sorotan tajam.
Salah satu dapur MBG yang berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Dapur MBG ini diduga menjadi ladang bisnis dan tidak sepenuhnya menjalankan prinsip transparansi serta keadilan dalam pendistribusian paket makanan kepada siswa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorotan ini mencuat setelah awak media melakukan konfirmasi langsung kepada Ananda, pihak dapur MBG, terkait paket makanan yang diterima siswa SMP Negeri 1 Sidomulyo, Kamis (18/12/2025).
Dalam keterangannya, Ananda membenarkan komposisi paket makanan yang diberikan kepada siswa, yakni Telur matang 2 butir, Pir 1 buah
Kelengkeng 4 butir, Roti 3 pcs dan Susu 3 pcs.
Namun, yang menjadi perhatian publik, paket tersebut dibagikan sekaligus untuk tiga hari (dirapel).
“Iya benar pak, langsung dirapel 3 hari, soalnya hari ini bagi rapor,” ujar Ananda kepada awak media.
Ia juga merinci biaya masing-masing item makanan diantaranya Rp6.000, Rp9.750, Rp4.600, Rp2.029 dan Rp5.499 dengan total keseluruhan mencapai Rp27.878, dan itu belum termasuk ongkos kirim.
Lebih lanjut, Ananda menyampaikan bahwa anggaran MBG berbeda-beda berdasarkan jenjang pendidikan.
“PAUD sampai kelas 3 SD kan beda pak, SD kelas 4 sampai SMP beda lagi,” katanya.
Namun pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan baru terkait logika anggaran dan kualitas distribusi.
“Coba logikanya mas, susu, roti, sama telur itu kalau dihitung berapa anggarannya? Porsi ini aja udah lebih dari sepuluh ribu, itu kenapa disilangin sama hari selanjutnya,” ucapnya.
Di sisi lain, keluhan datang dari wali murid SMPN 1 Sidomulyo. Salah satu wali murid mengungkapkan bahwa meskipun anaknya menerima tiga paket untuk tiga hari, isi paket tersebut tidak seragam.
“Anak saya dapat tiga paket, tapi dari tiga itu, ada satu paket yang tidak ada telur dan buah-buahannya. Jelas ini tidak sesuai,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ketidaksesuaian isi paket ini menimbulkan dugaan adanya pengurangan, ketidakkonsistenan, atau distribusi yang tidak terkontrol, padahal anggaran telah ditentukan dan bersumber dari dana negara.
Praktik pembagian paket secara dirapel, perbedaan isi paket, serta minimnya keterbukaan rincian anggaran menimbulkan dugaan bahwa program MBG di dapur tersebut tidak sepenuhnya berorientasi pada kepentingan gizi siswa, melainkan lebih condong pada efisiensi bisnis.
Padahal, MBG adalah program strategis nasional yang harus Transparan, Akuntabel, Tepat sasaran dan Mengutamakan kualitas gizi, bukan keuntungan.
Publik kini mendesak agar
Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan Instansi pengawas program MBG
Aparat pengawasan internal pemerintah segera turun tangan melakukan evaluasi dan audit, khususnya terhadap Pengelolaan dapur MBG Desa Sidomulyo Kesesuaian anggaran dengan realisasi Kualitas dan kelengkapan paket makanan serta Mekanisme distribusi kepada siswa.
Jika dugaan ini dibiarkan tanpa klarifikasi dan pengawasan, dikhawatirkan program yang seharusnya menyehatkan anak bangsa justru menjadi ajang bisnis berkedok bantuan sosial.
![]()
Penulis : Jun
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan