TASIKMALAYA, MNP – Suasana sakral menyelimuti kawasan Gedong Cai Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/04/2026).
Paguron Trah Karsid menghadiri tradisi “Ngarumat Hulu Cai” sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian terhadap sumber mata air.
Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan prosesi unik dengan melibatkan sembilan sosok sepuh sakral berpakaian putih yang mewakili Trah Karsid dan bagian dari Sembilan Naga Galunggung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, generasi muda dari paguron turut menampilkan atraksi silat tradisi dan narasi teaterikal “Ngarumat Hulu Cai” yang melibatkan anak-anak usia dini.
Ketua Paguron Trah Karsid, Nanang Tarya Somantri, A.Ma., menjelaskan bahwa kegiatan ini mengusung semangat “Ngahiji Rasa Ngahiji Raga”.
Menurutnya, manusia dan alam tidak dapat dipisahkan, sehingga merawat hulu cai (sumber air) sama dengan merawat kehidupan itu sendiri.
“Ini adalah upaya agar jati teu kasilih ku juti. Kita berkumpul bersama penggiat budaya se-Kota Tasikmalaya untuk memelihara alam. Namun, di balik kemeriahan ini, ada PR besar bagi kita semua mengenai nasib silat tradisi di era sekarang,” ungkap Nanang.
Nanang secara terbuka menyuarakan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan yang dinilai belum memberikan apresiasi layak bagi prestasi silat tradisi.
Ia menyayangkan sertifikat kemahiran silat tradisi atau “ngibing” seringkali tidak diakui sebagai jalur prestasi di sekolah, sehingga minat generasi muda mulai menurun.
“Anak-anak sekarang mulai enggan karena sertifikat ngibingnya dianggap tidak ‘laku’ di sekolah. Ini perjuangan berat bagi kami. Meskipun belum ada bantuan formal dari berbagai pihak, termasuk sektor pendidikan, kami akan terus bertahan melestarikan budaya leluhur,” tegasnya.
Melalui wadah Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI), Nanang beserta jajaran pengurus berkomitmen untuk terus mendobrak kebijakan pemerintah agar seni tradisi mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Ia berharap kedepan, kegiatan seperti Ngarumat Hulu Cai tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga pemantik bagi pemangku kebijakan untuk lebih peduli terhadap nasib para pejuang budaya di garda terdepan.
![]()
Penulis : Momon
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan