Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Eks Bobotoh Persib: Kapan Majunya Sepakbola Indonesia

Minggu, 2 Oktober 2022 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tasikmalaya, MNP – Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada pekan ke-11 BRI Liga I 2022/2023 yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan Malang berakhir ricuh, sedikitnya 127 orang meninggal .

Pasca laga tersebut mantan Bobotoh tahu 1995 angka bicara, salah satunya Bobotoh Tasela (Tasikmalaya Selatan) Deni Herdiani warga Cibeunying Desa/kecamatan Karangnunggal kabupaten Tasikmalaya.

“Rivalitas hanya 90 menit, selanjutnya setelah itu kita saudara satu Nusa satu Bangsa satu Bahasa,” ungkapnya kepada MNP, Minggu (02/10/2022).

Menurutnya, sekarang itu suporter harus bergabung demi kemajuan sepakbola Indonesia, kapan maju kalau masih banyak oknum suporter yang seperti ini.

“Dulu saya Bobotoh fanatik, saya rela dari Karangnunggal pergi ke Senayan untuk melihat tim kesayangan waktu itu Final antara Persib vs Petrokimia Gersik tahun 1995, waktu itu Persib menjadi juara,” ungkapnya.

Deni rela berjalan kaki untuk menyaksikan laga final, sesekali memberhentikan mobil truk, karena yang penting sampai Senayan. Itu, saking ngefans terhadap Tim kebanggaan Jawa Barat.

“Saya juga nekat dari tribun atas turun menggunakan spanduk, pada waktu itu saya mengikat beberapa spanduk hanya ingin nonton di paling depan, karena kebetulan saya paling atas, pada waktu itu saya tidak takut celaka yang terpenting demi Persib,” pungkasnya.

Terpisah Bedong warga kelurahan Cijujung kelurahan Sukaraja kabupaten Bogor eks Bobotoh Jurig Kebon Raya meminta, jadilah Suporter yang proporsionak.

“Karena rivalitas hanya 90 menit selanjutnya Dulur, yang rugi itu siapa? tentunya Tim dan PSSI, bahkan kerugian Negara,” jelas Bedong.

Oknum Suporter tidak akan sadar kejadian seperti ini berdampak pada kerugian Tim kebanggaannya seperti sanksi dari Komdis PSSI atau federasi sepakbola dunia.

“Ayo kita samakan persepsi sesama suporter, biar masyarakat menikmati permainan sepakbola Indonesia yang kian hari semakin menunjukkan progres positif,” ajaknya

Kata Bedong, sepakbola diciptakan, bukan untuk permusuhan, tapi seharusnya menjadi pemersatu bangsa,  jadi bergabunglah para suporter Indonesia.

“Jangan sampai ada permusuhan-permusuhan lagi. Ini bukan lagi zamannya barbar seperti dulu, jangan bangga menjadi suporter yang akhirnya mencoreng nama baik klub sendiri,” tandasnya. (Sn).

Loading

Berita Terkait

Persiapkan Strata Kepengurusan, DPC PKB Pakpak Bharat Gelar Musyawarah Penataan DPAC
Kejuaraan Gateball PGRI Cibeureum: Melahirkan Atlet Berprestasi Kalangan Pendidik
Cegah Karhutla, Bupati Barito Timur Minta Semua Pihak Bergerak Cepat
Kades Campaka Optimistis Genjot PBB, Imbau Warga Lapor Setiap Transaksi Jual Beli Tanah
Terlibat Cekcok di Pasar Ciawitali Garut, Polisi Ringkus Empat Pemuda Diduga Mabuk
Restrukturisasi Massal, PWI Sulsel Soroti Kepengurusan Bone, Soppeng dan Wajo
Cucu Darmawati Kembali Pimpin Garnita Malahayati NasDem Kota Tasikmalaya
Dermaga Kuala Mulya–Tanjung Sari Nyaris Ambruk, Pemerintah Jangan Tunggu Korban Jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Persiapkan Strata Kepengurusan, DPC PKB Pakpak Bharat Gelar Musyawarah Penataan DPAC

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Kejuaraan Gateball PGRI Cibeureum: Melahirkan Atlet Berprestasi Kalangan Pendidik

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:41 WIB

Cegah Karhutla, Bupati Barito Timur Minta Semua Pihak Bergerak Cepat

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:35 WIB

Kades Campaka Optimistis Genjot PBB, Imbau Warga Lapor Setiap Transaksi Jual Beli Tanah

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Terlibat Cekcok di Pasar Ciawitali Garut, Polisi Ringkus Empat Pemuda Diduga Mabuk

Berita Terbaru