Bogor, MNP – Sudah saatnya seluruh WNI kembali pada fitrah dan jatidirinya, sebagai Manusia dari sebuah Bangsa dan Negara berperadaban tinggi, berakhlaq mulia dan bermoral, dengan tatakrama sosial yang terpuji.
Baik ditinjau dari sudut pandang sesama sebangsa, maupun dari pendapat bangsa asing yang menetap dan hidup di dalam wilayah Negara Kita ini.
Khusus yang menyangkut estetika di dalam penataan lingkungan hidup, termasuk mekanisme di pengelolaan sampahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasi teoritis tersebut akan tetap hampa, jika tidak ada implementasi yang nyata dalam dinamika kehidupan Kita sehari-hari. Implementasi tersebut bisa bersama-sama Kita praktek kan dimulai dari lingkungan Kita terlebih dulu.
Semuanya tadi, merupakan tanggungjawab bersama di bidang penataan ruang dan tatakelola Sampah/Limbah.
Mulai dari Sampah Industri, Sampah Pasar, maupun Sampah yang berasal dari beragam kegiatan Rumah Tangga, dari rumah-rumah warga sekitar Kita. Dimulai dari lingkup terkecil, Pribadi Rumah Tangga Kita masing-masing.
Guna mewujudkan harapan tersebut, sinergitas yang terintegrasikan antar warga masyarakat, dengan pihak berwenang dari Kedinasan terkaitnya, yakni dari pihak Dinas Lingkungan Hidup.
Keduanya harus terlebih dulu sinergi visi makronya, akan betapa pentingnya sinergitas tadi, demi Satu pencapaian misi bersama Kita semua, yakni ketertiban lingkungan serta kenyamanan hidup Kita.
Dengan bertanggungjawab bersama, menangani serta mengelola sampah dengan mekanismenya yang baik, benar, efektif dan konsisten (berkelanjutan) di dalam dinamika kehidupan sehari hari.
Caranya, bisa dengan menggalakkan lagi gotong royong untuk bersih-bersih lingkungan bersama, demi kenyamanan bersama.
Di lingkup rumah tangga itu bisa dimulai dengan belajar membiasakan diri/keluarga Kita, dengan memilah serta mengatur sampah Kita dari lingkup rumah tangga Kita. Dengan mewadahi sampah Kita agar tidak berserakan.
Sehingga tidak merugikan ke tetangga secara estetika yang dapat memicu konflik. Gegara sampah dari rumah Kita berserakan mengotori halaman rumah tetangga.
Setelah sampah terpilah itu terkumpul tertib, kemudian tempatkan ke TPS (Tempat Penampungan Sementara Sampah).
Untuk kemudian diangkut Petugas Armada Pengangkutan, dari UPT-PS (Unit Pelaksana Teknis dan Pengelolaan Sampah) nya. Sebagai penanggungjawab di lapangan, bidang pengangkutan dan pengelolaan sampah.
Lalu para petugas (Armada Pengangkutan sampahnya) harus konsekuen terhadap tupoksinya. Disiplin dengan rutinitas pekerjaannya, juga konsisten melaksanakan pengangkutan rutin, sesuai jadwal yang ditetapkannya.
Jangan terkesan nungguin tumpukan sampah keburu membusuk, sehingga picu polusi udara penyebar bibit penyakit bagi warga sekitar TPS.
Kemudian, pihak pengurus tatakelola sampah wilayah terkait, wajib bisa memberi edukasi sekaligus memberi contoh teladan, ke segenap warganya.
Jangan hanya mampu menceramahi dan menarik iuran sampah saja pada warganya. Warga pun jangan pelit-pelit membayar iuran sampah rutinnya tadi, agar Armada Pengangkut sampah gesit dan disiplin mengangkut sampahnya.
Yang terakhir, setelah pihak Pengelola Sampah beserta Warga kompak, juga peduli dan turut terlibat mengurus urusan sampah lingkungan mereka secara konsisten. Maka Pemerintah, melalui Dinas terkaitnya harus bisa berani memberi apresiasi pada mereka.
Hal itu perlu, guna menstimulasi mental mereka, untuk konsistensi nya menjaga dan merawat kebersihan lingkungannya. Pemerintah itu jangan pelit mengapresiasi warganya.
![]()
Penulis : Asep Didi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan