BARITO TIMUR, MNP – Keluhan Warga atas Dugaan Limbah Tambang PT Bartim Coalindo, Sungai Munte, anak Sungai Karau yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan warga, kini tak lagi sebening dulu.
Aliran airnya tampak keruh, pekat, dan dipenuhi lumpur. Di beberapa titik, sungai itu bahkan terlihat seperti berhenti bernapas tertutup endapan yang diduga berasal dari aktivitas disposal tambang PT Bartim Coalindo.
Bagi warga sekitar, Sungai Munte bukan sekadar aliran air. Di sanalah mereka mandi, mencuci, bahkan menggantungkan kebutuhan air sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun kini, sungai yang dulu jernih itu berubah wajah. Lumpur tebal mengendap di dasar, sementara air yang mengalir membawa warna kecokelatan yang mencurigakan.
Keluhan atas kondisi tersebut disampaikan Aloisius Jumianto. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari dugaan pembuangan lumpur disposal tambang ke aliran Sungai Munte.
“Air sungai sekarang sudah berbeda. Keruh dan berlumpur. Kami khawatir ini dampak dari aktivitas tambang yang tidak dikelola dengan baik,” ujar Aloisius.
Menurutnya, aliran Sungai Munte yang merupakan anak Sungai ,kini seakan tertutup lumpur, terutama saat musim hujan.
Endapan lumpur tersebut tidak hanya mengganggu aliran air, tetapi juga mengancam ekosistem sungai dan kesehatan masyarakat yang masih bergantung pada sungai tersebut.
Warga berharap perusahaan tidak menutup mata terhadap kondisi ini. Aloisius menegaskan, PT Bartim Coalindo harus bertanggung jawab dan segera mengambil langkah nyata untuk memulihkan lingkungan yang terdampak.
“Kami tidak menolak pembangunan, tapi lingkungan dan keselamatan warga juga harus dijaga,” katanya lirih.
Di tengah derasnya arus aktivitas pertambangan, Sungai Munte kini menjadi saksi bisu perubahan. Warga hanya berharap, sungai yang dulu memberi kehidupan itu tidak benar-benar mati oleh lumpur dan kelalaian manusia.
![]()
Penulis : Yulius Yartono
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan