Tatap Indonesia Emas 2045, PMII STISIP Tasikmalaya Ingatkan Bonus Demografi Tak Cukup Sebatas Slogan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Refleksi menuju Indonesia Emas 2045 soroti krisis kepemimpinan, ketimpangan sosial, dan menyempitnya ruang kritis generasi muda. Mahasiswa ditantang kembali menjadi kekuatan moral, intelektual, dan agen perubahan.

Refleksi menuju Indonesia Emas 2045 soroti krisis kepemimpinan, ketimpangan sosial, dan menyempitnya ruang kritis generasi muda. Mahasiswa ditantang kembali menjadi kekuatan moral, intelektual, dan agen perubahan.

TASIKMALAYA, MNP – Peringatan Sumpah Pemuda tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan, pembacaan ikrar, atau pengulangan narasi persatuan.

Lebih dari itu, nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa harus menjadi energi perjuangan yang diwujudkan melalui keberanian berpikir kritis, bersikap, dan mengambil tanggung jawab terhadap persoalan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Refleksi dan Diskusi Kepemudaan yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STISIP Tasikmalaya dengan mengusung tema “Refleksi dan Aktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk menguji kembali sejauh mana semangat Sumpah Pemuda masih hidup dalam kesadaran dan gerakan generasi muda di tengah berbagai persoalan bangsa yang semakin kompleks.

Mulai dari krisis kepemimpinan, ketimpangan sosial, persoalan pendidikan, hingga semakin terbatasnya ruang partisipasi publik dan daya kritis generasi muda, seluruhnya menjadi tantangan yang tidak bisa dijawab hanya dengan retorika optimisme.

PMII Komisariat STISIP Tasikmalaya menilai, pemuda tidak boleh terjebak dalam kenyamanan, apatisme, apalagi kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Sebab, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar dalam perjalanan bangsa tidak lahir dari sikap diam dan kepasrahan, melainkan dari kesadaran kolektif, keberanian berpikir, serta kemauan untuk memperjuangkan cita-cita bersama.

Nasionalisme Bukan Alasan untuk Diam terhadap Ketidakadilan

Salah satu pesan penting dalam refleksi tersebut adalah perlunya menempatkan semangat persatuan dan keberanian berpikir kritis dalam satu tarikan napas.

Nasionalisme tidak boleh dimaknai sebagai kewajiban untuk membenarkan seluruh keadaan. Begitu pula kecintaan terhadap bangsa tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap ketidakadilan, ketimpangan, maupun kebijakan yang patut dikritisi.

Justru, kecintaan terhadap Indonesia harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap nasib rakyat dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sekadar menjadi penonton dinamika sosial dan politik.

Mereka harus mampu membaca realitas, menguji kebijakan secara objektif, serta menyampaikan kritik yang berbasis pengetahuan dan berpihak pada kepentingan publik.

Kritik bukan bentuk ketidaksetiaan terhadap bangsa. Sebaliknya, kritik yang bertanggung jawab merupakan bagian dari upaya menjaga agar arah perjalanan bangsa tetap berada pada cita-cita keadilan dan kesejahteraan.

Indonesia Emas 2045 Jangan Berhenti pada Slogan

PMII Komisariat STISIP Tasikmalaya juga menyoroti bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun melalui optimisme bonus demografi, narasi pembangunan, maupun slogan kemajuan yang terus diulang.

Bonus demografi hanya akan menjadi peluang apabila diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai.

Indonesia membutuhkan generasi muda yang berkarakter, berpengetahuan, berintegritas, memiliki kepekaan sosial, serta keberanian untuk mengoreksi kekuasaan ketika kebijakan dan praktik penyelenggaraan negara tidak sejalan dengan kepentingan masyarakat.

Tanpa kualitas tersebut, bonus demografi berpotensi menjadi angka statistik yang tidak otomatis menghasilkan kemajuan.

Karena itu, pembangunan generasi muda harus diarahkan pada penguatan kapasitas intelektual, karakter kebangsaan, kesadaran demokrasi, dan keberpihakan terhadap persoalan rakyat.

Mahasiswa Harus Kembali pada Tanggung Jawab Sejarah

Bagi PMII, menjadi pemuda bukan semata-mata persoalan usia. Lebih jauh, pemuda adalah tentang kesediaan mengambil tanggung jawab sejarah dan keberanian untuk terlibat dalam proses perubahan.

Mahasiswa harus tetap menjaga posisinya sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu menghadirkan gagasan, membangun kesadaran publik, serta mengawal kehidupan demokrasi.

Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang untuk memperoleh gelar akademik, sementara realitas sosial di sekitarnya diabaikan. Pengetahuan harus memiliki kebermanfaatan, dan idealisme harus diterjemahkan menjadi tindakan yang terukur.

Di sinilah organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis: membentuk kader yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga mampu menganalisis persoalan, menawarkan solusi, dan konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Refleksi Sumpah Pemuda yang digagas PMII Komisariat STISIP Tasikmalaya pada akhirnya menjadi pengingat bahwa generasi muda tidak boleh kehilangan orientasi perjuangannya.

Sumpah Pemuda harus menjadi energi perubahan, bukan sekadar romantisme sejarah. Sebab, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa sering generasi mudanya mengucapkan cita-cita besar, melainkan oleh seberapa serius mereka memperjuangkannya.

Jangan hanya menjadi generasi yang mewarisi sejarah. Jadilah generasi yang berani menuliskan sejarah perubahan.

PMII Komisariat STISIP Tasikmalaya menegaskan: pemuda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi penentu arah masa depan bangsa.

Loading

Penulis : Alex

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Bantu Kesehatan Masyarakat dan Gelar Verifikasi DPRt, NasDem Kota Tasikmalaya Targetkan Kursi Pemilu 2029
Ancaman Digital Mengintai Anak! Sekolah dan Orangtua Dituntut Bersinergi Perkuat Pendidikan Agama
Andreas Simanjuntak Minta GAMKI Tasikmalaya Lahirkan Kader Berani dan Kritis
Gandeng Dinas PU dan TNI-Polri, Kades Lentu Pimpin Warga Normalisasi Irigasi Jelang Musim Tanam
Bau Tak Sedap Pekerjaan Jalan Provinsi Patung-Hayaping, Diduga Jadi Ajang Jual Beli Proyek
Nestapa Warga Bogor Penggali Kubur: Sering Kelaparan, Hidup Sebatang Kara di Rumah Lapuk
Dengar Aspirasi Langsung di Lapangan, Kapolres Bogor Canda Tawa Ngariung Bareng Ojol
Epi Mulyana Tekankan Deteksi Dini Kekerasan Anak: Keluarga dan Lingkungan Jangan Tutup Mata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Tatap Indonesia Emas 2045, PMII STISIP Tasikmalaya Ingatkan Bonus Demografi Tak Cukup Sebatas Slogan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Bantu Kesehatan Masyarakat dan Gelar Verifikasi DPRt, NasDem Kota Tasikmalaya Targetkan Kursi Pemilu 2029

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:58 WIB

Ancaman Digital Mengintai Anak! Sekolah dan Orangtua Dituntut Bersinergi Perkuat Pendidikan Agama

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Andreas Simanjuntak Minta GAMKI Tasikmalaya Lahirkan Kader Berani dan Kritis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Gandeng Dinas PU dan TNI-Polri, Kades Lentu Pimpin Warga Normalisasi Irigasi Jelang Musim Tanam

Berita Terbaru