BOGOR, MNP – Belum genap sebulan menjabat sebagai Camat Ciampea, Yudhi Utomo, sudah meminta dijadikan sorotan kalangan Jurnalis.
Itu bukan karena point positif kinerja dirinya, atau gebrakan pelayanan publik yang dilakukannya, tapi karena sikap tertutup yang diperlihatkannya saat di hadapan para jurnalis, yang tengah menjalankan tupoksi profesinya.
Camat tersebut pun sulit diakses komunikasinya, khususnya oleh kalangan Jurnalis. Sorotan tersebut kembali mencuat di acara lepas sambut Camat Ciampea, dari Camat sebelumnya Drs. Pardi, AP., pada Yudhi Utomo, sebagai pengganti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara digelar di Kampung Wisata Cinangneng, Desa Cihideung Udik, di hadapan unsur Forkopimcam serta APDESI, MUI, Kader PKK, dan para tamu undangan lainnya, awak media yang hadir tidak mendapatkan porsi (kesempatan) untuk memperoleh keterangan dari camat baru tersebut, pada Rabu (17/6/2026).
Padahal, momentum lepas sambutnya itu merupakan kesempatan baik pertama, bagi seorang pejabat baru untuk perkenalkan dirinya, pada publik melalui media media resmi berbadan hukum, merujuk UU No. 14 tahun 2008, tentang KIP (Keterbukaan Informasi Publik).
Sekaligus bisa juga untuk menyampaikan visi misinya, mengenai banyak program prioritas dan arah kebijakan publik yang akan dijalankannya, selama dirinya memimpin Kecamatan Ciampea, di kurun waktu yang terbatas dan tidak diketahui berapa lamanya.
Namun harapan tersebut tidak terwujud. Sejumlah Wartawan mengaku kesulitan mendapat komentar maupun pernyataan resmi dari Yudhi Utomo.
Sikap tidak terpujinya tersebut, juga disebut bukan kali pertama ini terjadi. Karena sebelumnya itu pernah dilakukannya, saat dia menghadiri Tasyakur Hari Ulang Tahun Desa Cibanteng, Yudhi Utomo yang hadir sebagai tamu undangan juga disebut menolak memberikan keterangan, ketika hendak diwawancarai sejumlah Wartawan.
Bahkan dirinya tidak segan-segan mengaku bahwa, dirinya pun tidak pernah ngasih nomor kontak pribadinya untuk Wartawan, dimana serta kapan pun, pada wartawan dari media apa pun.
Menurut pengakuan sejumlah awak media di lokasi acara lepas sambut tersebut, saat dia dimintai untuk wawancara, hanya memberi jawaban singkat. “Saya di sini hanya undangan,” ucapnya.
Jawaban tersebut sontak menimbulkan tanda tanya, pasalnya, meskipun hadir hanya sebagai tamu undangan, status Yudhi tetap sebagai Pemimpin di wilayah kecamatan, yakni sebagai Camat Ciampea.
Camat merupakan Pejabat Publik pemerintahan, yang sah sebagai representasi pemerintahan dari wilayah tersebut.
Tidak hanya itu, saat para wartawan mencoba minta nomor kontaknya, itu jelas dan pasti untuk kebutuhan konektifitas komunikasi dan konfirmasi, yang kelak pasti dibutuhkannya, demi kepentingan Keterbukaan Informasi Publik, tentang keberimbangan substansi pemberitaan.
Di situ Yudhi pun hanya berkenan kasih jawaban singkat. “Saya tidak pernah memberikan nomor kontak Saya pada Wartawan,” ke Sekcam saja lah, mau konfirmasi apapun,” tukasnya ketus.
Pernyataan tersebut pun memicu reaksi di kalangan Wartawan. Sebab di dalam praktik menjalankan tugas pokok dan fungsi profesi jurnalistik, seorang jurnalis diberikan dan dibenarkan untuk mengakses, jalinan komunikasi pada pejabat publik.
Pasalnya bal itu merupakan bagian terpentingnya guna memperoleh hak informasi yang akurat, berimbang dan dapat dipertanggung jawabkan, secara moral dan konstitusi pada warga masyarakat para penikmat (konsumen) beritanya.
Sejumlah Jurnalis menilai sikap Camat tersebut pun sebagai cermin minimnya serta rendahnya niat baik, untuk sebuah keterbukaan terhadap Insan Pers NKRI, khususnya wilayah Bogor Raya dan sekitarnya, saat ini.
Padahal media bukan musuh pemerintah yang sah, justru diakui sebagai mitranya dan diposisikan sebagai pilar keempat di Negara penganut faham Demokrasi Pancasila ini, yang berfungsi jelas, guna menyampaikan berbagai informasi pembangunan, pelayanan publik, hingga berbagai program prioritas maupun non prioritas, dari pemerintah kepada warga masyarakat secara luas.
Atas ulah Camat Ciampea tersebut, Asep Didi, selaku Koordinator Wilayah Jawa Barat – Banten, dari Media Nasional POTRET, angkat bicara dengan tegas.
“Yang menjadi pertanyaan besar Kita ya, bagaimana masyarakat mengetahui program dan kebijakannya (Camat baru Ciampea ini), jika tiap upaya konfirmasi dari para awak media saja selalu sengaja ditolak atau dihindarinya ? Sedangkan Keterbukaan Informasi itu bukan sekadar slogan, tapi harus diwujudkan,” ucap Asep Didi.
“Metode untuk mewujudkannya, itu harus berkomunikasi yang baik, dan minimal dua arah komunikasi, yaitu di antara pihak birokrasi pemerintah dengan publik (para warga masyarakatnya) dan insan Pers (para awak media), sebagai kontrol sosial independent,” tegas Asep Didi.
Selain konteks komunikasi tadi, di pelaksanaan acara lepas sambutnya tersebut, yang dilaksanakan di luar Kantor Kecamatan, itu pun memunculkan pertanyaan spekulatif. Mengingat Kec. Ciampea punya Aula, yang cukup luas daya tampung nya, lumayan representatif untuk menggelar berbagai kegiatan resmi seperti itu.
Bahkan hingga berita ini diturunkan pun, belum ada keterangan resmi didapat, baik dari Camat Ciampea, Yudhi, maupun dari pihak terkaitnya, yang berkaitan alasan pelaksanaan lepas sambut di luar kantornya, maupun tanggapan atas keluhan sejumlah Jurnalis, yang mengaku kesulitan mendapatkan akses meski untuk sekedar komunikasi, itu pun demi kepentingan konfirmasi menjalankan tupoksi profesi jurnalisnya.
Sikap sombong seorang Pejabat Publik, terhadap para awak media, ini pada akhirnya dinilai langsung oleh masyarakat.
Sebab di era keterbukaan informasi saat ini, publik berharap pemimpinnya hadir bukan hanya di dalam kegiatan seremonial saja, tapi juga terbuka terhadap beragam aspirasi publik, berbentuk pertanyaan, kritik, saran, maupun konfirmasi, yang disampaikan melalui Insan Pers alias Jurnalis.
![]()
Penulis : Tim
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan