TASIKMALAYA, MNP – Mantan wartawan yang kini aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, dan sebuah Lembaga Keagamaan Septyan Hadinata, menanggapi pernyataan Ketua BEM UGM yang mempertanyakan relevansi latar belakang Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryanti Deyang, dalam sebuah acara talk show televisi nasional.
Menurut Septyan, kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi dan patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tetap disampaikan secara proporsional dan tidak terjebak pada penilaian yang terlalu menyederhanakan persoalan.
“Saya mengapresiasi keberanian anak muda dalam menyampaikan kritik dan kontrol sosial terhadap kebijakan publik. Itu merupakan tradisi akademik yang harus dijaga. Namun sebagai akademisi, kritik juga harus dibangun di atas argumentasi yang utuh dan objektif,” kata Septyan, Sabtu (6/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai publik perlu melihat persoalan secara lebih komprehensif. Menurutnya, boleh saja seseorang meragukan kompetensi pejabat publik, namun bukan berarti dapat langsung menyimpulkan bahwa seseorang tidak layak memimpin hanya karena profesi yang pernah digelutinya.
“Meragukan kapasitas adalah hak publik. Tetapi menghakimi seseorang hanya berdasarkan profesi sebelumnya adalah cara pandang yang terlalu sempit. Yang harus diuji adalah kinerja, integritas, rekam jejak, dan kemampuan kepemimpinannya,” ujarnya.
Septyan juga mengingatkan bahwa Nanik tidak hanya memiliki pengalaman sebagai jurnalis, tetapi juga memiliki latar belakang akademik ilmu biologi.
Selain itu, dalam praktik kepemimpinan modern, kemampuan manajerial, komunikasi, koordinasi, dan pengelolaan organisasi sering kali menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding kompetensi teknis semata.
Sebagai mantan wartawan, Septyan mengaku cukup menyayangkan apabila muncul kesan bahwa profesi jurnalis dianggap tidak memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga publik.
“Jurnalisme justru melatih kemampuan analisis, komunikasi, membaca persoalan publik, dan pengambilan keputusan. Jangan sampai publik menangkap narasi bahwa seorang jurnalis hanya bisa bekerja di dunia jurnalistik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sejarah Indonesia maupun dunia menunjukkan banyak tokoh besar yang berhasil memimpin di luar bidang pendidikan atau profesi awal mereka.
“Kalau kita membaca sejarah, banyak pemimpin besar yang tidak sepenuhnya linear antara pendidikan, profesi, dan jabatannya. Yang menentukan keberhasilan bukan semata-mata ijazah atau pekerjaan sebelumnya, tetapi kemampuan belajar, beradaptasi, dan memimpin perubahan,” tuturnya.
Meski demikian, Septyan menegaskan bahwa pernyataannya bukan dimaksudkan untuk membela individu tertentu, melainkan untuk meluruskan cara pandang publik agar tidak terjebak pada generalisasi terhadap profesi tertentu.
“Silakan kritisi pejabat publik, bahkan itu penting dalam demokrasi. Tetapi kritik yang baik harus berbasis kapasitas dan fakta, bukan stereotip profesi. Akademisi dituntut bukan hanya berani berbicara, tetapi juga adil dalam menilai,” pungkasnya.
![]()
Penulis : Red









Tinggalkan Balasan