TASIKMALAYA, MNP – Hembusan angin kencang yang dirasakan masyarakat Kota Tasikmalaya dan sejumlah wilayah Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir bukanlah kejadian luar biasa.
Berdasarkan analisis peta prakiraan angin lapisan 3.000 kaki (sekitar 900 meter) yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Jawa Barat saat ini berada pada jalur aliran angin baratan dengan intensitas cukup kuat. Sabtu 24 Januari 2026.
Pada peta tersebut, kecepatan angin di sepanjang selatan hingga barat Pulau Jawa terpantau mencapai 39 knot, atau setara sekitar 72 kilometer per jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski data tersebut merepresentasikan kondisi angin di lapisan atas atmosfer, energi angin dapat ditransfer ke permukaan, sehingga hembusannya terasa lebih kencang dari kondisi normal di darat.
BMKG memanfaatkan peta angin lapisan ini untuk membaca pola aliran udara regional yang sangat memengaruhi cuaca permukaan, terutama pada musim hujan.
Secara klimatologis, Januari merupakan puncak Muson Barat, yakni periode dominasi angin dari Benua Asia menuju wilayah selatan Indonesia hingga Australia.
Pola ini dipicu oleh perbedaan tekanan udara yang signifikan antara Asia yang bertekanan tinggi dan wilayah selatan yang bertekanan lebih rendah.
Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan angin bergerak lebih cepat, dan saat gradien tekanannya besar, intensitas angin pun meningkat.
Kondisi inilah yang saat ini terjadi, sehingga angin baratan mengalir cukup kuat melintasi Jawa Barat, termasuk Kota Tasikmalaya.
Karakter topografi Kota Tasikmalaya yang berbukit turut berperan memperkuat hembusan angin di permukaan.
Secara ilmiah, bentuk wilayah seperti ini dapat menimbulkan efek penyaluran dan percepatan angin, terutama ketika aliran kuat dari lapisan atas melewatinya.
Akibatnya, angin kencang dapat dirasakan meski tidak selalu disertai hujan lebat atau badai.
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika atmosfer musiman, bukan anomali cuaca.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap potensi dampak turunan, seperti pohon tumbang, baliho roboh, atau kerusakan pada bangunan ringan.
Pemantauan informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko dalam beberapa hari kedepan.
![]()
Penulis : Arrie Haryadi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan