TASIKMALAYA, MNP – Musim kemarau tahun 2026 mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Kota Tasikmalaya.
Penurunan debit air, mengeringnya sumur warga, hingga terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat menjadi pemandangan yang mulai terlihat, khususnya di Kecamatan Mangkubumi.
Salah satu lokasi yang paling terdampak adalah Objek Wisata Situ Gede. Danau yang selama ini menjadi destinasi wisata favorit masyarakat kini mengalami penyusutan debit air yang cukup signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di beberapa titik, dasar danau mulai terlihat dan dipenuhi hamparan rumput hijau yang tumbuh akibat surutnya permukaan air.
Kondisi tersebut memengaruhi daya tarik wisata Situ Gede. Sejumlah pengunjung mengaku pemandangan danau tidak lagi seindah biasanya karena luas genangan air terus berkurang.
Selain mengurangi nilai estetika kawasan wisata, penyusutan air juga berdampak langsung terhadap para pelaku usaha yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata.
Para pengusaha jasa perahu mengeluhkan keterbatasan ruang untuk beroperasi. Jika pada kondisi normal mereka dapat mengelilingi hampir seluruh area danau, kini perjalanan perahu hanya dapat dilakukan di bagian danau yang masih memiliki kedalaman cukup.
Tidak hanya sektor wisata, para nelayan yang mencari nafkah dengan menjaring maupun memancing ikan turut merasakan dampaknya. Aktivitas mereka menjadi semakin sulit akibat perairan yang dangkal dan area pencarian ikan yang semakin terbatas.
“Kami mulai kesulitan mengoperasikan perahu rakit karena air semakin dangkal dan wilayah yang masih bisa dilalui semakin sempit,” ujar Dadang, salah seorang nelayan penjaring ikan di Situ Gede, Minggu (12/07).
Sementara itu, dampak musim kemarau juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kecamatan Mangkubumi, termasuk kawasan Cigantang.
Banyak sumur warga mulai mengalami penurunan debit air, bahkan sebagian telah mengering sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut memaksa warga mencari sumber air bersih ke sumur-sumur yang masih memiliki cadangan air. Setiap hari tampak antrean warga membawa jeriken dan ember untuk mendapatkan air bersih.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap adanya distribusi bantuan air bersih dari pemerintah maupun berbagai lembaga sosial melalui mobil tangki air.
“Harapan kami semoga musim kemarau segera berakhir dan pemerintah dapat terus membantu menyediakan pasokan air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan,” tutur Erni, salah seorang warga Cigantang.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa musim kemarau tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi sektor pariwisata, mata pencaharian masyarakat, hingga ketersediaan air bersih.
Sinergi antara pemerintah, instansi terkait, dan berbagai elemen masyarakat diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan serta menyusun langkah-langkah antisipasi agar dampak kemarau dapat diminimalkan, terutama bagi warga yang berada di wilayah paling terdampak.
![]()
Penulis : Arrie Heryadi
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan