Tasikmalaya, MNP – Istilah kemiskinan seringkali ditujukan pada kondisi ekonomi seseorang yang dinilai kurang mampu ataupun pada kondisi sosial bagi salah satu kota ataupun daerah.
Seperti halnya kota Tasikmalaya selama ini dijuluki sebagai kota termiskin di Jawa Barat, tentu saja predikat itu perlu bukti ataupun fakta.
Salah satu media menyatakan bahwa hasil riset IPDN dan Badan Pusat Statistik (BPS) pertahun 2021-2022 penduduk miskin kota Tasikmalaya masih mencapai angka 12,72 dan 13,13% dengan tingkat keparahannya masih pada 0,65% angka itu masih menjadi angka tertinggi di banding kota/kabupaten lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menyoroti hal itu ketua Umum DPP Gapura sekaligus Ketua Korda KMP Suta Nusantara Tasikmalaya Tatang Sutarman menyatakan, kalau melihat potensi masyarakat serta sumber daya lainnya.
Apalagi, Kota Tasikmalaya adalah daerah transit bagi kota/kabupaten disekitarnya, sehingga begitu banyak hal hal yang bisa dimotivasi dan diaktifkan agar menjadi sektor riil sebagai sumber perekonomian baik itu perdagangan, jasa, budaya, wisata dan pertanian.
“Sehingga faktor kemiskinan ini bisa diurai dan minimalisir, yang paling penting dalam penggunaan anggaran daerah harus diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Tatang Toke sapaan akrabnya ini, Senin (27/05/2024).
Selain itu, bagaimana supaya bisa keluar dari zona kemiskinan? maka yang sangat mendasar adalah Kota Tasikmalaya harus memiliki pemimpin yang memiliki kepedulian serta faham terhadap kondisi ekonomi masyarakat saat ini.
Apakah Sosok Viman sebagai jawaban dari masalah ini?
Menyikapi persoalan kemiskinan tentu saja banyak faktor yang melatarbelakanginya, salah satunya adalah tentang tanggung jawab pemerintahan terhadap stabilitas perekonomian sangatlah kurang.
Lantaran itu, besar harapan sosok Viman bisa melakukan perubahan dan terobosan untuk meningkatkan perekonomian Kota Tasikmalaya.
Karena dari sekian pigur yang ada, hanya Viman yang notabene calon kuat Wali Kota Tasikmalaya dari Partai Gerindra memiliki potensi membawa perubahan serta mampu membawa kota Tasikmalaya keluar dari predikat kota termiskin yang berkepanjangan.
“Untuk mendapatkan sosok itu, pemilihan kepala daerah di November 2024 nanti yang akan datang adalah momentum yang paling baik secara aturan dan sistematis,” pungkasnya.
Hal tersebut disampaikan oleh ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh indonesia (APPSI) DPD kota Tasikmalaya bapak H. Nandang Suryana.
Dia menyebut, terkait kemiskinan di kota Tasikmalaya harus melihatnya dari sisi regulasi yang ada di Pasar Cikurubuk, khususnya komoditi hasil produksi tani yang dipasarkan, sebagian besar bukanlah berasal dari kota Tasikmalaya melainkan berasal dari daerah lain.
Contohnya sayur mayur, Nandang menjelaskan, mayoritas didatangkan dari luar kota diantaranya Garut, Pangalengan, Jawa dan daerah lainnya. Bahkan ikan pun dikirim dari Cirata dan Cianjur, telur dari Blitar dan daging dari Australia, termasuk makanan ringan dari ciamis.
“Artinya uang dari kota Tasikmalaya dibawa keluar kota, jadi uang yang beredar/regulasi, Kota Tasikmalaya hanya keuntungan yang sangat kecil,” jelas pria yang merupakan kader Gerindra ini.
Ditambah lagi menjamurnya pasar modern Alfamart dan Indomart yang sampai ke pelosok kota Tasikmalaya, itupun sangat mengganggu terhadap daya jual di pasar tradisional dan pengusaha.
Pasalnya, keberadaan pasar modern itu seolah olah hanya membuat corong saluran uang dari kota Tasikmalaya untuk di bawa keluar kota.
“Saya berharap Wali Kota Tasikmalaya kedepan orang yang memang mampu membangun kebijakan pembangunan ekonomi yang berpihak kepada masyarakat banyak bukan hanya menguntungkan segelintir manusia saja,” tutupnya dengan penuh kecewa.
![]()
Penulis : Redaksi









Tinggalkan Balasan