Mantan Ketua DPRD Andi Nasir: Loyalitas Buta Hanya Melahirkan Kepemimpinan Rapuh

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andi Nasir, Mantan Anggota dan Ketua DPRD Kabupaten Enrekang beberapa periode

Andi Nasir, Mantan Anggota dan Ketua DPRD Kabupaten Enrekang beberapa periode

ENREKANG, MNP —- Menjelang 2 tahun kepemimpinan Bupati Enrekang, debat panas dua akademisi muda asal Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi pemantik diskusi publik.

Debat itu dinilai sangat menarik dan syarat makna, karena membedah tuntas perbedaan cara menilai kepemimpinan, antara yang merakyat dan yang sekadar pencitraan. Ruang demokrasi itu kini memanas, dan setiap warga berhak bersuara.

Menanggapi dinamika tersebut, Andi Nasir, Mantan Anggota dan Ketua DPRD Kabupaten Enrekang beberapa periode, ikut angkat bicara.

Lewat rilis yang dikirim ke redaksi Media Nasional Potret pada Senin (25/8/2026), ia memberi penilaian telak terhadap kinerja Bupati Enrekang. Kritiknya tajam, lugas, dan menusuk langsung ke jantung pemerintahan.

“PERTAMA, Andaikan Bupati itu adalah Petelur Yang Subur, maka Bupati sangat butuh dan mencari Pejantan Yang TANGGUH,” sindir Andi Nasir.

Menurutnya, “pejantan tangguh” itu adalah birokrasi di bawahnya dan DPRD sebagai mitra kerja. “Bukan penjantan yang penting asal Bupati senang,” tegasnya. Kalimat ini menjadi tamparan bagi jajaran yang dinilai hanya jadi “yes man” tanpa keberanian mengoreksi.

“KEDUA, besarnya Koalisi Bupati di DPRD ini adalah Kelebihan sekaligus sebagai Kelemahan Bupati dalam merealisasikan janji politiknya,” lanjut Andi Nasir. Kelebihannya, dalam istilah sehari-hari “kita semua gampang diatur”.

Namun di sisi lain, ini menjadi bumerang. “Kelemahannya Bupati sulit mendapatkan saran pertimbangan dan 11ll berkualitas dari DPRD sebagai akibat dari Koalisi yang Super Gemuk ini,” ujarnya. Fungsi kontrol DPRD, kata dia, mati karena semua sudah satu komando.

“KETIGA, ada Peran Infrastruktur Politik Yang Membisu,” kritik Andi Nasir lebih dalam. Ia menyorot partai politik, ormas non partai, hingga tokoh masyarakat.

“Yang se akan-akan tidak mau keluar dari Zona Nyaman dari Status Quo-nya,” katanya.

Padahal, kata dia, infrastruktur politik seharusnya menjadi pengingat, pengkritik, dan penggerak perubahan. Jika semua diam, maka demokrasi hanya jadi seremoni.

Di tengah hiruk pikuk dukungan dan penolakan, Andi Nasir mengajak publik Enrekang berpikir jernih.

“Dan yang TERAKHIR, mari kita membiasakan diri untuk mendukung karena kebenaran, bukan karena teman ataupun kerabat,” pesannya.

Ajakan ini menjadi penutup yang syarat makna, mengingatkan bahwa loyalitas buta hanya akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh.

Debat akademisi Maspul dan rilis keras Andi Nasir ini menjadi cermin. Dua tahun bukan waktu sebentar untuk menilai.

Publik kini dihadapkan pada dua pilihan: menilai berdasarkan kedekatan emosional, atau menilai berdasarkan fakta, data, dan kinerja nyata di lapangan.

Dengan nada kritis ini, tekanan kepada Bupati Enrekang semakin besar. Apakah 3 tahun sisa masa jabatan akan diisi dengan pembenahan birokrasi dan keberanian menerima kritik, atau tetap nyaman dalam kepungan koalisi gemuk dan zona nyaman? Warga Enrekang menunggu jawabannya.

Loading

Penulis : Rahmat Lamada

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

DPRD Cium Dugaan Kebocoran PAD Pajak Maxim, Komisi II Siap Panggil Dispenda
600 Branding Maxim Beroperasi, Hanya 49 Terdata Pajak: Ke Mana Potensi PAD Kota Tasikmalaya?
Jabat PAW Kades Buniasih, Ohid Bertekad Kembalikan Kepercayaan Masyarakat
Tanggap Kebutuhan Warga Dusun Kayu Tabu, Satpolairud Polres Lamsel Salurkan Air Bersih
Atasi Kelangkaan BBM, Pemkab Jeneponto Terapkan Sistem Ganjil-Genap di Seluruh SPBU
Paguyuban Online Bersatu Geruduk DPRD: Desak Evaluasi Aturan Transportasi Maxim
Wujudkan Wilayah Bebas TB dan Kanker Serviks, Puskesmas Cibeureum Perkuat Kolaborasi
Parah! Koperasi di Bartim Diduga Catut Nama Dinas, Gelapkan Rp13 Juta hingga Menunggak Pajak Rp3,3 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:20 WIB

DPRD Cium Dugaan Kebocoran PAD Pajak Maxim, Komisi II Siap Panggil Dispenda

Selasa, 15 September 2026 - 16:11 WIB

600 Branding Maxim Beroperasi, Hanya 49 Terdata Pajak: Ke Mana Potensi PAD Kota Tasikmalaya?

Selasa, 15 September 2026 - 16:01 WIB

Jabat PAW Kades Buniasih, Ohid Bertekad Kembalikan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 15 September 2026 - 13:49 WIB

Tanggap Kebutuhan Warga Dusun Kayu Tabu, Satpolairud Polres Lamsel Salurkan Air Bersih

Selasa, 15 September 2026 - 13:34 WIB

Atasi Kelangkaan BBM, Pemkab Jeneponto Terapkan Sistem Ganjil-Genap di Seluruh SPBU

Berita Terbaru