TASIKMALAYA, MNP – Kepala SD Negeri 1 Urug, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Hj. Aan, S.Pd., M.Si., menyampaikan keprihatinan mendalam terkait makin tergerusnya minat generasi muda terhadap penggunaan Aksara Sunda.
Memasuki empat tahun terakhir masa pengabdiannya sebelum pensiun, ia menyuarakan harapan besar agar warisan budaya Pasundan tersebut tidak punah di tanah kelahirannya sendiri.
Selama kurang lebih 14 tahun, Hj. Aan tidak hanya menjalankan tugas kepemimpinan di sekolah, tetapi juga aktif menjadi juri lomba Aksara Sunda di berbagai kecamatan, seperti Indihiang, Cipedes, Bungursari, hingga Sukarame.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, ia secara intensif melatih para siswa hingga berhasil meraih prestasi di tingkat Kota Tasikmalaya maupun Provinsi Jawa Barat.
Meski demikian, Hj. Aan menyoroti kenyataan di lapangan yang dinilainya cukup mengkhawatirkan. Menurut estimasinya, saat ini diperkirakan hanya sekitar 10 persen anak-anak yang mampu membaca dan menulis Aksara Sunda.
“Anak-anak zaman sekarang menganggap Aksara Sunda itu ribet dan sulit, sehingga makin ditinggalkan. Padahal itu warisan leluhur kita sendiri. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Jika Aksara Sunda hilang, kita kehilangan jati diri,” ungkap Hj. Aan kepada awak media, Kamis (27/08/2026).
Meski telah mendedikasikan waktu dan tenaganya belasan tahun untuk membina dan melestarikan Aksara Sunda tanpa mengejar penghargaan materi maupun piagam formal, Hj. Aan berharap ada langkah nyata dan perhatian sinergis dari instansi pemerintah daerah.
Secara khusus, ia menyampaikan dorongan kepada Dinas Pendidikan serta Penjabat Walikota Tasikmalaya untuk memberikan ruang, dorongan, dan apresiasi resmi bagi para pendidik maupun siswa yang konsisten memperjuangkan kelestarian bahasa dan aksara daerah.
“Saya mohon dukungan dari Dinas Pendidikan maupun Bapak Walikota Tasikmalaya agar Aksara Sunda tidak sampai punah. Berikan perhatian, dorongan, dan apresiasi — baik piagam maupun bentuk penghargaan lainnya — kepada guru dan anak-anak yang berjuang melestarikannya,” tegasnya.
Menjelang masa purnabakti yang tinggal empat tahun lagi, Hj. Aan berpesan agar seluruh elemen masyarakat dan generasi penerus di Kota Tasikmalaya tidak melupakan identitas budayanya di tengah arus modernisasi.
Ia menekankan bahwa pengabdian menjaga warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama agar Aksara Sunda tetap hidup dan lestari di bumi Pasundan.
![]()
Penulis : Ist
Editor : Redi Setiawan










Waahh, mantap, betull sekalii aksara sunda itu memang menjadi jati diri ciri khas sundaaa, semoga aksara sunda slalu menjadi kebanggakan untuk slalu kita lestarikan, dan untuk bu Hj. Aan sehat sehat panjang umur, semoga slalu ada dan terus berlipat ganda dalam memberikan ilmu khususnya perihal aksara sunda untuk kita semua