TASIKMALAYA, MNP – 81 tahun sudah Indonesia menghirup udara kemerdekaan. Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan, bangsa ini terus melangkah melewati berbagai zaman, pergantian kepemimpinan, serta perubahan sosial dan ekonomi.
Setiap Agustus, merah putih berkibar di berbagai penjuru negeri. Perlombaan digelar, panggung hiburan berdiri, dan masyarakat larut dalam semangat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di balik kemeriahan itu, masih terselip sebuah pertanyaan yang seharusnya menjadi renungan bersama: apakah seluruh rakyat benar-benar telah merasakan kemerdekaan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi sebagian masyarakat, kemerdekaan mungkin identik dengan kebebasan dan kegembiraan. Tetapi bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Ya, seperti gelandangan, anak jalanan, pengamen, buruh berpenghasilan rendah, serta keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Kemerdekaan bagi mereka memiliki makna yang jauh lebih sederhana—mampu makan hari ini, memiliki tempat tinggal yang layak, memperoleh pendidikan, dan menatap hari esok tanpa kecemasan.
Bahkan, persoalan sosial terkadang hadir dalam bentuk yang lebih halus. Warga yang tinggal mengontrak atau menempati rumah kos masih dapat merasakan sekat sosial ketika hendak mengikuti kegiatan perayaan kemerdekaan di lingkungan tempat tinggalnya hanya karena dianggap “bukan warga setempat”.
Padahal, semangat kemerdekaan semestinya tidak mengenal batas status sosial maupun kepemilikan rumah. Merah putih adalah milik seluruh rakyat Indonesia.
Keprihatinan tersebut turut disampaikan Ade Gunawan, atau yang akrab disapa Degun, Ketua LSM FORDEM Kota Tasikmalaya. Menurutnya, 81 tahun setelah proklamasi, masih terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
“Proklamasi dikumandangkan di mana-mana. 81 tahun berlalu, tapi mengapa rakyat masih lapar? Masih banyak anak-anak putus sekolah, malah korupsi merajalela dan kesenjangan menganga lebar,” ujar Degun, Minggu (16/8/2026).
Ia mempertanyakan siapa sesungguhnya yang paling merasakan hasil kemerdekaan tersebut. “Katanya saja merdeka. Tapi siapa yang benar-benar merasakan kemerdekaan ini?” katanya.
Meski demikian, Degun menegaskan bahwa kritik tersebut lahir dari kecintaan terhadap Indonesia, bukan sikap antipemerintah.
“Sesungguhnya kami sangat mencintai RI ini. Kami juga bukan anti pemerintah hari ini. Tapi dimanakah hati nurani pemerintah hari ini?” pungkasnya.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan sekadar angka 81 tahun, bukan pula sebatas meriahnya pesta rakyat.
Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, menikmati keadilan, serta merasa dihargai sebagai bagian dari bangsa.
Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga kemerdekaan tidak hanya terdengar dalam pekik perayaan, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan seluruh rakyat.
![]()
Penulis : Arrie Haryadi
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan