TASIKMALAYA, MNP — Sebuah spanduk bernada satire bertuliskan “Selamat Datang Wisata Jalan Butut” menyambut setiap pelancong yang hendak menikmati hangatnya air panas Citiis di kaki Gunung Galunggung.
Tulisan itu bukan sekadar lelucon, melainkan tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya atas kontradiksi nyata.
Ya, potensi wisata yang melimpah namun dibiarkan terisolasi oleh infrastruktur jalan yang memprihatinkan, Minggu (05/04/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wisata Citiis yang berada di Desa Padakembang dikenal sebagai pemandian air panas alami yang bersumber langsung dari aktivitas vulkanik Gunung Galunggung.
Air panas tersebut menjadi daya tarik utama, ditambah suasana alami, area camping ground, serta jalur hiking yang kerap diburu wisatawan lokal saat akhir pekan.
Namun, di balik pesona tersebut, persoalan klasik justru terus membayangi: infrastruktur jalan yang memprihatinkan.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh sekitar 5 kilometer dari jalur utama dengan kondisi jalan sempit, rusak, bahkan di beberapa titik hanya cukup dilalui satu kendaraan.
Fakta di lapangan menunjukkan, kondisi ini bukan persoalan baru. Keluhan warga sudah berulang kali disuarakan.
Bahkan, dalam berbagai kesempatan, masyarakat secara terang-terangan menyayangkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap akses menuju destinasi tersebut.
Padahal, wisata Citiis terbukti mampu menarik kunjungan wisatawan secara konsisten, terutama di akhir pekan.
Ironisnya, di saat potensi ekonomi terbuka lebar, dukungan infrastruktur justru terkesan jalan di tempat. Padahal, sektor pariwisata menjadi salah satu tulang punggung penggerak ekonomi daerah, terutama di wilayah pedesaan seperti Padakembang.
Secara historis, kawasan Citiis awalnya merupakan wilayah yang dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Dengan luas mencapai sekitar 5 hektare dan fasilitas yang terus dibangun secara bertahap, tempat ini menjadi contoh nyata inisiatif lokal dalam mengangkat potensi wisata.
Namun, pengelolaan berbasis masyarakat tanpa dukungan serius dari pemerintah berisiko stagnan. Tanpa perbaikan akses jalan, potensi peningkatan jumlah wisatawan bisa terhambat.
Lebih jauh, kondisi ini juga berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung, terutama saat musim hujan ketika jalan menjadi licin dan rawan longsor.
Spanduk “jalan butut” yang terpampang di pintu masuk seolah menjadi bentuk kritik sosial yang telanjang bahwa masyarakat sudah lelah menunggu perubahan. Ini bukan lagi soal promosi wisata, melainkan soal komitmen pembangunan.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin wisata Citiis hanya akan menjadi destinasi “setengah jadi”: ramai, tapi tidak berkembang maksimal.
Padahal, dengan penataan serius, kawasan ini bisa menjadi alternatif unggulan selain Cipanas Galunggung yang lebih dulu populer.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dituntut untuk tidak menutup mata. Perbaikan akses jalan bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Kini, pertanyaannya sederhana: sampai kapan potensi besar ini dibiarkan terhambat oleh jalan yang “butut”?
![]()
Penulis : Soni
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan