PEMALANG, MNP – Hiruk pikuk dan lalu-lalang ratusan warga berpadu dengan terik menyengat matahari ,Di tengah Alun -alun Pemalang,tampak sosok raksasa berwarna mencolok berdiri
Melenggak-lenggok tanpa henti ditimpali tetabuhan perangkat musik tradisional Betawi, itulah suasana pementasan Ondel-ondel, ikon budaya kebanggaan masyarakat Betawi.
Akan tetapi, pemandangan ini bukanlah bagian dari festival pesta rakyat, melainkan pemandangan pilu sekelompok orang yang mengais rezeki dengan cara mengamen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sangat mengiris hati melihat boneka setinggi dua setengah meter yang sarat akan nilai sejarah dan dipercaya sebagai penolak bala, kini harus mengais receh dari satu tempat ke tempat lain.
Bagi masyarakat Betawi, ondel-ondel adalah simbol penjaga kampung yang sakral dan agung.
Namun, kerasnya desakan ekonomi membuat kesenian jalanan ini bermigrasi jauh dari tanah kelahirannya di Jakarta, merambah hingga ke Kabupaten Pemalang di Jawa Tengah.
Para pengamen ini biasanya datang dalam kelompok kecil, membawa seperangkat pengeras suara portabel dan baju-baju adat seadanya.
Di bawah topeng boneka anyaman bambu itu, terdapat keringat mereka yang menggantungkan hidup pada belas kasih para pengunjung di Alun-alun Pemalang.
Bagi warga Pemalang Jawa Tengah, kehadiran ondel-ondel jalanan ini menjadi warna baru dalam seni pertunjukan rakyat.
Sedangkan bagi para perantau, ondel-ondel adalah napas perjuangan yang membawa keberuntungan rupiah,
Adalah Ergy (18) Seniman Muda dari Sanggar seni Zhapeng, kecamatan Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat, saat ditemui ketika sedang berkeliling untuk kebolehan bermain ondel ondel bersama 7 anggota keseniannya, saat mengamen di Pemalang.
Sebetulnya penampilan Ondel -ondel secara resmi atau berkeliling mengamen seperti ini, terancam kehilangan marwahnya jika terus-menerus harus terpapar panas dan hujan di jalanan.
Ia menambahkan, Terlepas dari perdebatan tersebut, kisah ondel-ondel yang mengembara sampai ke Jawa ini, tetaplah sebuah narasi ketahanan hidup.
“Kami tidak hanya membawa budaya Betawi menembus batas geografis, tetapi juga menjadi saksi bisu bagaimana sebuah tradisi harus beradaptasi demi mempertahankan eksistensinya di tengah kerasnya roda zaman, terpaksa kami mengamen sampai ke Jawa karena di Jakarta sudah banyak penampilan Ondel -ondel di jalanan,” ujarnya, Rabu (24/6).
Perjalanan ondel-ondel dari jalanan ibu kota hingga ke pesisir utara Jawa ini, mencerminkan dilema yang kompleks.
Di satu sisi, kehadiran mereka menuai kecaman dari para budayawan dan Pemprov DKI Jakarta yang tengah menyusun regulasi untuk melarang penggunaan ondel-ondel sebagai sarana mengamen agar marwah budaya tetap terjaga.
Namun di sisi lain, bagi para pelaku seni jalanan, mengamen adalah satu-satunya cara bertahan hidup di tengah sempitnya lapangan pekerjaan.
Kisah ini menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Diperlukan solusi nyata dari pemerintah setempat maupun pusat untuk memberikan pembinaan dan ruang panggung yang lebih bermartabat bagi para pelaku seni.
Jangan sampai, demi menyambung hidup, warisan luhur bangsa justru kehilangan identitas dan harga dirinya di mata generasi penerus.
![]()
Penulis : Ragil
Editor : Redi Setiawan









Tinggalkan Balasan