BARITO TIMUR, MNP – Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) semakin terasa merambah ke sektor pendidikan, tidak hanya terbatas pada gangguan kesehatan, transportasi, dan ekonomi.
Kondisi kabut asap yang semakin pekat disertai bau menyengat akibat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, telah memaksa para pendidik mengambil langkah darurat demi keselamatan peserta didik.
Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, para guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Tampa, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, mengambil keputusan untuk memulangkan para siswa lebih awal dari jadwal yang ditentukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang semakin memburuk serta potensi risiko kesehatan yang mengancam anak-anak akibat paparan asap yang terus meningkat.
Keputusan yang diambil oleh pihak sekolah ini merupakan langkah mandiri dan responsif demi melindungi kesehatan dan keselamatan para siswa serta tenaga pendidik di lingkungan sekolah.
Namun, hingga saat ini, belum ada kebijakan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Timur terkait peliburan atau penyesuaian kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan yang terdampak asap Karhutla.
Kondisi ini sejalan dengan kebijakan yang mulai diterapkan di berbagai wilayah Indonesia yang terdampak serupa.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menerbitkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan, yang memungkinkan sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berdasarkan tingkat pencemaran udara dan risiko kesehatan di wilayah masing-masing.
Berbagai pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), telah mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga mengganggu hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang layak.
KPAI menekankan bahwa pemerintah daerah harus semakin siap dalam melindungi anak-anak sebelum kondisi lingkungan memburuk, bukan hanya merespons ketika asap sudah pekat .
Saat ini, para pendidik dan orang tua siswa di Barito Timur berharap adanya kebijakan yang lebih komprehensif dan cepat dari pemerintah daerah dalam merespons dampak Karhutla terhadap dunia pendidikan, sehingga hak belajar anak-anak tetap terjamin tanpa mengorbankan kesehatan mereka di tengah krisis lingkungan yang berulang ini.
![]()
Penulis : Adi Suseno
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan