Kab Sukabumi, MNP – Di hari kedua dan ketiganya, gelaran acara Healthy Cities Summit (HCS-VI) tingkat Nasional, yang berlangsung di Grand Inna Samudra Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, Cisolok Kab Sukabumi yang dihelat sejak Minggu hingga penutupannya, Rabu besok.
Secara keseluruhan tampak berjalan lancar dan kondusif, hingga hari ketiga berlangsungnya HCS, di hari Selasa (30/7/2024).
Namun siapa sangka, jika di balik suksesnya kegiatan itu justeru terdengar ada suara sumbang, yang inharmonis serta terkesan tak humanis, dari kalangan masyarakat bawah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terutama kalangan pelaku usaha UMKM, yang didominasi para PKL sekitar lokasi digelarnya acara HCS tersebut. Yakni, warga dari sekitarnya, Alun Alun Masjid Agung Pelabuhan Ratu (ring 1 depan Pendopo Bupati), di sekitar Grand Inna Samudra Beach Hotel, serta di sekitar Karang Hawu. Yang merasa disumbat sumber rezekinya meski itu hanya sementara, karena dilarang beroperasi.
Dari sekian banyak warga di lokasi-lokasi tersebut, dapat difahami dan dimaklumi, sehingga dianggap layak dijadikan sebagai satu informasi aspiratif dari para warga pelaku usaha kecil di sana, untuk para pemangku kebijakan di Kab. Sukabumi.
Beragam informasi aspiratif yang MNP tampung di lapangan tadi, substansinya jelas dapat membuka suatu cakrawala berkeadilan yang diyakini dapat menciptakan harmonisasi interaksi sosial semua kalangan, memupus kesan negatif pengkastaan antara si penguasa dengan rakyat jelata.
Dari mulut-mulut polos para pelaku usaha tersebut, yang kesemuanya menolak untuk dipublish identitas resminya karena hal/alasan beragam, yang pada intinya kuatir ada efek kurang bagus nantinya.
Sehingga mereka tidak mau mengambil resiko tersebut, demi keberlangsungan jalan usaha mereka ke depannya.
Apalagi jika malah dianggap tega mempermalukan pihak pemerintah daerah mereka, dan menjadi bumerang bagi banyak pihak. Seperti yang diungkapkan oleh sepasang suami isteri serta anaknya, ketika bertemu di sekitaran Alun Alun Gado Bangkong.
Sebut saja Pulan dan Isteri, yang mengaku berasal dari kampung Cikakak, yang jika hari-hari biasanya berjualan di sekitar jalan raya Cisolok, tidak jauh dari lokasi acara HCS digelar.
Mereka mengaku terhenti pemasukannya dari hari Jum’at, karena di Sabtunya mereka sudah tak bisa berjualan, sehingga memilih bermain di sekitar Alun Alun Gado Bangkong tersebut.
“Kami sekeluarga orang sini Om, dari Cikakak. Di sini sih cuma main aja, ya daripada suntuk di rumah. Biasanya Kami jualan jajanan olahan ikan hasil laut, sama aneka minuman kemasan hingga minuman seduhan seperti kopi dan teh manis begitu,” ucapnya.

Tapi sudah dari hari Sabtu, libur dulu, karena disuruh tutup dulu sementara sama Satpol PP dan dari pengurus wilayah setempat.
“Karena mau ada acara apalagi gitu, mau ada Presiden juga katanya. Tapi nyatanya sepi sepi saja ini sampai sekarang, Pak Presidennya juga belum ada keliatan datang ke sini,” kata isteri Pulan sambil senyum.
Adapun yang dinilai sebagai nuansa kurang harmonis serta tidak humanisnya tadi, ialah karena apa yang telah disampaikan oleh pihak dari PemKab Sukabumi, melalui surat edaran dan sosialisasi lisan pihak Satpol-PP, sangat jauh dengan kenyataannya.
Mulai dari jumlah peserta kegiatan, yang tak sebanyak sebagaimana disampaikan dalam sosialisasinya, sebab tak terjadi konvoi kendaraan signifikan tamu luar daerah, termasuk tamu rombongan Presiden, yang disampaikan pihak PemKab pada warga.
Hal itu yang diduga menjadi alasan utama atas turunnya himbauan, agar masyarakat menghentikan dulu kegiatan usaha mereka, sementara berlangsungnya acara HCS tersebut.
Sedangkan situasi yang mereka saksikan tidak seramai yang disosialisasi kan, sementara wisatawan selain peserta kegiatan HCS justeru tampak ramai, tetapi mereka jadi tak bisa jajakan produk dagangannya, karena adanya himbauan tersebut.
Sedangkan sesama pelaku usaha kecil di lokasi lainnya, tetap menjajakan dagangannya (cemburu sosial : red). Dan karena hal itu, mereka merasa pihak PemKab telah tega membodohi mereka.
Menurut mereka lagi, tidak cukup hanya urusan usaha kecil mereka, yang memicu cemburu sosial, tetapi jadi merembet ke kebijakan lain yang terkesan serba dilaku kan mendadak, oleh pihak PemKab sehubungan akan digelarnya acara tersebut.
Antara lain, mengenai PJU yang tadinya berlarut larut dibiarkan tidak menyala, di beberapa titik di sepanjang ruas jalan antara SPBU Alun Alun Gado Bangkong hingga ke sekitar lokasi acara, tiba – tiba jadi dinyalakan semua. Dan warga menilai itu hanya pekerjaan cari muka Pemda pada pimpinan pemerintah dari pusat.
Begitu pun dengan ruas dan bahu jalan, dari yang biasa nya dibiarkan dipenuhi oleh sampah berserakan, gegara akan digelarnya acara HCS jadi setiap hari disapu pihak Dinas Kebersihan (DLH).
Itu semua menurut penilaian mereka sebagai pandangan awam warga masyarakat di wilayah, yang harus dapat dimaklumi secara arif serta bijaksana, oleh kalangan elit penguasa di wilayahnya itu.
“Alah Pak, tertata rapih juga indah apanya yang indah, di hari hari biasanya mah Pak tidak begini. Sampah bekas orang jajan macam macam, dibiarkan berserakan begitu aja sepanjang jalan. Lampu penerang jalan juga, tadinya mah yang sudah lama mati, tetap dibiarkan gelap begitu aja,” ucap pedagang.
“Tapi ada bagusnya, pas mau ada acara di SBH, jalan setiap hari disapuin petugas Pak. Lampu penerang jalan juga dinyalakan semuanya, mungkin itu hikmah baiknya bagi Kami, Pak,” kata warga yang mengaku pedagang gorengan, yang berkerumun bersama teman temannya di Alun Alun Gado Bangkong juga.
Semoga substansi kritikan dari warganya itu, didengar pihak terkait dalam lingkup PemKab Sukabumi, sebagai bahan introspeksi, evaluasi, serta mawas diri.
Karena itu kritik bersifat membangun, sebagai aspirasi dari warga masyarakat, juga sekaligus sebagai satu tanda sayang masyarakat, untuk Pamong Pemerintah di wilayahnya.
![]()
Penulis : Asep Didi/Tim
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan