BOGOR, MNP – Puluhan siswa SDN 01 Ciherang, Kecamatan Dramaga – Kab. Bogor, mengalami mual dan muntah setelah menyantap makanannya, yang dibagikan di gedung sekolah mereka, Kamis (7/8/2026).
Bahkan ada informasi, seorang guru di sekolah tersebut juga, dilaporkan alami keluhan serupa. Hingga Kamis sore, lebih dari 20 siswa dilaporkan tengah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Ciherang, dengan didampingi orang tuanya masing-masing.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian khusus dari Ketua Forum Jurnalis Peduli Publik (FJP2) Bogor Raya, Ade Suhendar. Ade meminta agar kejadian tersebut tidak hanya dianggap sebagai persoalan biasa saja, dan harus segera ditelusuri secara menyeluruh untuk mengetahui sumber penyebabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Ade, pemerintah daerah dan instansi terkaitnya, perlu memastikan keamanan makanan yang akan diberikan kepada siswa, terlebih makanan tersebut merupakan program penyediaan makanan bergizi bagi para peserta didik.
“Ini mah bukan sekadar persoalan siswa yang mengalami mual hingga muntah. Jelas ada aspek keamanan pangan, yang harus diperiksa secara serius dan komprehensif. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali, terlebih lagi jika sampai menimbulkan korbannya lebih banyak,” ujar Ade.
Ade meminta pemeriksaan tak berhenti pada siswa, yang bisa dibilang korban terdampaknya, yang langsung mengalami hal meskipun masih bersifat gejala (dugaan keracunan : red).
Tapi, menurutnya, dari seluruh rantai penyediaan produknya itu harus ditelusuri, mulai dari pengadaan bahan bakunya, prosesnya, lalu lokasi penyimpanannya, proses pengolahannya, pengemasannya, hingga pendistribusian produk olahan makanannya ke sekolah tersebut.
“Kalau benar masalah itu pada makanannya, harus terlebih dahulu dicari tau, terjadinya tadi di tahapan mana, apakah dari bahan bakunya, di dalam proses pengolahannya, atau dari tempat penyimpanannya, dalam pengemasan atau pada pendistribusiannya. Semua yang berpotensi menjadi penyebabnya itu harus diperiksa intensif, disertai evaluasi secara transparan,” katanya.
Ade meminta pengelola SPPG yang menyediakan makanan untuk SDN 01 Ciherang tersebut, dapat memberikan penjelasan terbuka, kepada publik dan wartawan, mengenai proses dari pengolahan produk makanannya tadi, yang dikonsumsi oleh para siswa dan gurunya. Apalagi jika menu yang disajikan di hari kejadian terdiri atas Telur, Tempe goreng, Wortel dan Buah-buahan.
Sejumlah siswa yang tadi alami keluhan, diketahui mengonsumsi Telur dan Tempe goreng. Namun demikian, Ade menegaskan, bahwa dugaan tersebut belum dapat dijadikan satu kesimpulan, mengenai apa sebenarnya sumber penyebab penyakit, atas apa yang dikeluhkan para penerima manfaatnya.
“Jangan pula mendahului hasil pemeriksaan. Kalau pun ada dugaan sebagai penyebabnya Telur atau Tempe, silakan diuji dulu di Laboratorium. Hasil uji Laboratorium harus bisa menjadi dasar utamanya, untuk menentukan sebab musababnya,” jelas Ade.
Dirinya meminta para pihak terkait tak saling lempar tanggung jawab, apabila hasil pemeriksaan nanti menemukan adanya hal pelanggaran, terhadap standar keamanan pada bahan pangan, di dalam menu yang disajikannya, sebagai mitra program MBG.
“Kalau nanti terbukti ada kelalaian tadi, harus ada evaluasi disertai tindakan sesuai peraturan. Jangan sampai setelah kejadian ini selesai, persoalannya dianggap selesai, apalagi tanpa ada pembenahan,” tandas Ade.
Dirinya mendorong Dinas Kesehatan Kab. Bogor melakukan pemeriksaan menyeluruh, terhadap sampel makanan serta memastikan kondisi dari kesehatan seluruh siswa yang mengalami keluhan dugaan efek keracunan.
Menurutnya, pemerintah harus mau serta mampu memberikan informasi yang jelas, ke para orang tua siswanya, mengenai perkembangan kondisi anak-anak mereka, serta hasil uji laboratorium itu.
Ade menegaskan, FJP2 Bogor Raya akan terus mengawal, memantau perkembangan kasus itu sebagai bagian tupoksi profesinya, fungsi kontrol hingga kepedulian sosial FJP2, terhadap berbagai kepentingan publik.
“Anak-anak adalah suatu kelompok rentan, yang wajib Kita lindungi. Dari itulah, realisasi Program MBG di sekolah-sekolah harus benar-benar dapat menjamin keamanannya, tak cukup hanya bergizi. Jangan sampai program yang tujuannya baik tadi, justeru timbulkan banyak persoalan, khususnya ke resiko kesehatan, karena faktor pengawasan yang tidak maksimal,” tegas Ade.
Hingga berita diturunkan, penyebab pasti keluhan mual serta muntah yang dialami semua siswa dan seorang guru masih menunggu hasil uji Lab (pemeriksaan intensif di laboratorium).
Dari pihak FJP2 Bogor Raya dengan tegas mendesak, hingga meminta pihak terkaitnya agar bisa menyampaikan hasil pemeriksaan di Lab itu secara transparan ke publik, tujuannya agar tak menimbulkan berbagai spekulasi negatif banyak pihak, dan seluruh pihak bisa mengambil langkah evaluasinya yang cermat dan tepat.
![]()
Penulis : Asep Didi/Tim
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan