PMII STISIP Ajak Mahasiswa Kritis dan Tolak Politisasi Sejarah G30S/PKI

Selasa, 30 September 2025 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Setiap tanggal 30 September, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada peristiwa kelam, Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) tahun 1965.

Tragedi yang menewaskan para jenderal TNI AD ini bukan hanya menorehkan luka dalam sejarah politik Indonesia, tetapi juga meninggalkan trauma panjang bagi masyarakat sipil.

Ribuan bahkan jutaan rakyat kala itu terseret arus kekerasan, menjadi korban fitnah, penangkapan, hingga penghilangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Riswara Nugroho Ketua Komisariat PMII STISIP, peringatan G30S/PKI tidak cukup dipandang sebagai ritual tahunan atau sekadar menonton film sejarah.

Peringatan ini adalah momentum untuk merenungkan kembali bagaimana bangsa ini pernah diuji oleh pertarungan ideologi yang berujung pada kekerasan.

“G30S/PKI adalah cermin bahwa ketika kekuasaan dan ideologi dipaksakan tanpa nilai kemanusiaan, maka yang menjadi korban adalah rakyat kecil,” kata Riswan.

Generasi muda hari ini memiliki kewajiban moral untuk melihat sejarah dengan cara yang lebih kritis. Mahasiswa tidak boleh menerima begitu saja narasi tunggal, melainkan harus membuka ruang kajian sejarah yang ilmiah, obyektif, dan adil.

Hal ini bukan untuk membenarkan kekejaman masa lalu, tetapi agar bangsa ini tidak terjebak dalam propaganda atau politisasi sejarah yang hanya menguntungkan pihak tertentu.

Dari tragedi 1965 kita belajar tiga hal penting:

1.Bahwa kekerasan politik tidak pernah membawa keadilan.

2.Bahwa demokrasi hanya bisa bertahan bila ditopang oleh nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

3.Bahwa generasi muda harus menjadi penyangga persatuan, bukan pengulang luka sejarah.

Riswara menyebut, peringatan G30S/PKI adalah pengingat untuk terus kritis terhadap kekuasaan, menolak segala bentuk tirani, dan menjaga agar demokrasi tidak lagi dirampas oleh kepentingan segelintir elit.

“Sejarah memang menyisakan luka, tetapi luka itu harus menjadi pelajaran. G30S/PKI bukan hanya kisah masa lalu, melainkan peringatan abadi agar bangsa Indonesia selalu menempatkan kemanusiaan di atas segalanya,” pungkasnya.

Ingat sejarah, rawat demokrasi, tegakkan kemanusiaan

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Menuju Survei Agustus 2026, Pemkab Jeneponto Matangkan Langkah Penanganan Stunting Berbasis Data
Pemdes Campang Tiga Salurkan Bantuan Pangan, 685 KPM Terima Beras dan Minyak Goreng
Rakor Tapal Batas, Pemkab Pakpak Bharat Pastikan Hak Usaha Masyarakat di Kawasan Hutan Aman
Dugaan Proyek Fiktif di Desa Pangkan, Modus Pinjam Perusahaan, Relasi Kekuasaan hingga Tumpang Tindih Proyek
Diduga Tumpang Tindih, Proyek Klaim CV BK Mengarah pada Tanggung Jawab Perbaikan CV CN
Ketua IWO Inhu Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Dugaan Penganiayaan Warga di Lahan Eks PT SAL
Tekan Angka Stunting, Puskesmas Bungursari Gelar Pembekalan PMT Berbahan Pangan Lokal
Turun ke Sawah dan Tinjau Jalan Desa, Bupati Inhu Perkuat Swasembada Pangan dari Kuala Cenaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:00 WIB

Menuju Survei Agustus 2026, Pemkab Jeneponto Matangkan Langkah Penanganan Stunting Berbasis Data

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:55 WIB

Pemdes Campang Tiga Salurkan Bantuan Pangan, 685 KPM Terima Beras dan Minyak Goreng

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:46 WIB

Rakor Tapal Batas, Pemkab Pakpak Bharat Pastikan Hak Usaha Masyarakat di Kawasan Hutan Aman

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:25 WIB

Dugaan Proyek Fiktif di Desa Pangkan, Modus Pinjam Perusahaan, Relasi Kekuasaan hingga Tumpang Tindih Proyek

Kamis, 4 Juni 2026 - 22:36 WIB

Diduga Tumpang Tindih, Proyek Klaim CV BK Mengarah pada Tanggung Jawab Perbaikan CV CN

Berita Terbaru