Nyawa Petani Sawit Inhu Terancam! Kabel Listrik Rendah Tower XL Hantui Aktivitas Panen Warga

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indragiri Hulu, MNP – Di balik rutinitas pagi warga Desa Teluk Sungkai, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, tersimpan keresahan yang terus menghantui. Jumat (6/2/2026),

Seutas kabel listrik milik jaringan tower telekomunikasi XL terlihat menjuntai rendah, melintas tepat di atas atap rumah warga, bahkan menggantung di antara pelepah pohon sawit. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan masyarakat.

Pantauan di lapangan, menunjukkan kabel tersebut berada hanya beberapa meter dari atap seng rumah warga. Saat angin bertiup, kabel bergoyang pelan, menciptakan kekhawatiran akan risiko putus, korsleting, atau tersentuh langsung oleh bangunan rumah.

Bagi masyarakat Teluk Sungkai, pemandangan ini bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman keselamatan yang nyata dan berlangsung setiap hari

Sejumlah rumah berdiri persis di bawah lintasan kabel listrik tersebut. Jarak yang sangat dekat dengan atap rumah membuat warga waswas, terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

Warga khawatir terjadi sengatan listrik atau kebakaran akibat korsleting. Ketakutan itu membuat sebagian warga merasa tidak lagi aman tinggal di rumah sendiri.

Dedi Elpi, salah satu perangkat Desa Teluk Sungkai, mengungkapkan bahwa keluhan masyarakat sudah berulang kali disampaikan.

“Kalau hujan atau angin kencang, kami takut kabel itu jatuh atau tersentuh atap rumah. Kabelnya lewat di atas rumah warga, bahkan digantung di pelepah sawit. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut keselamatan banyak orang.

Ancaman tidak hanya dirasakan oleh warga yang bermukim di bawah kabel, tetapi juga para petani sawit. Kabel listrik tersebut membentang rendah di atas kebun sawit milik warga, yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.

Saat panen, petani menggunakan egrek atau galah panjang berbahan logam dengan panjang mencapai lima hingga tujuh meter.

Dengan posisi kabel yang rendah, risiko tersentuh alat panen sangat besar dan berpotensi menimbulkan sengatan listrik fatal.

“Saat bekerja kami harus ekstra hati-hati. Salah sedikit saja bisa berbahaya. Kami takut tersengat listrik,” ujar seorang petani.

Akibat kondisi ini, aktivitas panen yang seharusnya menjadi rutinitas kini dilakukan dengan penuh rasa cemas.

Keberadaan kabel juga berdampak pada aktivitas sosial masyarakat. Lapangan olahraga desa yang biasa digunakan anak-anak dan pemuda untuk bermain voli berada tidak jauh dari jalur kabel tersebut.

Kekhawatiran akan kecelakaan membuat sebagian orang tua mulai membatasi anak-anak bermain di sekitar lokasi. Warga yang rumahnya tepat di bawah kabel mengaku kehidupannya ikut terganggu.

“Kami minta dipasang tiang listrik yang layak dan kabelnya diluruskan mengikuti jalan desa saja. Jangan melintas di atas rumah dan lapangan olahraga,” kata seorang warga.

Masyarakat Teluk Sungkai berharap PLN bersama pengelola jaringan tower XL segera turun tangan mengecek kondisi instalasi di lapangan. Warga menilai penataan kabel saat ini tidak memenuhi standar keamanan dan sangat berisiko menimbulkan korban jiwa.

Mereka meminta dilakukan penataan ulang jalur kabel, antara lain dengan memasang tiang penyangga permanen, meninggikan kabel sesuai standar keselamatan, serta mengalihkan jalur mengikuti tepi jalan desa, bukan melintasi rumah, kebun, dan fasilitas umum.

Menurut warga, langkah tersebut mendesak dilakukan demi keselamatan bersama. Bagi masyarakat Teluk Sungkai, listrik dan jaringan komunikasi memang kebutuhan penting. Namun keselamatan jiwa tidak boleh dikorbankan.

Kini, setiap kali hujan deras turun atau angin kencang bertiup, warga hanya bisa berharap kabel tersebut tidak membawa petaka. Mereka tidak menuntut hal yang berlebihan—hanya ingin bekerja di kebun tanpa rasa takut, tinggal di rumah dengan aman, serta membiarkan anak-anak bermain dengan tenang.

Loading

Penulis : Jun

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

KKN-T Kampung Sejahtera Gelombang 116 Unhas Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Bagi Pilar Sosial 
Lapas Cipinang Perkuat Kompetensi Pegawai Lewat Knowledge Sharing SMART PAS
PLN Enrekang Pangkas Pohon Tinggalkan Sampah, DLH: “Itu Bukan Urusan Kami”
Ancaman Cuaca Panas Ekstrem, Damkar Pemalang Siaga Hadapi Potensi Kebakaran Lahan
Angin Kencang Terjang Pemalang Selatan, Robohkan Bangunan dan Pohon
LEMPAR TANGAN! PLN Bilang “Tidak Ada MoU”, DLH Sebut “Bukan Prioritas”, Sampah Menumpuk di Jalan
Lulus SMA Taruna Nusantara Magelang, Bupati Jamu Siswa Terbaik Pakpak Bharat
Boros Anggaran! Operasional Pospenwas Enrekang Rp250 Ribu/Hari, Pendapatan Cuma Rp500 Ribu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:48 WIB

KKN-T Kampung Sejahtera Gelombang 116 Unhas Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Bagi Pilar Sosial 

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:27 WIB

Lapas Cipinang Perkuat Kompetensi Pegawai Lewat Knowledge Sharing SMART PAS

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:16 WIB

PLN Enrekang Pangkas Pohon Tinggalkan Sampah, DLH: “Itu Bukan Urusan Kami”

Jumat, 24 Juli 2026 - 19:57 WIB

Ancaman Cuaca Panas Ekstrem, Damkar Pemalang Siaga Hadapi Potensi Kebakaran Lahan

Jumat, 24 Juli 2026 - 19:44 WIB

Angin Kencang Terjang Pemalang Selatan, Robohkan Bangunan dan Pohon

Berita Terbaru

Berita terbaru

Angin Kencang Terjang Pemalang Selatan, Robohkan Bangunan dan Pohon

Jumat, 24 Jul 2026 - 19:44 WIB