ENREKANG, MNP —- Menjelang 2 tahun kepemimpinan Bupati Enrekang, debat panas dua akademisi muda asal Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi pemantik diskusi publik.
Debat itu dinilai sangat menarik dan syarat makna, karena membedah tuntas perbedaan cara menilai kepemimpinan, antara yang merakyat dan yang sekadar pencitraan. Ruang demokrasi itu kini memanas, dan setiap warga berhak bersuara.
Menanggapi dinamika tersebut, Andi Nasir, Mantan Anggota dan Ketua DPRD Kabupaten Enrekang beberapa periode, ikut angkat bicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lewat rilis yang dikirim ke redaksi Media Nasional Potret pada Senin (25/8/2026), ia memberi penilaian telak terhadap kinerja Bupati Enrekang. Kritiknya tajam, lugas, dan menusuk langsung ke jantung pemerintahan.
“PERTAMA, Andaikan Bupati itu adalah Petelur Yang Subur, maka Bupati sangat butuh dan mencari Pejantan Yang TANGGUH,” sindir Andi Nasir.
Menurutnya, “pejantan tangguh” itu adalah birokrasi di bawahnya dan DPRD sebagai mitra kerja. “Bukan penjantan yang penting asal Bupati senang,” tegasnya. Kalimat ini menjadi tamparan bagi jajaran yang dinilai hanya jadi “yes man” tanpa keberanian mengoreksi.
“KEDUA, besarnya Koalisi Bupati di DPRD ini adalah Kelebihan sekaligus sebagai Kelemahan Bupati dalam merealisasikan janji politiknya,” lanjut Andi Nasir. Kelebihannya, dalam istilah sehari-hari “kita semua gampang diatur”.
Namun di sisi lain, ini menjadi bumerang. “Kelemahannya Bupati sulit mendapatkan saran pertimbangan dan 11ll berkualitas dari DPRD sebagai akibat dari Koalisi yang Super Gemuk ini,” ujarnya. Fungsi kontrol DPRD, kata dia, mati karena semua sudah satu komando.
“KETIGA, ada Peran Infrastruktur Politik Yang Membisu,” kritik Andi Nasir lebih dalam. Ia menyorot partai politik, ormas non partai, hingga tokoh masyarakat.
“Yang se akan-akan tidak mau keluar dari Zona Nyaman dari Status Quo-nya,” katanya.
Padahal, kata dia, infrastruktur politik seharusnya menjadi pengingat, pengkritik, dan penggerak perubahan. Jika semua diam, maka demokrasi hanya jadi seremoni.
Di tengah hiruk pikuk dukungan dan penolakan, Andi Nasir mengajak publik Enrekang berpikir jernih.
“Dan yang TERAKHIR, mari kita membiasakan diri untuk mendukung karena kebenaran, bukan karena teman ataupun kerabat,” pesannya.
Ajakan ini menjadi penutup yang syarat makna, mengingatkan bahwa loyalitas buta hanya akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh.
Debat akademisi Maspul dan rilis keras Andi Nasir ini menjadi cermin. Dua tahun bukan waktu sebentar untuk menilai.
Publik kini dihadapkan pada dua pilihan: menilai berdasarkan kedekatan emosional, atau menilai berdasarkan fakta, data, dan kinerja nyata di lapangan.
Dengan nada kritis ini, tekanan kepada Bupati Enrekang semakin besar. Apakah 3 tahun sisa masa jabatan akan diisi dengan pembenahan birokrasi dan keberanian menerima kritik, atau tetap nyaman dalam kepungan koalisi gemuk dan zona nyaman? Warga Enrekang menunggu jawabannya.
![]()
Penulis : Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan