Tasikmalaya, MNP – Perayaan Hari Jadi Kota Tasikmalaya ke-24 berlangsung meriah dengan kehadiran Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) Jumat 17/10/2025
Pemerintah Kota tampak bersemangat menampilkan berbagai hasil pembangunan, terutama infrastruktur jalan yang kini mulai terlihat rapi di beberapa titik kota.
Namun di tengah gemerlap seremoni itu, suara lirih dari masyarakat kecil masih terdengar apakah kemeriahan ini benar-benar dirasakan oleh rakyat di bawah garis kemiskinan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedatangan KDM kali ini menjadi pusat perhatian. Panggung besar, spanduk ucapan selamat, dan wajah-wajah pejabat yang sumringah menghiasi acara.
Sayangnya di balik kerapian acara, masih banyak warga yang mempertanyakan makna “ulang tahun” bagi mereka yang hidupnya belum juga berubah.
Ii Sutinah (35), warga Kelurahan Cigantang, mengaku hanya bisa menonton dari kejauhan.
“Kalau ulang tahun kota, katanya untuk kebanggaan warga. Tapi kami cuma nonton di pinggir jalan, rumah saya masih bocor, belum juga masuk program rutilahu,” ujarnya lirih.
Ia menilai pembangunan saat ini lebih banyak menyentuh jalan dan taman, bukan perut rakyat.
Sementara Nana (45), Suami Ii sutinah , melihat kunjungan KDM hanya jadi momen seremonial yang berulang setiap tahun.
“Pejabat datang, jalan dibagusin, tapi habis itu sama aja. Warga miskin tetap miskin,” katanya dengan nada datar.
Ia berharap ulang tahun kota bisa dijadikan momentum untuk memperbaiki kebijakan sosial, bukan sekadar mempercantik wajah kota.
Pandangan lebih tajam disampaikan Rifki Saepuloh, aktivis Lembaga Peduli Rakyat Tasik (LPRT). Menurutnya, Pemkot terlalu fokus pada infrastruktur jalan dan penataan kota, sementara akar persoalan kemiskinan dibiarkan menggantung.
“Kota ini tampak bersih saat tamu datang, tapi di belakang panggung masih banyak keluarga yang tidur di rumah reyot. Ini yang harusnya jadi perhatian,” tegasnya.
Ia menilai kehadiran KDM seharusnya bisa menjadi momen introspeksi bagi seluruh aparatur pemerintahan.
“Peringatan hari jadi bukan hanya untuk pesta, tapi untuk menilai sejauh mana kota ini benar-benar memberi kehidupan bagi rakyatnya,” ujar Rifki.
Beberapa warga juga menyoroti lambannya penanganan program bantuan sosial dan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).
Mereka mengaku sudah melapor berulang kali ke kelurahan, namun belum ada kepastian kapan bantuan akan turun.
Bagi masyarakat kecil, ulang tahun kota hanyalah hari biasa. Mereka tidak merasakan pesta, hanya berharap ada perhatian nyata setelah pejabat pulang.
Karena bagi mereka, kemajuan tidak diukur dari panjangnya jalan yang diaspal, melainkan dari apakah dapur mereka masih bisa berasap esok hari.
KDM memang hadir memberi semangat pembangunan, tapi semangat itu seolah berhenti di panggung acara.
Jalan boleh mulus, kota tampak indah, tapi kehidupan rakyat masih berlubang menunggu kapan keadilan sosial benar-benar datang, bukan sekadar lewat dalam kunjungan pejabat.
![]()
Penulis : SN
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan