MAKASSAR, MNP – Semangat menelusuri sejarah tidak mengenal batas negara. Hal itu dibuktikan dengan kunjungan Saudara Louie Buana, seorang penulis dan Kandidat Doktor S3 Universitas Leiden, Belanda, ke Galeri Prof. Nurdin Syahadat, Universitas Sawerigading Makassar, pada Senin, 14
September 2026 pukul 12.00 WITA. Ia datang bersama Saudari Anna Asriani Muchlis, peneliti yang sebelumnya pernah mengkaji sejarah Universitas Sawerigading Makassar.
Kehadiran anak muda penuh semangat ini ke Galeri Prof. Nurdin Syahadat bukan tanpa alasan. Mereka ingin melihat langsung koleksi, arsip, dan data-data otentik tentang perjalanan sejarah Universitas Sawerigading, salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Kawasan Timur Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Galeri yang menyimpan memorabilia pendiri kampus ini menjadi pusat rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami akar peradaban pendidikan di Makassar.
Di tengah diskusi yang hangat, Kepala Humas Universitas Sawerigading Makassar, Bapak Kamaruddin, menunjukkan salah satu temuan menarik dari arsip koran lama.
Dalam sumber tersebut tertulis bahwa cabang Universitas Sawerigading pada tahun 1957 telah berdiri dan berkembang.
“Ini menandakan bahwa perjalanan UNSA sudah sangat panjang, hampir 90 tahun eksis dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Pak Kamaruddin.
Fakta ini sontak membuat Louie dan Anna takjub. Yang tak kalah menarik adalah pembahasan tentang silsilah keluarga Prof. Nurdin Syahadat. Louie Buana dengan mata penelitiannya mengamati sebuah foto keluarga pendiri UNSA tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa istri dari Prof. Nurdin Syahadat memiliki darah keturunan Mamasa dan Toraja. Hal itu terlihat jelas mulai dari nama beliau hingga struktur wajah. “Ini bukti nyata bahwa sejak awal, UNSA lahir dari rahim keberagaman Sulawesi Selatan,” kata Louie.
Pukul 14.00 WITA, rombongan melanjutkan perjalanan ziarah sejarah ke makam Prof. Nurdin Syahadat. Meski cuaca sangat terik dan harus melewati lorong-lorong perkampungan, semangat mereka tidak surut sedikit pun.
Tekad untuk menapaki jejak sang pendiri kampus menjadi tenaga yang mengalahkan panasnya matahari Makassar siang itu.
Kunjungan ke makam di Bontoala memberikan pengalaman yang lebih dalam. Kawasan Bontoala yang dahulu dikenal sebagai markas orang-orang Bugis pada masa Arung Palakka, ternyata menyimpan narasi besar tentang multikulturalisme.
Makam Bontoala menjadi saksi bisu bagaimana berbagai etnis di Sulawesi Selatan hidup berdampingan dan akhirnya disatukan dalam satu peristirahatan terakhir. Keberagaman itu hidup, bukan hanya dalam buku, tetapi juga dalam batu nisan.
Sepulang dari ziarah, diskusi belum usai. Rombongan kembali ke kampus untuk berdiskusi bersama Prof. Melantik. Dalam pertemuan itu dibahas berbagai rencana dan gagasan lanjutan untuk pengembangan Universitas Sawerigading Makassar ke depan.
Ide-ide tentang penguatan pusat studi sejarah, digitalisasi arsip, dan kerjasama penelitian internasional dengan kampus seperti Leiden menjadi topik utama.
Kunjungan Louie Buana dan Anna Asriani ini menjadi bukti bahwa sejarah Universitas Sawerigading Makassar memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional.
Dari galeri yang menyimpan arsip 90 tahun, hingga makam di Bontoala yang memadukan keberagaman, semua adalah potongan sejarah yang menjadikan UNSA bukan hanya kampus, tetapi juga rumah peradaban.
![]()
Penulis : Maxi Sondakh/Rahmat Lamada
Editor : Redi Setiawan










Tinggalkan Balasan