Potret Kelam Pelayanan RSUD dr Soekardjo: Warga Manonjaya Terpaksa ‘Gendong’ Anak Sakit Pakai Motor ke RSHS

Selasa, 13 Januari 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Sistem pelayanan kesehatan di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya kembali menuai sorotan tajam.

Seorang warga mengaku diperlakukan secara tidak manusiawi dan dibuat kebingungan saat berupaya menyelamatkan nyawa anaknya yang menderita penyakit serius.

Dugaan permainan sistem dan minimnya empati terhadap pasien pun mencuat ke publik, Senin (12/1/2026).

Kisah memilukan ini dialami Yanyan Mulyana (45), warga pindahan asal Subang yang kini berdomisili di Kampung Cibitung, Dusun Sembungrugul, RT 015/RW 004, Desa Pasir Batang, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menceritakan perjuangannya mencari kesembuhan bagi sang anak yang diduga menderita penyakit usus buntu.

Kepada awak media, Yanyan mengungkapkan kronologi bermula saat ia membawa anaknya ke RSUD dr. Soekardjo. Setibanya di rumah sakit, anaknya langsung ditangani dengan pemasangan selang melalui mulut.

“Saya sempat bertanya ke perawat, kenapa dipasang selang, karena sebelumnya saya sudah periksa ke mantri dan dokter Rani, katanya ini gejala usus buntu,” ujar Yanyan.

Menurut pengakuan Yanyan, perawat menyampaikan bahwa pemasangan selang dilakukan agar tidak ada angin dan kotoran di dalam perut pasien.

Namun setelah itu, anaknya diarahkan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan seperti laboratorium, rontgen, dan CT scan, sebelum ada pembahasan soal pembiayaan.

Masalah mulai muncul ketika pihak perawat menanyakan status pembiayaan, BPJS atau umum.

Yanyan mengaku berniat menggunakan BPJS, namun meminta agar anaknya ditangani terlebih dahulu karena kondisi darurat, sementara ia akan mengurus administrasi BPJS yang terkendala hari libur.

“Saya bilang, Bu, ini ditindak dulu, saya urus BPJS menyusul. Tapi perawat bilang tidak bisa, BPJS harus beres dulu, maksimal 3×24 jam untuk rawat inap,” tuturnya.

Situasi semakin membingungkan ketika Yanyan diinformasikan bahwa dokter yang menangani sedang cuti, dan anaknya justru akan dirujuk ke Rumah Sakit Prasetya Bunda, rumah sakit swasta.

“Saya keberatan karena saya tidak punya BPJS dan itu rumah sakit swasta,” kata Yanyan.

Ironisnya, Yanyan mengaku ada oknum dokter yang memvonis bahwa usus buntu anaknya sudah pecah, namun ia tidak pernah diperlihatkan hasil CT scan, rontgen, maupun hasil laboratorium sebagai dasar medis diagnosis tersebut.

Karena keterbatasan biaya, Yanyan hanya memiliki uang Rp600 ribu. Namun pihak administrasi menyebutkan biaya tindakan umum mencapai Rp1,5 juta lebih.

Ia pun terpaksa membayar Rp500 ribu dan menjaminkan KTP istrinya, dengan sisa tunggakan sekitar Rp1 juta.
Lebih mengejutkan lagi, setelah diarahkan ke bagian farmasi, Yanyan tidak menerima obat apa pun.

“Saya kira ada obat, ternyata biaya Rp1,5 juta itu hanya untuk tindakan saja,” ungkapnya.

Merasa tidak ada kejelasan dan semakin terdesak, Yanyan berinisiatif membawa anaknya ke RSHS Bandung. Namun upaya meminjam ambulans pun kandas.

Ia mengaku ditolak dengan alasan bukan warga asli setempat, meski telah memiliki surat keterangan domisili resmi dari desa.

Akhirnya, demi keselamatan anaknya, Yanyan nekat membawa sang anak ke Bandung menggunakan sepeda motor, dengan jok dialasi bantal agar anaknya tetap nyaman selama perjalanan jauh.

Setibanya di RSHS Bandung, anaknya langsung ditangani. Namun kembali terbentur masalah biaya karena status pembiayaan umum dan belum memiliki BPJS.

“Ada dokter yang baik bilang, mohon maaf Pak, kami tidak bisa bantu lebih. Akhirnya saya buat surat pernyataan tidak punya biaya dan membawa anak saya pulang ke Tasik. Saya benar-benar menyerah,” ucapnya dengan nada lirih.

Dalam kondisi putus asa, Yanyan akhirnya mengunggah kisahnya ke media sosial Facebook, berharap ada pihak yang tergerak membantu.

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar terkait komitmen pelayanan publik, transparansi medis, serta empati tenaga kesehatan, khususnya di rumah sakit milik pemerintah daerah.

Masyarakat mendesak adanya evaluasi serius, investigasi menyeluruh, dan pertanggung jawaban. Sampai berita ini ditulis, wartawan belum mendapatkan klarifikasi dari pihak RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya.

 

Loading

Penulis : DK

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Permatadora Tasikmalaya Bubar! Ini Penyebabnya
Muncul Isu Sekda Impor, PSU Ingatkan Bupati Tasikmalaya Dampak Demotivasi ASN Lokal
Perebutan Tiket Regional, 24 Tim U-12 Beradu Gengsi di Liga Jabar Istimewa
Hardiknas 2026, Reni Sugiarti Tekankan Pentingnya Peningkatan Kualitas Pendidikan
Polres Pakpak Bharat Berintegritas dan Humanis, Peringatan May Day Berjalan Aman Kondusif
Satu Pelaku Buron, Sat Narkoba Polres Garut Bekuk Pengedar Sabu
Bupati Garut Buka Pameran Foto “Frame of Garut”, Dorong Potensi Pariwisata Melalui Seni Fotografi
Gelora Solidaritas Hari Buruh: Ribuan Anggota FSP Parekraf Tasikmalaya Raya Padati Monas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:15 WIB

Permatadora Tasikmalaya Bubar! Ini Penyebabnya

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:01 WIB

Muncul Isu Sekda Impor, PSU Ingatkan Bupati Tasikmalaya Dampak Demotivasi ASN Lokal

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:26 WIB

Perebutan Tiket Regional, 24 Tim U-12 Beradu Gengsi di Liga Jabar Istimewa

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:03 WIB

Hardiknas 2026, Reni Sugiarti Tekankan Pentingnya Peningkatan Kualitas Pendidikan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 16:05 WIB

Polres Pakpak Bharat Berintegritas dan Humanis, Peringatan May Day Berjalan Aman Kondusif

Berita Terbaru

Berita terbaru

Permatadora Tasikmalaya Bubar! Ini Penyebabnya

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:15 WIB