TASIKMALAYA, MNP – Aktivitas penambangan pasir dan penggilingan batu di wilayah pasanggrahan gunung kanyere Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, kembali menuai keresahan warga.
Operasi penambangan yang berlangsung hampir setiap hari itu dinilai abai terhadap dampak lingkungan dan keselamatan masyarakat sekitar.
Getaran mesin berat, debu, serta kebisingan yang ditimbulkan diduga menjadi penyebab utama kerusakan fisik rumah warga dan terganggunya kenyamanan hidup mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu warga terdampak, H Nanang melalui pesan singkat whatsapp Sabtu 31 Januari 2026, mengungkapkan bahwa aktivitas stone crusher telah berlangsung bertahun-tahun tanpa adanya solusi nyata dari pihak perusahaan.
Stone crusher sendiri merupakan rangkaian mesin berat yang dirancang untuk memecah batuan besar menjadi ukuran lebih kecil seperti kerikil, agregat, pasir, hingga debu batu.
Mesin ini beroperasi hampir setiap hari, menimbulkan suara bising dan getaran yang dirasakan langsung oleh warga sekitar.
“Dalam masalah ini, saya yang sangat terdampak bertahun-tahun oleh aktivitas penggilingan batu berharap mendapat perhatian dari pemilik perusahaan, dan saya tidak mau melalui perantara,” ujar Nanang dengan nada kecewa.
Ia juga menyebutkan bahwa beberapa rumah warga mengalami keretakan pada dinding dan struktur bangunan yang diduga kuat akibat getaran alat berat tersebut.
Tak hanya soal kerusakan fisik, warga juga mengeluhkan polusi suara dan debu yang mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari waktu istirahat hingga kesehatan keluarga.
Menurut warga, hingga saat ini belum terlihat adanya langkah konkret dari pihak perusahaan maupun pemerintah setempat untuk mengurangi dampak tersebut.
Respon keras datang dari Sekretaris Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kota Tasikmalaya, Soni Riswandi.
Ia menilai bahwa persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan membutuhkan tindakan tegas dari Pemerintah Kota Tasikmalaya serta dinas terkait.
“Pemerintah dan dinas terkait jangan duduk diam. Harus segera mengambil keputusan dan tindakan. Usaha seperti ini jangan hanya mementingkan keinginan individunya tanpa melihat efek dan dampak yang sangat merugikan masyarakat, terutama lingkungan,” tegas Soni.
Dirinya menyatakan bahwa apabila tidak ada langkah nyata dari Pemerintah Kota Tasikmalaya, pihaknya atas nama lembaga akan mengambil langkah lebih lanjut dengan menyurati Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi.
Soni menegaskan, permasalahan lingkungan dan keselamatan warga adalah isu serius yang tidak boleh diabaikan.
“Kami berharap ada ketegasan. Jika pemerintah daerah tidak segera menindak, maka kami akan bersurat langsung kepada Gubernur Jawa Barat,” ucap Soni.
“Bahkan saya sudah mendengan akan ada demo besar besaran dari warga sekitar, berarti itu salah satu jeritan rakyat yang tidak di dengar oleh pemerintahnya.” pungkasnya.
Kasus ini menambah daftar panjang konflik antara aktivitas industri ekstraktif dan masyarakat.
Warga Cibunigeulis kini hanya berharap ada keadilan, dialog terbuka, serta tindakan nyata agar lingkungan mereka kembali aman dan layak huni.
Pemerintah pun dituntut hadir sebagai penengah dan pelindung kepentingan masyarakat, bukan sekadar penonton di tengah keresahan yang kian memuncak.
![]()
Penulis : Arrie Haryadi
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan