TASIKMALAYA, MNP — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi, menggelar kegiatan pelatihan “Penguatan Kapasitas Pemuda” yang berlangsung di Aula Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, pada Senin–Selasa (2–3/11/2026).
Pelatihan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk respon atas tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), di tengah masifnya perkembangan media sosial dan dinamika sosial ekonomi saat ini.
Kepler Sianturi mengungkapkan bahwa Gen Z kerap diidentikkan dengan fenomena strawberry generation—generasi yang tampak kreatif namun dinilai rentan, kurang konsisten, dan kurang tangguh menghadapi tantangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski demikian, ia optimistis potensi kepemudaan di Kota Tasikmalaya sangat luar biasa jika diberikan wadah edukasi dan pembinaan yang tepat.
Melalui pelatihan ini, lanjut Kepler, pihaknya memberikan penguatan agar pemuda kedepannya memiliki landasan moral dan mental yang kokoh berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
“Pemuda yang tangguh adalah mereka yang memegang teguh keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Kepler.
Selain pembekalan ideologi dan karakter, peserta pelatihan juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya merumuskan visi dan misi hidup.
Menurut Kepler, generasi muda wajib memiliki target yang jelas agar mampu membentengi diri dari berbagai ancaman sosial seperti bahaya narkoba dan aksi geng motor yang meresahkan.
Tak hanya itu, ia juga mendorong para pemuda di Kecamatan Bungursari untuk lebih peka (aware) terhadap persoalan di sekitarnya, mulai dari masalah sampah hingga infrastruktur jalan yang rusak.
“Pemuda harus menjadi motor penggerak yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Berjuang menjaga lingkungan dan mengawal pembangunan sosial adalah bagian dari cita-cita luhur Bung Karno untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepler juga memberikan pencerahan mengenai pemanfaatan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPRD.
Ia meminta jajaran eksekutif, pengelola keuangan daerah, maupun masyarakat umum untuk tidak memandang Pokir dengan stereotip negatif.
Kepler menegaskan bahwa kegiatan pelatihan kepemudaan ini merupakan salah satu wujud alokasi dana Pokir yang dihadirkan murni atas dasar aspirasi dan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Dirinya menyebut, jangan ada kesan seolah-olah Pokir itu sekadar proyek dewan atau kegiatan yang formalitas semata.
“Pokir adalah instrumen resmi untuk merealisasikan aspirasi dan janji politik yang dibutuhkan warga. Selama dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel, Pokir dipastikan membawa kemaslahatan besar bagi masyarakat,” pungkas Kepler.
![]()
Penulis : Mon's
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan