Kisah Miris Rumah Ii Sutinah di Kampung Nangela: Atap Nyaris Roboh, Bantuan Tak Kunjung Datang

Jumat, 3 Januari 2025 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan pembangunan di berbagai daerah, potret kehidupan sebagian warga kurang mampu masih luput dari perhatian.

Salah satunya adalah kondisi rumah milik Ii Sutinah (33), warga Kampung Nangela RT 01/06 Kelurahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, yang atap rumahnya nyaris roboh dan mengancam keselamatan penghuninya.

Meski telah melapor ke Dinas Sosial dan pihak kelurahan, hingga kini belum ada tindakan konkret untuk menangani kondisi rumahnya yang memprihatinkan.

Pantauan awak media dilokasi, rumah Ii Sutinah yang berdiri di tengah lingkungan permukiman padat penduduk terlihat renta dan nyaris ambruk, Jumat (03/01/2025).

Atap rumah yang terbuat dari kayu dan genteng sudah lapuk dimakan usia. Setiap kali hujan turun, air bocor dari sela-sela genteng yang retak, membuat sebagian besar bagian dalam rumah basah dan lembap.

Lebih dari itu, struktur kayu penyangga atap sudah miring dan rapuh, sehingga setiap saat bisa saja runtuh.

“Saya sudah melapor ke pihak kelurahan dan juga ke Dinas Sosial, tetapi sampai sekarang belum ada respons yang jelas. Saya khawatir atap rumah ini tiba-tiba roboh ketika kami sedang tidur,” ujar Ii Sutinah dengan nada sedih.

Ii Sutinah tinggal bersama tiga orang anak anaknya sedangkan suaminya ada di Bandung bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.

Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat mereka kesulitan untuk memperbaiki rumah dengan biaya sendiri.

Padahal, kondisi rumah yang nyaris ambruk tidak hanya membahayakan keselamatan mereka, tetapi juga mengancam kesehatan karena udara lembap dan dinding yang berjamur.

Pihak LPM kelurahan Cigantang, ketika dikonfirmasi, menyatakan bahwa laporan terkait kondisi rumah Ii Sutinah memang sudah diterima.

Namun, pihaknya berdalih bahwa program rutilahu atau BSPS adanya bergulir setiap bulan Maret atau April.

“Kami sudah menerima laporan dari Bu Ii Sutinah, dan data beliau sudah kami masukkan ke dalam daftar penerima bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (Rutilahu). Namun, realisasinya memerlukan waktu dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait,” ujar salah satu perwakilan kelurahan.

Kendati demikian, pernyataan tersebut tampaknya belum memberikan kepastian bagi Ii Sutinah dan keluarganya.

Di tengah ancaman bahaya yang terus mengintai, mereka hanya bisa pasrah sambil berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah atau pihak-pihak dermawan yang peduli terhadap kondisi mereka.

Permasalahan rumah tidak layak huni di daerah seperti Kampung Nangela sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Banyak warga dengan kondisi ekonomi lemah terpaksa bertahan di rumah yang sudah tidak layak ditempati karena keterbatasan biaya.

Program rehabilitasi rumah tidak layak huni yang sering digaungkan pemerintah pun belum sepenuhnya merata dan efektif dalam menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.

Masyarakat sekitar pun berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk membantu Ii Sutinah dan warga lain yang mengalami kondisi serupa.

Bantuan berupa material bangunan atau program perbaikan rumah dapat menjadi solusi untuk meringankan beban warga yang berada dalam situasi seperti ini.

“Saya harap pemerintah bisa segera turun tangan. Jangan sampai ada korban jiwa dulu baru diperhatikan,” ujar salah satu tetangga Ii Sutinah.

Kisah Ii Sutinah di Kampung Nangela adalah cerminan dari banyaknya keluarga di Indonesia yang masih berjuang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, lembaga sosial, serta kepedulian masyarakat untuk memastikan hak dasar warga atas tempat tinggal yang aman dan nyaman dapat terpenuhi.

Untuk saat ini, Ii Sutinah hanya bisa berharap agar ada perhatian lebih dari pihak berwenang. Sementara itu, setiap malam Ia dan anaknya tidur dengan rasa was-was, takut atap rumah mereka akan benar-benar roboh.

Loading

Penulis : Insani Putri

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

14 Hari Bungkam! Surat Resmi MNP Soal 3 Dugaan Korupsi DLH, CSR & Sumur Bor Diabaikan Kejari Enrekang
Penjaga SDN Panunggulan Bantah Pernyataan Kepsek Soal Kepemilikan Toko CCTV dan CV Rekanan BOSP
STNK Mobil Siaga Desa Jasinga Kedaluwarsa, Pengawasan Audit Aset Inspektorat Dipertanyakan
Bandara Wiriadinata Aktif Lagi, FDI Tasikmalaya Wanti-Wanti Bahaya Drone Liar di Jalur Penerbangan
Modus Pengisian Berulang di SPBU Lotte Mart Tasikmalaya, BBM Bersubsidi Diduga Ditampung di Kawalu
Tembus Pasar Eropa! Kadin dan Bupati Tasikmalaya Bidik Jerman Jadi Hub Ekspor
17 Jabatan Kepsek SD di Kota Tasikmalaya Kosong, Disdik Gelar Diklat BCKS
Jadi Langganan Perkemahan Sekolah, Objek Wisata Tirta Sumber Jaya Cipangalun Ciamis Terus Bersolek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:52 WIB

14 Hari Bungkam! Surat Resmi MNP Soal 3 Dugaan Korupsi DLH, CSR & Sumur Bor Diabaikan Kejari Enrekang

Kamis, 5 November 2026 - 06:28 WIB

Penjaga SDN Panunggulan Bantah Pernyataan Kepsek Soal Kepemilikan Toko CCTV dan CV Rekanan BOSP

Kamis, 5 November 2026 - 06:16 WIB

STNK Mobil Siaga Desa Jasinga Kedaluwarsa, Pengawasan Audit Aset Inspektorat Dipertanyakan

Kamis, 5 November 2026 - 05:57 WIB

Bandara Wiriadinata Aktif Lagi, FDI Tasikmalaya Wanti-Wanti Bahaya Drone Liar di Jalur Penerbangan

Kamis, 5 November 2026 - 05:50 WIB

Modus Pengisian Berulang di SPBU Lotte Mart Tasikmalaya, BBM Bersubsidi Diduga Ditampung di Kawalu

Berita Terbaru