Tasikmalaya, MNP – Kasus keracunan massal akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan publik. Ribuan anak diduga menjadi korban di berbagai daerah, sementara diskusi mengenai tata kelola program ini terus bergulir.
Aktivis NU dan Pegiat sosial , Septyan Hadinata, menilai persoalan ini tidak hanya menyangkut lemahnya regulasi dan pengawasan rantai pasok, tetapi juga menyangkut peran media dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Menurutnya, media kini berada pada posisi dilematis. Sebagian media berperan sebagai kontrol sosial dengan mengungkap kelemahan dan data lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, sebagian lainnya justru tampil sebagai corong propaganda yang lebih menonjolkan keberhasilan program tanpa menyentuh substansi masalah.
“Media semestinya menjadi pilar keempat demokrasi. Jangan sampai fungsi jurnalistik berubah menjadi sekadar titipan suara. Publik butuh fakta, bukan framing yang menutupi risiko,” ujar Septyan, Jumat (27/9/2025).
Ia menambahkan, sikap ganda media dapat menurunkan kepercayaan publik. Informasi yang tercemar sama berbahayanya dengan makanan yang tercemar.
“Kalau media tidak menjaga independensinya, korban bukan hanya anak-anak yang keracunan, melainkan juga kualitas demokrasi kita,” tegasnya.
Meski begitu, Septyan tetap optimistis. Ia menyatakan kepercayaannya bahwa masih ada media yang konsisten menjaga idealisme.
“Saya percaya Media Potret akan tetap menjaga kesucian jiwa jurnalistik—jujur, pembawa berita kebenaran, bukan pembawa petaka. Media seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat di tengah krisis kepercayaan informasi,” ujarnya.
Septyan menekankan, solusi terbaik adalah mengembalikan media pada khitahnya: independen, transparan, dan berpihak pada kebenaran.
“Dengan media yang jujur, publik akan terlindungi, kebijakan akan terawasi, dan demokrasi akan tetap sehat,” pungkasnya.
Dari sudut pandang ilmu jurnalistik, fenomena ini menunjukkan adanya anomali dalam praktik media. Media yang seharusnya menjadi watchdog (anjing penjaga) justru berperan sebagai lapdog (anjing peliharaan) bagi kekuasaan.
Praktik jurnalisme seperti ini mengkhianati prinsip dasar pers: independensi, akurasi, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Kritik tajam perlu diarahkan pada media yang memilih mengorbankan integritas demi keuntungan sesaat, karena pada akhirnya kehilangan kepercayaan publik adalah kehancuran terbesar bagi eksistensi media itu sendiri.
![]()









Tinggalkan Balasan