Tasikmalaya, MNP – Kisah pilu datang dari Wawan Hermawan alias Wawan Tongkat (58), warga Kampung Cikadu RT 001/RW 002, Kelurahan Talagasari, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya.
Pria paruh baya ini kini hidup sebatang kara di sebuah gubuk kecil berukuran 2×2 meter, dengan kondisi buta dan lumpuh pada kedua kakinya, Jumat (03/10/2025).
Saat ditemui awak media bersama Ketua RT setempat, Wawan hanya bisa pasrah dengan kehidupannya. Ia bercerita bahwa dahulu dirinya sehat, bisa melihat normal, dan mampu bekerja di sebuah konveksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, setelah mengalami sakit yang membuat seluruh tubuhnya kejang-kejang, penglihatannya hilang dan kakinya tidak lagi berfungsi.
“Dulu saya masih bisa cari nafkah buat anak istri. Tapi setelah sakit ini, saya kehilangan semuanya. Lebih parahnya lagi, setelah saya sakit malah ditinggalkan anak dan istri. Saya bingung harus bagaimana, mungkin ini sudah takdir dari Allah SWT,” tutur Wawan dengan nada lirih.
Menurut Uhan, Ketua RT 01 Cikadu, kehidupan sehari-hari Wawan bergantung pada bantuan keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar.
Sesekali ia masih berusaha bertahan hidup dengan profesi sebagai tukang pijat tradisional, meski bayaran tidak dipatok harga.
Masyarakat setempat sekitar sering membantu seadanya. Bahkan menantunya pun kadang yang mengurus beliau.
“Kami sudah koordinasi ke kelurahan agar Abah Wawan bisa mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, karena sangat kasihan melihat kondisinya,” ungkap Uhan.
Ia juga menegaskan, sampai saat ini Wawan belum tersentuh bantuan sosial apapun dari pemerintah.
“Harapan kami, pemerintah Kota Tasikmalaya dan dinas-dinas terkait bisa membuka mata, telinga, dan hati untuk membantu warganya. Abah Wawan butuh uluran tangan agar bisa bertahan hidup lebih layak,” tambahnya.
Kisah getir Wawan menjadi potret nyata penderitaan masyarakat kecil yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, agar mereka tidak terus hidup dalam keterbatasan dan kesepian.
![]()
Penulis : DK
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan