Dampak Limbah Tambang, Ekosistem Sungai Munte Terancam Mati Tertimbun Lumpur Disposal

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BARITO TIMUR, MNP – Keluhan Warga atas Dugaan Limbah Tambang PT Bartim Coalindo, Sungai Munte, anak Sungai Karau yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan warga, kini tak lagi sebening dulu.

Aliran airnya tampak keruh, pekat, dan dipenuhi lumpur. Di beberapa titik, sungai itu bahkan terlihat seperti berhenti bernapas tertutup endapan yang diduga berasal dari aktivitas disposal tambang PT Bartim Coalindo.

Bagi warga sekitar, Sungai Munte bukan sekadar aliran air. Di sanalah mereka mandi, mencuci, bahkan menggantungkan kebutuhan air sehari-hari.

Namun kini, sungai yang dulu jernih itu berubah wajah. Lumpur tebal mengendap di dasar, sementara air yang mengalir membawa warna kecokelatan yang mencurigakan.

Keluhan atas kondisi tersebut disampaikan Aloisius Jumianto. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari dugaan pembuangan lumpur disposal tambang ke aliran Sungai Munte.

“Air sungai sekarang sudah berbeda. Keruh dan berlumpur. Kami khawatir ini dampak dari aktivitas tambang yang tidak dikelola dengan baik,” ujar Aloisius.

Menurutnya, aliran Sungai Munte yang merupakan anak Sungai ,kini seakan tertutup lumpur, terutama saat musim hujan.

Endapan lumpur tersebut tidak hanya mengganggu aliran air, tetapi juga mengancam ekosistem sungai dan kesehatan masyarakat yang masih bergantung pada sungai tersebut.

Warga berharap perusahaan tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Aloisius menegaskan, PT Bartim Coalindo harus bertanggung jawab dan segera mengambil langkah nyata untuk memulihkan lingkungan yang terdampak.

“Kami tidak menolak pembangunan, tapi lingkungan dan keselamatan warga juga harus dijaga,” katanya lirih.

Di tengah derasnya arus aktivitas pertambangan, Sungai Munte kini menjadi saksi bisu perubahan. Warga hanya berharap, sungai yang dulu memberi kehidupan itu tidak benar-benar mati oleh lumpur dan kelalaian manusia.

Loading

Penulis : Yulius Yartono

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Bartim Peringati HUT ke-24, Sekda Kalteng Jadi Inspektur Upacara
72 Pekan Menjaga Kebersihan, Jumat Bersih Jadi Gerakan Nyata Wujudkan Jeneponto Bahagia
Semarak HUT ke-81 RI, Kalapas Kendal Resmi Buka Pekan Olahraga Petugas dan Warga Binaan
Puluhan Siswa SDN 01 Ciherang Dramaga Diduga Keracunan, Ketua FJP2 Bogor Raya Desak Investigasi Menyeluruh
Semarak HUT ke-81 RI, Kalapas Kendal Resmi Buka Pekan Olahraga Petugas dan Warga Binaan
Pasca OTT Bupati, Kantor Dindikpora Pemalang Digeledah KPK, Kepala Dinas Siap Kooperatif
KRISIS SAMPAH ENREKANG: Armada Ditambah, Tapi Kepedulian Pemimpin Jadi Kunci
Bupati Tasikmalaya Lantik 18 Pejabat, Tegaskan Penempatan ASN Berdasarkan Sistem Merit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Bartim Peringati HUT ke-24, Sekda Kalteng Jadi Inspektur Upacara

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:17 WIB

72 Pekan Menjaga Kebersihan, Jumat Bersih Jadi Gerakan Nyata Wujudkan Jeneponto Bahagia

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:06 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Kalapas Kendal Resmi Buka Pekan Olahraga Petugas dan Warga Binaan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:58 WIB

Puluhan Siswa SDN 01 Ciherang Dramaga Diduga Keracunan, Ketua FJP2 Bogor Raya Desak Investigasi Menyeluruh

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:41 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Kalapas Kendal Resmi Buka Pekan Olahraga Petugas dan Warga Binaan

Berita Terbaru

Barito Timur

Bartim Peringati HUT ke-24, Sekda Kalteng Jadi Inspektur Upacara

Sabtu, 8 Agu 2026 - 10:30 WIB