Kaluppini Disebut Kerajaan Pertama
ENREKANG, MNP — Aula Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang di Jalan Pancaitana Bunga Walie Batili mendadak hidup, Senin 30 Juni 2026.
Gemuruh tepuk tangan dan bisik kagum mengisi ruangan saat kegiatan “Semarak Literasi 2026” dengan tema “Sinergi Literasi untuk Enrekang Sejahtera: Sosialisasi dan Digitalisasi Naskah Kuno” resmi dibuka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara ini bukan sekadar seminar biasa. Ini adalah upaya serius pemerintah daerah bersama tokoh adat untuk membangunkan kembali ingatan kolektif Massenrempulu yang selama ini tersimpan rapi dalam lembaran lontara dan naskah kuno yang hampir punah dimakan zaman.
Hadir dalam acara ini Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, Aswan Anjas beserta jajaran, serta para tokoh adat dari Kaluppini, Tondon, dan berbagai penjuru Kabupaten Enrekang.
Kehadiran para penjaga adat itu memberi makna mendalam. Sebab merekalah yang selama ini menjaga lisan, tutur, dan aksara leluhur agar tidak putus di tengah derasnya arus digitalisasi. Suasana pun terasa sakral, seolah ruangan itu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan Enrekang.
Pemateri utama, Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, Guru Besar bidang Filologi Universitas Hasanuddin, membawakan materi bertajuk “Manuskrip sebagai Ingatan Kolektif Nasional”.
Dengan bahasa yang puitis namun ilmiah, Prof. Muhlis menjelaskan bahwa naskah kuno bukan hanya kertas tua.
“Naskah Kuno menjelaskan bagaimana suatu masyarakat menyusun dan mengabadikan suatu kearifan, ilmu pengetahuan, dan warisan yang membentuk identitas mereka,” ujarnya.
Melalui naskah, kita bisa membaca pikiran leluhur, mengenang peristiwa besar, menafsirkan sejarah, dan menyimpan makna peristiwa sebagai memori kolektif demi kemajuan kebudayaan lokal.
Salah satu temuan yang membuat seluruh peserta terdiam adalah pernyataan Prof. Muhlis tentang sejarah awal Enrekang.
“Menurut Prof. Muhlis bahwa kerajaan pertama di Enrekang ada di Kaluppini.” Kalimat itu seketika menjadi sorotan para tokoh adat Kaluppini yang hadir.
Fakta sejarah yang selama ini hanya hidup dalam tuturan lisan, kini mendapat penguatan akademik melalui kajian naskah.
Ini bukan hanya soal kebanggaan daerah, tapi juga titik tolak untuk merekonstruksi identitas dan jati diri Enrekang di peta budaya nasional.
Digitalisasi menjadi kunci utama dalam “Semarak Literasi 2026”. Sekretaris Perpustakaan Aswan Anjas menegaskan, naskah yang hanya disimpan di lemari akan rusak dan terlupakan.
Tapi naskah yang dipindai, diarsipkan digital, dan disosialisasikan, akan hidup selamanya.
Program ini diharapkan menjadi sinergi nyata: pemerintah menyiapkan infrastruktur, akademisi mengkaji isi, dan tokoh adat menjaga otentisitas maknanya. Tiga pilar ini harus berjalan bersama agar Enrekang tidak kehilangan akar saat mengejar kemajuan.
Acara ditutup dengan harapan besar. Jika naskah kuno bisa dipahami, diakses, dan dibanggakan oleh generasi muda Enrekang, maka literasi tidak lagi menjadi angka statistik, tapi menjadi napas kebudayaan. “Manuskrip adalah cermin jiwa bangsa,” kata Prof. Muhlis menutup materinya.
Dan hari itu, di aula Pancaitana, Enrekang sekali lagi membuktikan bahwa untuk menjadi sejahtera, sebuah daerah harus berdamai dulu dengan ingatan leluhurnya.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan