LAMPUNG SELATAN, MNP – Para pelaku usaha pembibitan benih udang vannamei (benur) di Dusun Pangkul, Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tengah menghadapi tekanan berat.
Harga jual benur yang terus merosot dalam beberapa waktu terakhir membuat banyak pengusaha kecil kesulitan menutup biaya operasional produksi (BOP), Senin (27/04/2026).
Salah satu pengusaha benur setempat, Moh Ali, mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi cukup drastis. Jika sebelumnya benur dapat dijual dengan harga sekitar Rp 30 per ekor, kini harga tersebut turun menjadi hanya Rp 22 per ekor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Penurunan ini sangat terasa. Dengan harga sekarang, kami nyaris tidak bisa menutup biaya produksi,” ujarnya saat ditemui di lokasi pembibitan di Dusun Pangkul.
Menurutnya, biaya operasional seperti pakan induk, listrik, tenaga kerja, hingga perawatan kualitas air terus meningkat. Namun, harga jual justru bergerak sebaliknya. Kondisi ini membuat banyak pengusaha benur skala rumahan berada di ambang kerugian.
Tidak hanya soal harga, para pelaku usaha kecil juga mengeluhkan persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan pembenihan berskala besar yang juga beroperasi di wilayah Lampung Selatan. Kehadiran perusahaan besar dinilai turut memengaruhi stabilitas harga di pasar.
“Kami ini usaha kecil. Ketika perusahaan besar menjual dengan harga rendah, kami tidak punya banyak pilihan selain ikut menurunkan harga, meskipun itu merugikan,” kata Moh Ali.
Para pengusaha benur di kawasan pesisir Lampung Selatan berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat. Mereka meminta adanya kebijakan atau intervensi yang dapat menjaga kestabilan harga serta melindungi keberlangsungan usaha kecil.
Beberapa harapan yang disampaikan antara lain penetapan standar harga minimum benur, pengawasan distribusi, serta dukungan dalam bentuk subsidi atau bantuan operasional.
Selain itu, mereka juga berharap adanya pembinaan dan perlindungan terhadap usaha kecil agar mampu bersaing secara sehat dengan perusahaan besar.
“Kalau tidak ada solusi, kami khawatir banyak usaha kecil yang gulung tikar. Padahal, usaha ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di sini,” tambahnya.
Situasi ini menjadi perhatian penting, mengingat sektor pembenihan udang vannamei merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat pesisir di Lampung Selatan.
Tanpa langkah konkret, penurunan harga yang berkepanjangan dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya produksi hingga melemahnya rantai pasok industri perikanan budidaya di daerah tersebut.
Pemerintah diharapkan segera turun tangan untuk mencari solusi yang berkeadilan, sehingga keseimbangan antara pelaku usaha kecil dan besar dapat terjaga, serta keberlanjutan sektor ini tetap terjamin.
![]()
Penulis : Jun
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan