Septyan Hadinata: Pancasila Bukan Sekadar Dasar Negara, Tetapi Tarekat Kebangsaan

Senin, 1 Juni 2026 - 12:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Pergerakan Solidaritas Ummat, Septyan Hadinata

Koordinator Pergerakan Solidaritas Ummat, Septyan Hadinata

TASIKMALAYA, MNP – Di tengah tantangan sosial, politik, dan krisis etika publik yang dihadapi bangsa Indonesia, Koordinator Pergerakan Solidaritas Ummat, Septyan Hadinata, mengajak masyarakat untuk memaknai Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai “tarekat kebangsaan” yang membimbing kehidupan moral bangsa.

Menurut Septyan, berbagai persoalan yang terjadi saat ini seperti korupsi, intoleransi, polarisasi sosial, hingga melemahnya solidaritas masyarakat merupakan gejala dari krisis orientasi nilai atau value disorientation, yaitu kondisi ketika masyarakat kehilangan arah moral dalam kehidupan berbangsa.

“Pancasila jangan hanya dipahami sebagai simbol kenegaraan atau hafalan dalam pendidikan formal. Pancasila harus menjadi jalan hidup, jalan moral, bahkan dapat dimaknai sebagai tarekat kebangsaan yang membimbing bangsa menuju peradaban yang berkeadilan,” ujar Septyan kepada media, Minggu (1/6).

Dalam pandangannya, istilah tarekat tidak semata dimaknai sebagai praktik spiritual dalam tradisi tasawuf, tetapi sebagai metode pembentukan karakter dan kesadaran moral. Dalam tradisi tasawuf, seorang salik menempuh jalan spiritual melalui proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan mujahadatun nafs (pengendalian ego) untuk mencapai akhlak yang luhur.

“Jika tasawuf mengajarkan perjalanan manusia membersihkan hati dari kesombongan dan hawa nafsu, maka Pancasila mengajarkan bangsa membersihkan kehidupan sosial dari ketidakadilan, perpecahan, dan egoisme kelompok,” katanya.

Septyan menjelaskan bahwa secara ilmiah Pancasila dapat dipahami sebagai value system atau sistem nilai yang menjadi fondasi perilaku kolektif masyarakat. Selain itu, Pancasila juga berfungsi sebagai social ethics framework atau kerangka etika sosial yang mengatur hubungan antara individu, masyarakat, dan negara.

Menurutnya, sila pertama membangun kesadaran transendental dan integritas moral, sila kedua menanamkan penghormatan terhadap martabat manusia (human dignity), sila ketiga memperkuat social cohesion atau kohesi sosial, sila keempat mengajarkan deliberative democracy melalui musyawarah, dan sila kelima mengarahkan bangsa pada cita-cita keadilan sosial.

“Banyak orang hafal Pancasila, tetapi belum menginternalisasikan nilainya dalam perilaku sehari-hari. Di sinilah tantangan terbesar bangsa kita. Persoalannya bukan kekurangan aturan, tetapi lemahnya internalisasi nilai,” tegasnya.

Sebagai aktivis sosial dan kader yang berangkat dari tradisi Aswaja, Septyan menilai nilai-nilai Pancasila memiliki titik temu yang kuat dengan prinsip tawasuth (moderasi), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (keadilan) yang selama ini menjadi fondasi pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menegaskan bahwa ber-Aswaja dan ber-Pancasila bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan kemaslahatan, menjaga persatuan, dan membangun kehidupan yang beradab.

“Ber-Pancasila bukan sekadar identitas politik atau slogan kebangsaan. Ia adalah laku moral. Ia adalah jalan etika. Ia adalah tarekat kebangsaan yang menuntun Indonesia menuju peradaban yang bermartabat,” ungkapnya.

Septyan berharap momentum Hari Lahir Pancasila tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi menjadi refleksi bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat.

“Kalau tasawuf mengajarkan membersihkan hati, maka Pancasila mengajarkan merawat negeri. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh karakter dan kesadaran moral warganya,” pungkasnya.

Loading

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Hafal Al-Qur’an Sambil Nikmati Alam Galunggung, Aksi Keren Kelas Siswa KUCI SMPN 5 Tasikmalaya
Sengketa Proyek Rp47 Miliar Bergulir, Sidang Perdana Digelar di Pengadilan Negeri Tasikmalaya
Bupati dan Wakil Bupati Diperiksa KPK, Warga Bogor Raya Mengaku Malu
Tragedi Berdarah di Dusun Tengah: Dipicu Persoalan Lama, Pria Tewas Ditebas Parang
Lurah Empangsari Apresiasi Zapatas Cup Tok Tak, Dorong Jadi Agenda Rutin Setiap Oktober
Teka-Teki Pembacokan Bobotoh Terkuak: Polisi Tegaskan Tak Ada Kaitan Rivalitas Suporter
Youth Fest 2026 di Taraju, Wabup Asep Sopari Apresiasi Kreativitas dan Kekompakan Pemuda Tasikmalaya
DPW PKB Sumut Pacu Kinerja DPC Lewat Pengukuhan dan Rakercab Serentak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Hafal Al-Qur’an Sambil Nikmati Alam Galunggung, Aksi Keren Kelas Siswa KUCI SMPN 5 Tasikmalaya

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Sengketa Proyek Rp47 Miliar Bergulir, Sidang Perdana Digelar di Pengadilan Negeri Tasikmalaya

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:28 WIB

Bupati dan Wakil Bupati Diperiksa KPK, Warga Bogor Raya Mengaku Malu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:03 WIB

Tragedi Berdarah di Dusun Tengah: Dipicu Persoalan Lama, Pria Tewas Ditebas Parang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:14 WIB

Lurah Empangsari Apresiasi Zapatas Cup Tok Tak, Dorong Jadi Agenda Rutin Setiap Oktober

Berita Terbaru

Berita terbaru

Bupati dan Wakil Bupati Diperiksa KPK, Warga Bogor Raya Mengaku Malu

Jumat, 30 Okt 2026 - 12:28 WIB