CIREBON, MNP – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Barat menyelenggarakan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) pada 31 Juli–1 Agustus 2026 di Cirebon.
Forum yang dihadiri Ketua PMII Cabang dan Ketua KOPRI Cabang se-Jawa Barat ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi, menyelaraskan arah gerakan, serta merumuskan agenda bersama dalam menjawab tantangan kaderisasi dan dinamika sosial di Jawa Barat.
Membuka kegiatan tersebut, Ketua PKC PMII Jawa Barat, Rusli Hermawan, menegaskan bahwa Rakorda bukan sekadar agenda koordinasi, melainkan forum strategis untuk membangun sinergi antar cabang dan memastikan setiap kebijakan organisasi berangkat dari kebutuhan kader serta realitas masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rusli menyebut, Rakorda menjadi ruang untuk menyatukan langkah, memperkuat kolaborasi, dan membangun komitmen bersama dalam menjalankan amanah organisasi.
“Saya berharap forum ini menghasilkan gagasan dan langkah nyata yang dapat diimplementasikan oleh seluruh cabang, sehingga PMII Jawa Barat semakin kuat dalam kaderisasi, organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Rusli.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam Rakorda adalah pemaparan kondisi gerakan KOPRI di masing-masing cabang.
Ketua-Ketua KOPRI Cabang menyampaikan perkembangan organisasi, capaian program, serta berbagai persoalan perempuan yang menjadi fokus pengawalan di daerahnya.
Forum ini menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman, membaca realitas sosial, dan menyusun langkah kolektif dalam memperkuat gerakan perempuan di lingkungan PMII.
Berbagai isu strategis mengemuka dalam diskusi, mulai dari meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan kapasitas kader perempuan, kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi perempuan, perlindungan anak, hingga penciptaan ruang organisasi yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan berbasis gender.
Perbedaan karakteristik persoalan di setiap daerah menunjukkan bahwa pendekatan gerakan harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal, tanpa kehilangan semangat kolektif untuk menghadirkan keberpihakan terhadap perempuan.
Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Barat, Anisa Nurhopipah Disastra, menegaskan bahwa Rakorda menjadi momentum penting untuk menyatukan arah gerakan KOPRI dalam merespons realitas perempuan di Jawa Barat.
Rakorda ini lanjut Anisa, menjadi momentum untuk saling mendengarkan pengalaman, membaca realitas di setiap daerah, lalu merumuskan langkah bersama.
“Persoalan perempuan di setiap cabang memang memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi semangat kita sama, yaitu memastikan KOPRI hadir sebagai ruang kaderisasi sekaligus ruang pengabdian yang mampu mengawal isu-isu perempuan secara nyata dan berkelanjutan,” kata Anisa.
Menurutnya, keberagaman pengalaman yang disampaikan oleh KOPRI Cabang merupakan modal penting untuk memperkuat jejaring gerakan perempuan di Jawa Barat.
Melalui konsolidasi yang berkelanjutan, setiap cabang tidak hanya dapat saling bertukar praktik baik, tetapi juga membangun kolaborasi yang lebih efektif dalam menjawab berbagai persoalan perempuan.
Sebagai hasil forum, Rakorda menyepakati empat agenda prioritas sebagai arah gerakan KOPRI PMII Jawa Barat ke depan.
Pertama, menyusun Peta Isu Perempuan Jawa Barat* berbasis kondisi riil di masing-masing cabang. Pemetaan ini akan menjadi dasar dalam merancang program kaderisasi, advokasi, dan pengabdian yang lebih kontekstual sesuai dengan kebutuhan perempuan di setiap daerah.
Kedua, memperkuat jejaring advokasi antar cabang agar KOPRI memiliki mekanisme koordinasi, berbagi pengetahuan, dan saling mendukung dalam pengawalan isu maupun pendampingan terhadap perempuan yang membutuhkan akses perlindungan dan pemberdayaan.
Ketiga, mendorong penguatan perspektif keadilan gender dalam proses kaderisasi PMII. Rakorda memandang bahwa isu perempuan bukan hanya menjadi perhatian KOPRI, tetapi perlu menjadi bagian dari penguatan kualitas kader dan budaya organisasi yang lebih inklusif, berkeadilan, serta responsif terhadap berbagai persoalan sosial.
Keempat, memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi masyarakat sipil, komunitas perempuan, hingga lembaga layanan, guna memperkuat dampak gerakan dan menghadirkan solusi yang lebih komprehensif terhadap persoalan perempuan di Jawa Barat.
Empat agenda tersebut menjadi komitmen bersama KOPRI PMII se-Jawa Barat untuk memperkuat gerakan yang tidak hanya responsif terhadap persoalan perempuan, tetapi juga memiliki arah yang terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Rakorda menegaskan bahwa KOPRI tidak hanya berperan sebagai wadah kader perempuan di lingkungan PMII, melainkan juga sebagai ruang lahirnya kepemimpinan, gagasan, dan gerakan sosial yang berpihak pada nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan.
Melalui konsolidasi ini, PMII Jawa Barat berharap sinergi antara PMII dan KOPRI semakin kuat dalam membangun organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan sosial.
Hasil Rakorda diharapkan menjadi pijakan bagi lahirnya gerakan perempuan yang lebih solid, berbasis kebutuhan masyarakat, dan berorientasi pada terwujudnya Jawa Barat yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban.
![]()
Penulis : Alex
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan