Peneliti Leiden Belanda Datangi Galeri Prof Nurdin! Ungkap Jejak 90 Tahun UNSA dan Multikulturalisme di Makam Bontoala

Selasa, 15 September 2026 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kunjungi Galeri Prof. Nurdin Syahadat, Peneliti Belanda Bedah Arsip 90 Tahun UNSA Makassar

Kunjungi Galeri Prof. Nurdin Syahadat, Peneliti Belanda Bedah Arsip 90 Tahun UNSA Makassar

MAKASSAR, MNP – Semangat menelusuri sejarah tidak mengenal batas negara. Hal itu dibuktikan dengan kunjungan Saudara Louie Buana, seorang penulis dan Kandidat Doktor S3 Universitas Leiden, Belanda, ke Galeri Prof. Nurdin Syahadat, Universitas Sawerigading Makassar, pada Senin, 14

September 2026 pukul 12.00 WITA. Ia datang bersama Saudari Anna Asriani Muchlis, peneliti yang sebelumnya pernah mengkaji sejarah Universitas Sawerigading Makassar.

Kehadiran anak muda penuh semangat ini ke Galeri Prof. Nurdin Syahadat bukan tanpa alasan. Mereka ingin melihat langsung koleksi, arsip, dan data-data otentik tentang perjalanan sejarah Universitas Sawerigading, salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Kawasan Timur Indonesia.

Galeri yang menyimpan memorabilia pendiri kampus ini menjadi pusat rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami akar peradaban pendidikan di Makassar.

Di tengah diskusi yang hangat, Kepala Humas Universitas Sawerigading Makassar, Bapak Kamaruddin, menunjukkan salah satu temuan menarik dari arsip koran lama.

Dalam sumber tersebut tertulis bahwa cabang Universitas Sawerigading pada tahun 1957 telah berdiri dan berkembang.

“Ini menandakan bahwa perjalanan UNSA sudah sangat panjang, hampir 90 tahun eksis dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Pak Kamaruddin.

Fakta ini sontak membuat Louie dan Anna takjub. Yang tak kalah menarik adalah pembahasan tentang silsilah keluarga Prof. Nurdin Syahadat. Louie Buana dengan mata penelitiannya mengamati sebuah foto keluarga pendiri UNSA tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa istri dari Prof. Nurdin Syahadat memiliki darah keturunan Mamasa dan Toraja. Hal itu terlihat jelas mulai dari nama beliau hingga struktur wajah. “Ini bukti nyata bahwa sejak awal, UNSA lahir dari rahim keberagaman Sulawesi Selatan,” kata Louie.

Pukul 14.00 WITA, rombongan melanjutkan perjalanan ziarah sejarah ke makam Prof. Nurdin Syahadat. Meski cuaca sangat terik dan harus melewati lorong-lorong perkampungan, semangat mereka tidak surut sedikit pun.

Tekad untuk menapaki jejak sang pendiri kampus menjadi tenaga yang mengalahkan panasnya matahari Makassar siang itu.

Kunjungan ke makam di Bontoala memberikan pengalaman yang lebih dalam. Kawasan Bontoala yang dahulu dikenal sebagai markas orang-orang Bugis pada masa Arung Palakka, ternyata menyimpan narasi besar tentang multikulturalisme.

Makam Bontoala menjadi saksi bisu bagaimana berbagai etnis di Sulawesi Selatan hidup berdampingan dan akhirnya disatukan dalam satu peristirahatan terakhir. Keberagaman itu hidup, bukan hanya dalam buku, tetapi juga dalam batu nisan.

Sepulang dari ziarah, diskusi belum usai. Rombongan kembali ke kampus untuk berdiskusi bersama Prof. Melantik. Dalam pertemuan itu dibahas berbagai rencana dan gagasan lanjutan untuk pengembangan Universitas Sawerigading Makassar ke depan.

Ide-ide tentang penguatan pusat studi sejarah, digitalisasi arsip, dan kerjasama penelitian internasional dengan kampus seperti Leiden menjadi topik utama.

Kunjungan Louie Buana dan Anna Asriani ini menjadi bukti bahwa sejarah Universitas Sawerigading Makassar memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional.

Dari galeri yang menyimpan arsip 90 tahun, hingga makam di Bontoala yang memadukan keberagaman, semua adalah potongan sejarah yang menjadikan UNSA bukan hanya kampus, tetapi juga rumah peradaban.

Loading

Penulis : Maxi Sondakh/Rahmat Lamada

Editor : Redi Setiawan

Berita Terkait

Tekan Antrean Operasi Katarak, Primaya Hospital Group Kolaborasi Buka Baksos Operasi Gratis di RSUD Pasar Minggu
Kepedulian Sosial, CV Assalam Family Menyasar Lansia, Guru Ngaji hingga Anak Yatim di Bantarsari
CV Armey Jaya Mandiri Turun Tangan, Kakek 74 Tahun di Tawang Kini Punya Harapan Rumah Layak
Pura-Pura Pesan Ojol, Pria di Natar Dibekuk Polisi Usai Bawa Kabur Motor Maxim
Tanggapi Gelombang Penolakan, Owner Kings Family Karaoke: Asumsi Harus Dibuktikan Melalui Hukum
Pimpin DPC GAMKI Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi Fokus Konsolidasi Pemuda Lintas Komunitas
Tatap Indonesia Emas 2045, PMII STISIP Tasikmalaya Ingatkan Bonus Demografi Tak Cukup Sebatas Slogan
Bantu Kesehatan Masyarakat dan Gelar Verifikasi DPRt, NasDem Kota Tasikmalaya Targetkan Kursi Pemilu 2029

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 17:11 WIB

Tekan Antrean Operasi Katarak, Primaya Hospital Group Kolaborasi Buka Baksos Operasi Gratis di RSUD Pasar Minggu

Minggu, 1 November 2026 - 14:34 WIB

Kepedulian Sosial, CV Assalam Family Menyasar Lansia, Guru Ngaji hingga Anak Yatim di Bantarsari

Minggu, 1 November 2026 - 10:00 WIB

CV Armey Jaya Mandiri Turun Tangan, Kakek 74 Tahun di Tawang Kini Punya Harapan Rumah Layak

Minggu, 1 November 2026 - 09:48 WIB

Pura-Pura Pesan Ojol, Pria di Natar Dibekuk Polisi Usai Bawa Kabur Motor Maxim

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Tanggapi Gelombang Penolakan, Owner Kings Family Karaoke: Asumsi Harus Dibuktikan Melalui Hukum

Berita Terbaru