Situ Gede Kering Parah, Aktivitas Tambang Galian C Diduga Jadi Pemicu

Minggu, 9 Agustus 2026 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TASIKMALAYA, MNP – Dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Tasikmalaya makin memprihatinkan.

Situ Gede, yang selama ini menjadi destinasi wisata sekaligus penampung air vital bagi sektor pertanian, kini mengalami kekeringan parah hingga menyusut drastis.

Kondisi ini berdampak langsung pada mata pencaharian warga sekitar yang bergantung pada kelestarian situ tersebut.

Mang Dayat, warga lokal setempat menuturkan bahwa kini ia tak lagi bisa mencari ikan akibat air yang surut total. Untuk menyambung hidup sehari-hari, ia terpaksa beralih profesi sementara.

“Sekarang situ-nya tidak ada airnya. Jadi untuk mata pencaharian, sementara hanya bisa ngambil rumput saja untuk makan ternak,” ungkap Mang Dayat.

Selain faktor cuaca, mengeringnya Situ Gede diduga kuat dipicu oleh hilangnya sumber-sumber mata air di kawasan pegunungan sekitarnya.

Banyak area resapan yang disinyalir telah rusak akibat maraknya aktivitas alat berat dari pertambangan, khususnya galian C.

Warga menyayangkan mudahnya penerbitan izin aktivitas tambang yang tidak memperhitungkan dampak lingkungan jangka panjang, terutama terhadap pasokan air menuju Situ Gede.

Menanggapi kondisi tersebut, Tatang Sutarman eks Humas Kompepar (Kelompok masyarakat Pemberdayaan Pariwisata) mendesak Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk lebih selektif dan memperketat proses perizinan usaha tambang di wilayah perbukitan dan pegunungan.

“Pemerintah diminta melakukan kajian lingkungan hidup yang mendalam sebelum memberikan izin operasional, guna melindungi kawasan resapan air yang menopang kehidupan Situ Gede dan masyarakat sekitarnya,” ucap pria yang akrab disapa Tatang Toke ini.

Menurutnya, langkah tegas dari pemerintah sangat diharapkan agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah dan dampak kekeringan serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

“Jangan sampai kondisi ini terus terusan jika terjadi musim kemarau, karena dampak Galian C sangat merusak lahan resapan yang biasa menjadi sumber mata air,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Red

Berita Terkait

Setiap Regulasi dan Kebijakan Harus Menguntungkan Negara dan Rakyat Kecil
Menuju Perubahan Positif, 65 Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat Jalani Asesmen Rehabilitasi
MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran, Posisi Wapres Tetap Sah
Guru Disorot, Kepsek Dinonaktifkan, Kasus Bullying Siswa SDN 01 Kebondalem Pemalang Mencuat ke Nasional
Edukasi Gerakan Indihiang Bersedekah: Pilah Sampah, Jaga Lingkungan Sekaligus Berbagi
DPD IPK Pakpak Bharat Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Dusun Natam Julu
Puluhan Pekerja KSO CV Java Victory Bertahan di PT SBL, Karyawan Resah Minta Aparat Turun Tangan
AMPKP Desak KPK-RI Ambil Alih dan Dalami Kasus Import Sianida PT PPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:44 WIB

Setiap Regulasi dan Kebijakan Harus Menguntungkan Negara dan Rakyat Kecil

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Menuju Perubahan Positif, 65 Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat Jalani Asesmen Rehabilitasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:04 WIB

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran, Posisi Wapres Tetap Sah

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Guru Disorot, Kepsek Dinonaktifkan, Kasus Bullying Siswa SDN 01 Kebondalem Pemalang Mencuat ke Nasional

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:38 WIB

Edukasi Gerakan Indihiang Bersedekah: Pilah Sampah, Jaga Lingkungan Sekaligus Berbagi

Berita Terbaru

Berita terbaru

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran, Posisi Wapres Tetap Sah

Rabu, 7 Okt 2026 - 19:04 WIB