Barito Timur, MNP – Warga Desa Matabu merencanakan demo atau aksi damai ke Kantor Bupati Barito Timur akibat tidak ada kejelasan penanganan dampak pencemaran yang Sungai Jaar dan Sungai Tauluh yang menjadi sumber air bersih di desa itu.
Rencana tersebut terungkap dari warga RT 01 bernama Miswahyuni (61), Ia bersama warga lainnya merasa bahwa pemerintah daerah tidak memedulikan keluhan mereka terkait pencemaran sungai akibat aktivitas beberapa perusahaan di sekitar Desa Matabu.
“Kalau bisa pemerintah daerah dan perusahaan segera menindaklanjuti keluhan warga, tapi sejauh ini belum ada respons. Jika tidak ada respons kita masyarakat rencanakan demo atau aksi damai,” ujarnya, Jumat, 23 Februari 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Miswahyuni mengaku sejak Sungai Jaar tercemar atau keruh keluarganya sulit mendapatkan air bersih untuk mandi, cuci, kakus, maupun untuk konsumsi. Ia juga mengungkapkan bahwa tanaman milik warga ada yang mulai mati karena tergenang air lumpur saat banjir.
“Warga yang punya kolam ikan juga kesulitan mencari sumber air untuk mengganti air kolam karena air sungai yang selama ini menjadi sumber sudah bercampur lumpur,” katanya.
Karena itu, melihat kondisi sungai yang tidak mungkin pulih seperti sedia kala, Miswahyuni menuntut perusahaan agar membuat sumur bor untuk warga terdampak yang dilengkapi mesin pompa dan tandon penampung air.
Menanggapi rencana warganya melakukan aksi damai di Kantor Bupati Barito Timur, Kepala Desa Matabu Juni Setiawan menjelaskan bahwa sejauh ini dirinya juga masih menunggu pihak perusahaan dan pemerintah daerah untuk menanggapi secara serius keluhan warga.
“Kita masih tetap berharap kepada pihak perusahaan, terutama pemerintah daerah dan kita sudah memberikan waktu sampai selesai Pemilu,” katanya.
Juni meminta pemerintah daerah turut berperan dengan mendorong perusahaan yang menimbulkan pencemaran sungai agar memenuhi tuntutan warga akibat dampak aktivitas tambang mereka.
“Mohon ada respons, tanggapan dari pemerintah daerah. Saya dengar kalau air surut akan turun ke lapangan dan ternyata sampai saat ini sudah hampir dua minggu cuaca panas dan air sudah surut tetapi masih belum ada respons,” tutur Juni.
Dia juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait menanggapi rencana warga melalukan aksi damai.
“Kalau memang tidak ada tindak lanjut sampai awal bulan tiga ini, kita akan mengajukan surat permohonan aksi damai. Apakah nanti di kantor bupati ataupun langsung turun ke lapangan perusahaan tambang terkait,” tegas Miswahyuni.
![]()
Penulis : Adi Suseno
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan