LAMPUNG SELATAN, MNP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam. Seperti SPPG Sidorejo 2 Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Diduga dalam mengirimkan paket MBG berupa nasi goreng tercium berbau tidak sedap ke SDN 05 Sidorejo dan memicu kekhawatiran serius terkait keamanan pangan, pengawasan mutu, serta kecukupan gizi siswa sekolah dasar.
Informasi awal diterima dari narasumber yang enggan disebutkan namanya, yang melaporkan bahwa paket MBG nasi goreng yang diterima pihak sekolah tercium bau basi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menindaklanjuti laporan itu, awak media langsung turun ke lokasi untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat.
Paket MBG yang diterima siswa berisi nasi goreng, satu telur goreng, satu tahu goreng, sedikit sayur acar, serta sepotong kecil buah semangka.
Beberapa paket dilaporkan mengeluarkan aroma tidak sedap, yang menimbulkan kekhawatiran sebelum makanan dikonsumsi oleh siswa.
Saat dikonfirmasi, Kepala SPPG Sidorejo 2, Putri Ayu Elvina, S.H., M.H., membenarkan adanya laporan makanan berbau basi pada sebagian porsi.
“Iya pak, betul. Tadi porsi kecil SDN 5, saya sudah konfirmasi ke kepala sekolahnya, ada yang berbau basi. Kita sudah konfirmasi untuk kita ganti makanan kering di hari Kamis. Kita sudah konfirmasinya dari pagi, sebelum siswa makan,” ujarnya, Rabu (11/02).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebelum makanan dikirim, pihak SPPG mengklaim telah melakukan uji organoleptik oleh ahli gizi.
“Untuk nasi memang sudah tercium bau basi ketika sampai ke sekolah-sekolah, itu benar. Tapi sebelum dikirim kita uji organoleptik dulu oleh ahli gizi. Namun untuk porsi kecil yang berbau, kami memohon maaf,” ucap Putri.
“Penanggulangannya, kami langsung menghubungi sekolah-sekolah agar makanan tidak dimakan dan akan diganti dengan makanan kering besok hari Kamis,” tambahnya.
SPPG Sidorejo 2 juga menyatakan akan mengevaluasi menu dan tidak lagi menggunakan menu nasi goreng untuk sementara waktu, serta menegaskan bahwa pengawasan makanan telah dilakukan sesuai SOP.
Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan kondisi nyata paket MBG yang diterima siswa, terutama jika ditinjau dari standar gizi seimbang yang menjadi tujuan utama program MBG.
Apakah paket tersebut benar-benar layak disebut “makan bergizi” untuk anak usia sekolah dasar, terlebih ketika muncul dugaan bau basi pada sebagian porsi.
Bagaimana makanan yang diklaim telah lulus uji organoleptik masih bisa berbau basi saat tiba di sekolah?
Apakah rantai distribusi, waktu pengiriman, dan penyimpanan benar-benar diawasi secara ketat? Sejauh mana SOP pengawasan pangan diterapkan secara konsisten?
Dan yang paling penting, siapa yang bertanggung jawab jika makanan tersebut sempat dikonsumsi siswa?
Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan kesehatan, gizi, dan kecerdasan anak bangsa, bukan justru menimbulkan kecemasan orang tua dan guru.
Kesalahan sekecil apapun dalam pengelolaan makanan anak berpotensi berdampak besar terhadap kesehatan dan keselamatan mereka.
Masyarakat kini menanti evaluasi menyeluruh dari pihak terkait, termasuk dinas pendidikan dan instansi pengawas pangan, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Transparansi, pengawasan ketat, dan komitmen pada kualitas bukan sekadar slogan—melainkan kewajiban mutlak ketika menyangkut makanan untuk anak-anak.
![]()
Penulis : Jun
Editor : Redi Setiawan










Inimah jad bahan buat membuka peluang korupsi ,karna dari sisi lain ekonomi masyarakat sangat terpuruk bahkan dirasakan lebih dari jaman covid tolong lihat kebijakan seperti ini.melihat kebawah ekonomi sangat lesu lebih baik kasihkan uangnya