Tasikmalaya, MNP – Kegiatan Verifikasi dan Evaluasi Akhir Tingkat Provinsi Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) berlangsung sukses di Kampung Lengo RW 10, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari kota tasikmlaya.
Acara ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan yang telah berjalan hampir lima bulan, Senin (1/12/2025).
Acara dihadiri langsung oleh Walikota Tasikmalaya, serta jajaran perangkat daerah, Kepala Dinas PPKBP3A, Perwakilan Disdik, Dinsos, Disdukcapil, DLH, Perwakilan Dinas Pertanian, Plt Kadis Kominfo, PUTR, Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Perpustakaan dan Arsip, Dinas Kesehatan, perwakilan BPD, Camat Bungursari, Lurah Bantarsari, Ketua TP PKK Kota dan Kecamatan, Kepala Puskesmas, KUA Bungursari, Babinsa, Koordinator PLKB, Direktur Poltekkes Tasikmalaya, Ketua Baznas, Ketua Jurusan Pendidikan Masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadir juga FKIP Unsil, Ketua DWP GOW, Puspaga Bahagia, Motekar, PL Pekka Kota Tasikmalaya, Fasilitator Sekolah Perempuan Jawa Barat, Ketua RW 10 dan RT se-Kampung Lengo, Karang Taruna, tokoh masyarakat, mahasiswa MBKM Unsil, peserta Sekoper Provinsi Jawa Barat, serta para tamu undangan lainnya.
Nina Maulina, S.Pd., Ketua TP PKK Kecamatan Bungursari, mengatakan, bahwa pelaksanaan P2WKSS menjadi berkah bagi perempuan Kampung Lengo karena mereka mendapatkan berbagai sosialisasi, pengetahuan, serta pelatihan dari beragam OPD.
“Perempuan di Kampung Lengo diberikan bekal keterampilan mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga pelatihan produksi makanan. Hasilnya sudah terlihat produk makanan seperti semar mendem, shusi, dan minuman Bangjale berbahan jahe telah diproduksi dan dipasarkan,” katanya.
Ia berharap produk-produk tersebut dapat dikembangkan lebih luas ke tingkat RW dan kelurahan, sehingga perempuan benar-benar menjadi mandiri dan mampu membantu perekonomian keluarga.
Sementara, Hj. Lusi Rosdianti, S.Pd., M.Pd., Kabid DPPKBP3A, menjelaskan bahwa tahun 2025 menjadi tahun terakhir pelaksanaan program P2WKSS.
“Mulai tahun depan, program tersebut akan berganti menjadi Program Kelurahan/Desa Istimewa sesuai kebijakan KDM Provinsi Jawa Barat,” jelasnya.
Hj Lusi menjelaskan, penentuan lokus P2WKSS memiliki indikator jelas, yakni,Tingginya jumlah perempuan yang dapat dibina (100 perempuan binaan).
Lebih lanjut di Kampung Lengo, ditemukan satu anak stunting yang saat ini telah mendapatkan intervensi melalui bantuan dan pendampingan kesehatan dari posyandu dan puskesmas.
“Harapannya setelah pembinaan ini, tidak ada lagi anak stunting di Kampung Lengo. Pengetahuan yang didapat perempuan binaan harus berkelanjutan bukan hanya saat lomba, tapi untuk masa depan,” Hj Lusi
Pelaksanaan verifikasi dan evaluasi akhir P2WKSS di Kampung Lengo menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan perempuan mampu membawa perubahan signifikan bagi keluarga dan lingkungan.
Melalui program ini, perempuan tidak hanya dibina tetapi juga diberdayakan untuk menjadi mandiri, produktif, dan mampu menularkan kebaikan bagi masyarakat sekitarnya.
![]()
Penulis : Hendrik
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan