Bogor, MNP – Proyek paket Penunjukan Langsung (PL) dari Leading Sektor DPUPR Kab Bogor, berupa program rekonstruksi jalan, kegiatan pembuatan DPT pada jalan Cinangneng-Tenjolaya, Kec. Tenjolaya, lebih tepatnya itu perbaikan salah satu spot DPT di ruas jalan tersebut, yang ambrol.
Dengan nilai kontrak pekerjaan sebesar Rp 199.500.000,- terpantau tim kerja media ini di lokasi proyek, dalam pelaksanaan (pengerjaannya) itu tampak asal-asalan, pada Senin (13/10/2025).
Diantaranya ketika material beton mulai dicurahkan, ke titik pengecoran berbentuk sumuran, sebagai pondasi utama DPT tersebut, dalam lubang sumurannya masih digenangi air dengan debit lumayan tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Itu tampak jelas dari aliran airnya yang tiada henti, meskipun air itu telah diminimalisir dengan metode pemompaan.
Dari kronologi tersebut tadi, jelas memicu keraguan dan pertanyaan besar, terutama tentang efektifitas material beton yang digunakan pada pondasi DPT, jika terdorong air di seklilingnya kemudian luber serta menghanyutkan sebagian formula betonnya itu.
Terlebih jika pengiriman material beton berikutnya dari Batching Plant harus menunggu hingga 6 jam-an lebih, sebagaimana dikata kan seorang pekerja proyek tersebut pada media ini.
Hal tersebut pun dipandang beresiko, mengingat kontur tanah di lokasi yang tengah dilakukan perbaikannya itu, yang tampak labil.
Terbukti dengan terus menerus ada material tanah dan batuan, yang berjatuhan dari tebing jalannya yang longsor, yang tengah diperbaiki tersebut. Yang secara tidak langsung mempertontonkan, betapa buruknya konstruksi di DPT dari pekerjaan sebelumnya, di sekitar titik yang longsor tersebut.
Proyek tersebut dikerjakan CV. Dicky Karya Mandiri, selaku penyedia jasanya. Dengan PT. Secon Dwitunggal Putra, sebagai konsultan pengawasnya.
Kedua perusahaan berada dalam lingkar kordinasi dan tanggungjawab pihak Dinas PUPR Kab Bogor. Dan lama waktu pengerjaannya 45 hari kalender, terhitung dari 26 September 2025 (tertera di Plank informasi proyek : red).
Sangat disayangkan, ketika pengecoran dimulai, tidak disaksikan konsultan pengawas, yang harusnya selalu memonitor di setiap ada kegiatan berlangsung.
Saat hal tersebut oleh tim media ini dikonfirmasikan, kepada Kepala UPT melalui pesan What’s App Pribadi nya, yang bersangkutan samasekali tak merespons.
Bahkan hingga diturunkan nya berita ini masih tetap bungkam, setali tiga uang dengan pengamat wilayah kecamatannya, meski turut hadir di lokasi saat dimulai nya pengecoran tersebut, dirinya terus menghindari tim media ini.
![]()
Penulis : Asep Didi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan